Pembelajaran Tatap Muka : Tanggapan FPSB

oleh : Enjang Dwi Tuffahati & Mayca Afriana

Awal tahun ini terdengar kembali wacana mengenai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Universitas Islam Indonesia. Angket Survey Pengalaman dan Referensi Kuliah Daring Selama Pandemi pun mulai disebarkan pada awal bulan ini lewat laman gateway. Kabar mengenai Pembelajaran Tatap Muka di UII telah ramai diberitakan oleh beberapa media online seperti Kompas, Republika, serta Suara Merdeka. Pemberitaan tersebut menyebutkan bahwa UII akan segera melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka 100% pada bulan Maret 2022. Rektor UII Fathul Wahid yang diwawancarai mengatakan pihak universitas sedang mempersiapkan dan mengkaji ulang regulasi terkait PTM termasuk penerapan protokol kesehatan ketat selama masa perkuliahan.

“InsyaAllah kami sudah merencanakan semester depan kami akan semakin banyak yang luring,” pernyataan Rektor UII Prof Fathul Wahid dikutip dari Republika.

Rencananya PTM pada bulan maret 2022 akan diprioritaskan untuk mahasiswa baru yang hampir dua tahun belum mengunjungi kampus. Mengingat  sejak awal perkuliahan terdapat mahasiswa baru yang harus melaksanakan sistem perkuliahan secara daring (dalam jaringan). Selain persiapan regulasi dan protokol kesehatan yang ketat, pelaksanaan PTM 100% juga mempertimbangkan kesiapan tiap program studi untuk kembali menggelar PTM menjadi hal penting yang dipertimbangkan universitas.

Sebelumnya UII telah menggelar uji coba Perkuliahan Tatap Muka Terbatas (Dummy Learning Blended) atau Perkuliahan Hybrid pada bulan November-Desember 2021. Konsep ini diperuntukan bagi mahasiswa yang telah melaksanakan perkuliahan daring selama hampir kurang lebih dua tahun pasca pandemi Covid-19. Sebelum pelaksanaan uji coba kuliah hybrid, UII telah melakukan berbagai persiapan hingga studi banding ke universitas lain yang telah melaksanakan kuliah hybrid sebelumnya.

“Persiapannya cukup lama ya dan lebih lama di persiapannya daripada di uji coba nya. Dari persiapan gitu kita langkah awalnya adalah melakukan studi banding dengan universitas lain yang sudah melakukan perkuliahan hybrid, dari situ kita dapat beberapa masukan terutama terkait dengan fasilitas apa yang harus ada dan yang kedua terkait dengan bagaimana sih sebenarnya minat mahasiswa itu.” ujar Intan Pradita selaku Ketua Tim Persiapan Uji Coba Perkuliahan Tatap Muka FPSB UII (12/1)

Selain melaksanakan studi banding pada universitas lain yang telah melaksanakan uji coba perkuliahan hybrid, UII juga turut mempersiapkan sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam uji coba ini.

“Karena itu setelah studi banding kita juga coba mengundang beberapa vendor yang menyediakan fasilitas untuk perkuliahan hybrid, vendornya itu apa ya vendor yang terkait misalnya audio karena hybrid kan jadi pengadaan audio kemudian apa namanya alat-alat yang bisa sinkron satu sama lainnya antara laptop kemudian visual ya lcd-nya juga beda. Intinya kita undang berbagai vendor sampai termasuk mic ya mic mic clip on itu juga kita semua dan akhirnya di tahap uji coba itu kita sepakat untuk tidak membeli di satu vendor.” Sambung Intan (12/1)

Uji coba perkuliahan hybrid dilaksanakan dengan kapasitas maksimal 25 mahasiswa dalam satu kelas. Konsep ini ditujukan untuk menguji kesiapan universitas dalam pelaksanaan perkuliahan hybrid dan tatap muka. Dalam mengikuti Uji Coba Perkuliahan Tatap Muka Terbatas, mahasiswa diharuskan mengisi google form pendaftaran dan menyertakan beberapa dokumen persyaratan.  

“Pertama sih dimulai dari pendaftaran ya. Waktu itu pendaftarannya lewat form gitu, terus H-1 di masukin ke grup Whatsapp. Terus pokoknya suruh kita berangkat lebih awal gitu soalnya mau ada swab bersama gitu” (Haidhar, mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2020).

Menurut Haidhar uji coba perkuliahan hybrid yang telah dilaksanakan berlangsung secara interaktif. Di samping itu, kendala yang terjadi adalah ruangan yang digunakan terbuka sehingga sinar cahaya dari luar ruangan membuat silau materi pada layar proyektor. Ditambah dengan ruangan yang tidak ber AC sedikit membuat keadaan pembelajaran kurang nyaman.Intan Pradita selaku ketua tim pelaksana sekaligus dosen pengajar di uji coba perkuliahan hybrid ini turut menyampaikan kendala uji coba perkuliahan hybrid.

“Kendala terbesar adalah di audionya, jadi namanya audio tuh kan bekerja dengan baik kalau ruangannya kan kedap suara, namun dari SKB menteri itu nggak boleh kedap ruangannya, nggak boleh pakai AC, jendela harus dibuka meanwhile suara apa saja bisa masuk kaya suara tukang bangunan dan suara kendaraan. Padahal kita udah di lantai 3 jadi yang minim noise sebenarnya.” Ucap Intan Pradita

Berdasarkan pemaparan mahasiswa maupun dosen yang mengikuti uji coba tersebut, masih terdapat kendala teknis dalam pelaksanaan uji coba perkuliahan hybrid. Namun, kegiatan tersebut tetap berlangsung interaktif dan imbang antara mahasiswa yang mengikuti kuliah di kelas dan mahasiswa daring. Oleh sebab itu hingga saat ini UII masih  meninjau ulang regulasi, sistematika, serta protokol kesehatan yang akan diterapkan untuk pelaksanaan PTM. 

“Strategi mengatasi kendalanya ya setiap selesai perkuliahan hybrid itu panitia selalu rapat terus ya dan ada Forum Discussion Group (FGD) juga sama mahasiswa dari masing-masing prodi. Untuk dosen yang mahasiswa nya nggak datang sama sekali ya kita jadi nggak dapat feedback apapun dan itu sangat disayangkan“ Ujar Intan Pradita (12/1).

Meninjau pelaksanaan uji coba perkuliahan hybrid serta rencana PTM, sampai saat ini UII masih belum mengeluarkan statement atau pengumuman resmi. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Puji Hariyanti yang  menyampaikan bahwa Prodi Ilmu Komunikasi UII masih menunggu keputusan universitas.

“Berkaitan dengan pelaksanaan perkuliahan semester genap 2021/2022, kita semua, dalam hal ini prodi dan mahasiswa Ilmu Komunikasi UII, menunggu pengumuman resmi dari universitas” (15/01)

Seiring dengan Prodi Ilmu Komunikasi, FPSB UII juga masih belum memberikan informasi resmi maupun surat edaran terkait PTM 100% semester genap 2021/2022. Informasi terkait PTM akan diumumkan secara resmi oleh universitas. Kemudian FPSB UII akan mengikuti kebijakan tersebut. Pihak universitas sendiri sudah mengeluarkan SK bahwa pada pembelajaran semester genap ini akan dilaksanakan secara luring bagi angkatan 2020 dan 2021. Walaupun begitu diharapkan seluruh mahasiswa maupun tenaga pendidik perlu memilah informasi yang beredar. Terutama informasi yang tidak dapat dipastikan validasi kebenarannya. Selain itu beberapa informasi yang beredar juga harus dibaca dengan seksama agar meminimalisir miskomunikasi. Oleh sebab itu, diperlukan adanya kerja sama dari semua pihak untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang telah ada dan juga tidak turut serta menyebarkan informasi yang tidak valid.

Penyunting : Lulu Yahdini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *