Prodi Komunikasi UII Buka Kelas International Program, Muzayin: “Kita ingin merambah level global ”

Foto: Dimas AA

(Kampus Terpadu, 21/01/2018) Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Universiitas Islam Indonesia (UII), berencana membuka kelas International Program (IP) pada penerimaan mahasiswa baru 2018 mendatang. Merespon rencana tersebut, komunitas Diskusi dan Penelitian Ilmu Komunikasi (Dispensi) UII menggelar diskusi terbuka yang berjudul, “International Program:  Kemajuan atau Ancaman?” hari Kamis (18/01/2017). Dalam diskusi tersebut, kepala Prodi Ilmu Komunikasi, Muzayin Nazaruddin hadir sebagai pembicara. Acara diskusi dihadiri oleh puluhan mahasiswa Ilmu Komunikasi dan beberapa dari jurusan lain.

Muzayin menuturkan, awalnya rektorat memberi tawaran untuk membuka kelas IP pada sejumlah Prodi. Setelah berpikir dan mempertimbangkan berbagai hal, Muzayin memutuskan menerima tawaran tersebut. Ia memiliki pertimbangan visioner dan praktis yang membuatnya optimis membuka kelas IP. Pertama, dari segi pertimbangan visioner, rencana membuka kelas IP ini selaras dengan cita-cita Prodi Ilmu Komunikasi UII yang ingin menjadi School Of Communication level Asia melalui budaya akademiknya.

“Kita ingin merambah level global tetapi melalui sistem, academic culture-nya, bukan melalui pemain bintang,” kata Muzayin.

Sedangkan dari segi pertimbangan praktis, dalam beberapa tahun ke depan, dosen-dosen Ilmu Komunikasi yang sedang menempuh pendidikan S3 di luar negeri akan kembali. Dengan adanya mereka, bagi Muzayin, mengajar dengan bahasa inggris bukan hal yang sulit. Selain itu, sebagian besar dosen Ilkom sering mengikuti konferensi internasional. Sehingga hal ini bisa semakin memacu mereka (para dosen) untuk lebih cepat mencapai visi Prodi, meski dalam segala keterbatasan infrastruktur.

“Anggap ini akselerasi dengan segala resikonya, saya yakin sebuah karya besar, sebuah monumen itu tidak pernah lahir tanpa mimpi sebelumnya, hanya kita mau menjadi pemimpi belaka atau menjadi seorang Yusuf yang bisa menerjemahkan mimpi menjadi gerak-gerak nyata,”ujar Muzayin.

Demi menyokong visi Prodi yang ingin melaju ke kancah internasional, beberapa produk dengan brand internasional pun telah dibuat. Muzayin menyebut diantaranya seperti, Conference on Communication, Culture and, Media Studies (CCCMS), jurnal, serta mengirim proposal kerjasama ke University Of Tartu di Estonia. Selain itu, Prodi Komunikasi juga berencana menyelenggarakan Student International Festival Film. “Untuk menuju jalur-jalur internasional, kita memang butuh brand-brand internasional semacam itu,” kata Muzayin. Sebelumnya, Prodi Komunikasi juga sudah menjalin kerja sama dengan Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) dan Chulalongkorn University, Thailand.

Namun, sebenarnya kelas IP Prodi Ilkom belum bisa dikatakan memenuhi kriteria International Program. Menurut Muzayin, untuk bisa memenuhi kriteria International Program, maka kurikulumnya mesti disesuaikan dengan keadaan yang lebih global, kemudian pengajarnya bertaraf  internasional, ada dosen dari negara lain yang turut mengajar, selain itu mahasiswanya juga berasal dari berbagai negara. Sedangkan IP yang akan dibuka oleh Prodi Ilmu Komunikasi, lanjut Muzayin, langkah awalnya masih menggunakan kurikulum yang sama dengan program regulernya, dengan staf pengajar yang sama, perbedaannya dengan kelas regurel hanyalah pada penggunaan bahasa Inggrisnya saja. Namun seterusnya, Muzayin mengatakan akan pelan-pelan menata kurikulum dan menyesuaikannya secara global.

“Saya tidak tahu kondisi eksisting beberapa Prodi UII yang sudah membuka IP, setahu saya yang terjadi di UII itu selama ini kelas yang diikuti oleh anak-anak Indonesia cuma berbahasa Inggris, ini juga kondisi umum di kampus-kampus Indonesia kecuali beberapa kampus yang mapan,” ujar Muzayin.

Kelas IP Prodi Ilmu Komunikasi hanya akan dibuka satu kelas saja pada saat penerimaan mahasiswa baru 2018 mendatang. Muzayin memperkirakan perbedaan dari segi pembayaran, baik SPP maupun Catur Dharma program IP, selisihnya lebih tinggi sekitar 5 juta dari program reguler.  “Kenapa SPP IP lebih mahal karena ada bridging program, kemudian dosennya juga lebih mahal dibayarnya, tapi teman-teman jangan lihat itunya,” kata Muzayin.

Di sisi lain, sebagian mahasiswa Ilmu Komunikasi merasa ragu dengan adanya kelas IP. Khalif Muhammad Madani (Alif) selaku mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2016 mengatakan khawatir dengan adanya kelas IP akan menyebabkan terjadinya kesenjangan antar mahasiswa di Ilmu Komunikasi. Selain itu, Alif juga mengkhawatirkan dinamika mahasiswa Ilmu Komunikasi di komunitas akan menemui masalah baru dengan adanya IP.

Menanggapi hal tersebut, Muzayin mengakui memang ada potensi segregasi budaya di antara keduanya (IP dan Reguler), namun ia akan berupaya mengatasinya. Mengenai komunitas serta dinamika akademik mahasiswa, Muzayin berkata bahwa setiap angkatan memiliki dinamika yang naik-turun secara kuantitas dan kualitas. “Itu problem yang akan selalu ditemui di setiap angkatan,” ungkap Muzayin. (Adelina, Nisa Cahyani, Dimas)*

*Reporter adalah Magang Kognisia 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *