Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga : Tanggung Jawab Seorang Anak

Oleh : Enita Nuri D

Rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival atau JAFF ke-16 di tutup dengan salah satu film arahan Gina S. Noer berjudul Cinta Pertama, Kedua, dan Ketiga. Film ini mengisahkan karakter Radja yaitu seorang remaja yang berasal dari keluarga sederhana dengan 2 orang kakak perempuan, seorang Bapak dan nenek yang sudah pikun.

Radja, yang diperankan oleh Angga Yunanda merupakan karakter yang cukup ‘kolot’. Radja cenderung mencari hal aman dan bertolak belakang dengan sifat visioner sang Bapak yang diperankan oleh Slamet Rahardjo. Problematika yang terus dihadapi oleh keluarga Radja tidak lain adalah masalah ekonomi. Ditambah penekanan dari kakak-kakak nya membuat Radja tumbuh menjadi anak yang harus bisa diandalkan.

Radja hanya mementingkan kebahagiaan sang Bapak dengan mengesampingkan kehidupan nya sendiri. Hingga akhirnya mereka dipertemukan dengan sepasang Ibu dan Anak yang diperankan oleh Ira Wibowo dan Putri Marino, keduanya berprofesi sebagai guru tari. Tidak disangka sang Bapak menemukan cintanya di Kelas tari, begitu pun dengan Radja yang sebelumnya tidak pernah terfikir mengenai cinta.

Kehidupan Radja baru dimulai di usianya yang menginjak 25 tahun, ia memiliki keinginan untuk bekerja dan menjalani cintanya. Sebuah intrik cinta dalam keluarga dan suasana akan ekonomi yang sulit di film ini dibalut dengan kebahagiaan sederhana dan lantunan dansa antar karakter. Dengan memiliki open-ending membuat setiap orang yang menonton akan menafsirkan arti Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga ini berbeda dan meninggalkan kesan yang ‘personal’ di masing-masing penikmat film.

Pros

Film Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga merupakan representatif permasalahan sebagian besar keluarga di Indonesia. Berawal dari sang Bapak yang telah pensiun membuat Radja harus bertanggung jawab sebagai anak laki-laki, ia terpaksa memikul beban sebagai penerus tulang punggung keluarga sedari lulus SMA. Dia tidak bisa memulai hidupnya bahkan bekerja dengan pekerjaan tetap karena ada beban lain yang harus ditanggung, yaitu selalu siap datang ke rumah apabila sang Bapak atau nenek membutuhkan bantuan. Di Indonesia, anak laki-laki selalu diberikan tanggung jawab dalam permasalahan besar terutama yang menyangkut masalah ekonomi. Konsep generasi sandwich dan budaya patriarki yang masih kental menuntut untuk jadi dewasa. Penyelesaian masalah dalam film ini memang sudah seharusnya dilakukan oleh semua karakter terutama sang Bapak dan anak-anaknya. 

Cons

Perjalanan Radja menemukan Cinta Pertama, Kedua dan Ketiganya memang membuat penonton terbawa suasana. Namun, ada adegan yang secara subjektif terlihat sebagai bagian yang dipaksakan. Seperti pada saat Radja dengan tiba-tiba melamar karakter Asia di tempat tari. Padahal keduanya tau hal tersebut mustahil untuk dilanjutkan kedepannya, ditambah mereka pernah mendengar sang Bapak berbicara dengan nada yang cukup tinggi tentang masa depan dan sulitnya perekonomian keluarga.

Akhir kalimat, film ini menjadi angin segar dalam dunia perfilman Indonesia dengan memiliki latar belakang sebuah keluarga. Sinematografi yang ciamik, alur selaras, serta dialog dan konflik yang dapat dibawakan dengan humanis, menyadarkan penonton untuk selalu menghargai orang-orang disekeliling kita. Masing-masing karakter akhirnya sadar bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab atas dirinya sendiri dan dibarengi hidup berdampingan dengan manusia lain.

Film ‘Cinta Pertama, Kedua & Ketiga’ akan resmi dirilis bioskop seluruh Indonesia pada 6 Januari 2022 mendatang. 

Penyunting : Lulu Yahdini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *