Daur Ulang Kain sebagai Gerakan Perubahan

Oleh Rayhana Arfa 

Limbah fesyen masih menjadi hal yang sering terlupakan oleh masyarakat dan sifat konsumtif masyarakat meningkat terus-menerus. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang dengan mudah membeli pakaian baru ketika mendapat model yang menarik perhatiannya. Sifat konsumtif ini didukung dengan banyaknya pilihan seiring dengan perkembangan dan perubahan tren yang sangat cepat ditambah harga pakaian yang terjangkau.

Akan tetapi sifat konsumtif ini membawa pengaruh buruk bagi lingkungan sebab produksi tekstil yang tidak kunjung berhenti terus menyumbang 1,2 milyar tom emisi gas rumah kaca setiap tahunnya. Selain itu, dalam proses produksi sebuah kaos dari bahan katun memerlukan 2720 liter air atau setara dengan jumlah air minum satu orang selama 3 tahun. Tidak hanya kaos, dalam pembuatan satu celana denim sendiri membutuhkan 200 galon air setara dengan air yang kita gunakan untuk 285 kali mandi.

“Pada dasarnya, setiap pembuatan pakaian secara tradisional membutuhkan air yang cukup banyak,” ungkap Talitha dari SMM melalui wawancara via WA (4/6).

Tidak berhenti di situ, pakaian yang sudah tidak digunakan masih akan menjadi limbah dan diperbanyak dengan pakaian yang tidak terjual karena produsen fast fashion yang memproduksi terlalu banyak. Butuh waktu hingga 200 tahun untuk dapat menguraikan pakaian. Sedangkan 85% dari sampah tekstil akan dibuang ke TPA, laut, atau dibakar.

Seiring dengan tumpukan limbah fesyen dan sulit untuk dibendung, terdapat salah satu merek di dunia fesyen Indonesia yang memiliki metode berbeda dari yang lain. Sejauh Mata Memandang menghadirkan beberapa solusi untuk menyelamatkan bumi dari limbah fesyen. Beberapa di antaranya adalah meningkatkan kesadaran akan kerusakan lingkungan, memilih serat alami untuk tekstil, berbelanja lebih sedikit, membeli kualitas yang baik dan tahan lama, serta membeli produk yang memiliki konsep daur ulang. 

Sejauh Mata Memandang mengadakan pameran pada tanggal 6 Maret – 6 April 2021 lalu di Ashta District 8, SCBD, Jakarta Selatan untuk meningkatkan kesadaran konsumen. Terdapat dua bilik yang penuh dengan informasi terkait dengan limbah fesyen, satu bilik yang menjadi tempat meletakkan pakaian bekas pakai, serta satu lainnya berisi produk yang diperjual-belikan.

“Didesain agar masyarakat dapat mengerti mengenai kampanye yang kami angkat dari pokok permasalahan sampai ke solusi dan pilihan,” jelas Talitha 4/6.

Salah satu informasi yang diberikan telah membuka mata saya, bahwa sebenarnya 95% dari sampah tekstil yang terbuang itu dapat didaur ulang atau didayagunakan kembali menjadi benda berfungsi lainnya. Hal ini tentu akan mengurangi sampah tekstil yang terbuang atau terbakar begitu saja.

Pada salah satu bilik yang dijadikan tempat untuk meletakkan pakaian bekas pakai, saya tertarik dengan informasi yang ada di sana bahwa ternyata pendaur ulangan dilakukan dari kain menjadi benang yang kemudian ditenun.

Sejauh Mata Memandang bekerja sama dengan Pable Indonesia berhasil melakukan pendaur ulangan kain yang terbuang menjadi sesuatu yang baru. “Proses daur ulang dari limbah sampai menjadi benang baru bisa 2-3 bulan, karena proses pemilihan bahan baku dan sorting menjadi fase yang krusial. Sedangkan kalau dari benang menjadi kain dibutuhkan min 4 minggu tergantung dari kuantitas produksi,” jelas Aryenda selaku Founder & Creative Director Pable (15/4).

Dalam wawancara yang dilakukan via email (15/4), Aryenda menjelaskan lebih rinci terkait proses pendaur ulangan yang membutuhkan waktu cukup lama.

  1. Limbah tekstil dibedakan menjadi 2, Pre Consume dan Post Consume. Pre consume didapat dari kain perca sisa industri garmen, kain – kain yang over produksi dari pabrik. Sedangkan Post Consume didapat dari barang konsumsi sehari – hari, seperti pakaian, gorden, sprei, dll.
  2. Limbah kemudian dipisahkan menurut jenis bahan dan warna untuk menentukan warna benang yang ingin diproduksi
  3. Limbah dipotong dengan lebar min 5 cm agar dapat dicacah kembali di mesin cacah.
  4. Setelah tercacah, limbah akan dilembabkan dengan air untuk memperkuat seratnya, setelah itu akan diproses menjadi fiber. Fiber adalah raw material pertama yang bisa dihasilkan dari olahan limbah tekstil. bisa digunakan untuk filler kasur, bantal, boneka, atau sebagai pengganti dakron.
  5. Fiber kemudian dipintal menjadi gulungan – gulungan fiber, lalu akan masuk ke mesin pemintalan benang, sehingga output nya berupa benang dengan berbagai macam ukuran.
  6. Setelah benang jadi, barulah di bawa ke desa untuk ditenun menjadi kain siap olah.

Pihak SMM sendiri terus membuka tempat untuk mengumpulkan pakaian bekas pakai.

“Ya, untuk pengumpulan dapat dilakukan dengan mengirimkan pakaian ke kantor kami, pakaian sudah dipisahkan antara pakaian bekas layak pakai dan pakaian bekas tidak layak pakai. Dibungkus rapi dan menginfokan kepada tim kami untuk mengkoordinasikan pengiriman,” tambah Talitha (4/6).

Apa yang dilakukan SMM berhasil menarik perhatian saya karena sebelumnya belum ada yang menggunakan metode pengurangan limbah tekstil seperti ini. Hal ini dapat menjadi contoh untuk produsen tekstil lainnya dalam memperhatikan lingkungan. SMM juga memberi insight pada konsumen untuk lebih memperhatikan sifat konsumtif kita. Selain itu, ketika kita memiliki pakaian atau kain yang sudah tidak digunakan alangkah baiknya tidak kita buang begitu saja tetapi bisa kita salurkan untuk kemudian didaur ulang.

Kesadaran akan lingkungan harus terus muncul pada setiap individu. Kita tidak bisa hanya bergantung pada orang lain yang sudah melakukan perubahan karena kita juga sedikit banyak berperan dalam kerusakan lingkungan saat ini.


Penyunting: Citra Mediant


ukan-recycle-dan-upcycle?page=all

https://foto.kompas.com/photo/read/2020/2/17/1581948059356/1/limbah-industri-busana-ancaman-serius-bagi-lingkungan 

https://womantalk.com/fashion/articles/7-fakta-mengejutkan-di-balik-busana-harian-anda-xwqVD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *