“KogniSyiar : Belajar Bersama Ahlinya”

Ramadhan selalu hadir meninggalkan kesan tiap tahunnya, saat dimana orang-orang berlomba mengeksplorasi pemahaman tentang agama. Kognisia turut mengisi euforia ini dengan mengadakan diskusi yang mengkaji isu krusial terkait agama dan relasi kemanusiaan. Dibungkus ringan dengan media sosial sebagai podiumnya, acara yang bertajuk “KogniSyiar : Belajar Bersama Ahlinya” terbagi dalam tiga episode yang terlaksana di dua minggu terakhir bulan suci.

Miskonsepsi Pernikahan Dini

Membuka lembar pertama dengan topik miskonsepsi pernikahan dini. Sebuah upaya meluruskan salah paham ihwal nikah di bawah umur dengan dalih legalitas agama tanpa pertimbangan konsekuensi risiko aspek lainnya. Menghadirkan Nur Rofiah, seorang pakar tafsir Quran yang juga gencar menyuarakan keadilan gender. 

Hukum agama yang tidak spesifik menyebut batas usia sering jadi dalih semangat pernikahan dini, tanpa pertimbangan kesejahteraan hidup, kematangan reproduksi, kesiapan mental, bahkan mengesampingkan consent dari yang menjalani. Nur Rofiah mengungkapkan keprihatinan mengenai fakta bahwa jika terjadi prahara dalam pernikahan akibat ketidaksiapan tersebut, tak dapat dipungkiri kemalangan terbesar akan ditanggung pihak perempuan, sebagai pihak yang mengalami langsung proses reproduksi dan segenap bahaya risiko yang mengikuti.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejatinya pernikahan dalam islam berdasar pada asas kemaslahatan bersama bukan kontrak kepemilikan seperti yang terjadi pada budaya jahiliyah. Bukan hanya ikatan dua fisik, melainkan penyatuan dua jiwa.  Maka, perlu kedewasaan tidak hanya secara usia (baligh), melainkan juga kematangan mental (aqil baligh) sebagai aspek esensial dalam menjalani pernikahan yang sejahtera dan tidak berpotensi merugikan salah satu pihak.

“Dengan pendewasaan usia nikah, diharapkan tidak hanya laki-laki yang mandiri tetapi juga perempuan mandiri. Lalu menggunakan modal sosial kemandirian itu untuk kemaslahatan bersama” -Nur Rofiah

Kesimpulannya, agama tidak mendukung adanya pernikahan yang berpotensi merugikan salah satu pihak. Oleh karena itu, terjadinya pernikahan haruslah didahului pertimbangan matang. Tak lupa Nur Rofiah berpesan agar anak muda menikmati waktu sebaik mungkin untuk terus berkarya dan mencapai banyak hal. Masalah nikah nanti dulu, tentu akan datang masanya. 

Seri 2 – Perempuan Bukan Ladang Dosa

Agenda kedua dibersamai oleh Kalis Mardiasih, seorang penulis yang juga aktif mengumandangkan kesetaraan gender di berbagai platform. Masalah yang diangkat yakni soal stigma perempuan yang kerap dicap sebagai sumber fitnah. Mudah dikenai kata dosa, tiap aksi tubuhnya seolah serba salah.

Penyalahgunaan teks-teks agama guna mendiskreditkan peran perempuan telah menjadi lagu lama dan usang dalam tatanan bermasyarakat, seolah menjadi normal untuk menjustifikasi otoritas perempuan atas raganya sendiri di tengah masyarakat. 

Menjawab itu, Kalis menerangkan bahwa teks agama perihal batasan perempuan pada dasarnya ditujukan sebagai semangat perlindungan, dimana hal ini dipengaruhi pula oleh konteks budaya timur tengah zaman dulu. Sedangkan di masa kini, pembatasan itu menjadi tidak relevan jika berbuah doktrin polarisasi kodrat yang menekan tindak langkah para puan untuk berdikari. 

Ekspresi diri perempuan sering disalah artikan sebagai motif penarik perhatian orang lain, sedang tentu banyak dari mereka melakukannya untuk diri sendiri. Mulai dari penampilan, cara berpakaian, riasan, hingga bagaimana perempuan berkarya, sering dibenturkan dengan norma-norma bias. Salah pandang ini tentu berpengaruh besar terhadap kepercayaan diri perempuan untuk bebas berekspresi. Maka, dalam menyikapi hal tersebut Kalis berpesan : 

“Biarkan dirimu yang mendefinisikan dirimu sendiri.” Kalis Mardiasih

Tiap orang tentu punya definisi yang berbeda-beda terhadap diri kita, namun marilah teguh menjalani hidup berdasarkan nilai-nilai yang kita yakini sendiri.  Tetap percaya diri dalam melangkah, jangan sampai dihambat oleh jerat stigma. Lanjut Kalis, yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menciptakan energi yang menyenangkan dan mampu bermanfaat bagi semua orang.

Seri 3 – Halal bihalal : Untuk Apa Saling Memaafkan?

Setelah dua seri diskusi membahas problematika pelik yang cukup memikat tensi, diskusi ketiga dilangsungkan dengan topik yang lebih adem sebagai penutup sajian Ramadhan tahun ini. Mengingat hari raya semakin dekat

Topik yang dibahas tentu seputar lebaran. Indonesia punya tradisi tersendiri dalam memaknai diri yang kembali fitri, yakni halal bihalal. Momen saling maaf-memaafkan yang jadi hajat wajib tiap lebaran dikupas tuntas hakikat maknanya oleh Fahruddin Faiz, seorang ahli di bidang filsafat islam. 

Beliau memaparkan bahwa mampu memaafkan kesalahan orang lain sejatinya adalah damai bagi diri sendiri. Itulah mengapa ketika hari kita dikatakan kembali suci, saling memaafkan menjadi jalan untuk membebaskan diri dari angkara kesalahan. Baik dalam lingkup interpersonal antar manusia, maupun diri kita dengan sang pencipta.

Antara meminta maaf dan memberi maaf, keduanya sama-sama urgensial. Namun, sulitnya mengesampingkan ego membuat orang sulit meminta maaf lebih dulu atau memberi maaf pada orang yang dianggap bersalah. Situasi berat yang pernah terjadi, seringkali menjadi alasan untuk tidak memaafkan. 

Menanggapi hal ini, Fahruddin menekankan agar jangan terpaku pada kesalahan masa lalu. Antara maaf dan melupakan kesalahan adalah dua hal berbeda. Memang sulit untuk terlepas dari memori kelabu yang pernah terjadi, namun biarlah begitu sembari memberi maaf. Toh manfaatnya akan kembali pada diri yang berhasil berdamai dengan keadaan.

“Orang yang sadar salah kemudian minta maaf itu menunjukkan dia mulia sebagai manusia karena mau minta maaf. Apalagi orang yang disalahi kemudian mau memaafkan, menunjukkan dia lebih mulia lagi. Dua-duanya penting, yang penting masih tetap kita mau menghidupkan maaf-memaafkan” -Fahruddin Faiz

Demikianlah KogniSyiar mewarnai Ramadhan 2021. Besar harapan kami hadirnya kegiatan ini membawa manfaat bagi banyak orang, guna meluruskan pandang dan membuka jendela wawasan. Pun jika belum, setidaknya karsa ini pungkas tersampaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *