Pondok Tetirah Dzikir ‘Tempat Bernaungnya Para Santri Pencari Jati Diri’

Oleh Marhamah Ika Putri

(22/12) Matahari tidak begitu menyengat di Yogyakarta-pun tidak ada tanda-tanda hujan akan datang. Siang itu pukul sebelas kami memulai perjalanan menuju panti rehabilitasi bernama Pondok Tetirah Dzikir. Berlokasi di daerah Berbah,  letaknya sedikit masuk ke dalam pedesaan, membuat waktu di perjalanan terasa cukup lama. Kami tiba di Pondok Tetirah Dzikir beberapa saat sebelum sholat dzuhur dilaksanakan. Ketika telah sampai di tempat tujuan, kami disuguhkan dengan pemandangan sawah membentang, terlindung oleh pepohonan bambu sehingga membuat sekitaran Pondok Tetirah Dzikir terasa sangat menyejukkan. 

Beberapa orang berlalu lalang, suasana tenang dan nyaman karena jauh dari hiruk-pikuk jalanan kota. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari arah masjid yang letaknya persis di tengah pondok. Setibanya di sana sejenak kami beristirahat di pendopo, terletak tidak terlalu jauh dari masjid. Suasana sekitaran pendopo sungguh asri, karena dikelilingi oleh persawahan dan terlihat beberapa petani sedang memotong padi yang buahnya sudah mulai menguning. 

Seusai sholat, seluruh ‘santri’ dan pengurus pondok melakukan dzikir dengan durasi waktu cukup lama. Menurut cerita seorang teman, dzikir menjadi salah sa`tu jurus ampuh diterapkan di pondok untuk menjadi penenang hati bagi para santri. Selang satu jam berlalu, Tri; atau biasa dipanggil dengan sapaan Kyaisekaligus pendiri pondok, mendekati kami. Beliau mendekat ke arah pendopo dan menyapa kami satu persatu, kemudian mempersilahkan kami untuk duduk. Tri yang merupakan lulusan perguruan tinggi di Yogyakarta.

“Wah ini teman-teman mahasiswa semua, yah? Alhamdulillah, saya senang kalau ada mahasiswa berkunjung ke sini”, ucap Kyai sebagai pembuka pembicaraan. Siang itu ia menggunakan sarung berwarna ungu, dengan setelan kemeja berwarna kuning muda, dan tak lupa peci ia kenakan. Percakapan mengalir dengan hangat, beliau dengan senang hati menjawab semua pertanyaan yang kami ajukan, bahkan ia bercerita secara rinci tentang bagaimana dan apa alasan beliau mendirikan Panti Rehabilitasi “Pondok Tetirah Dzikir”.

Menurut penjelasannya perjalanan itu bermula pada tahun 1995. Selepas lulus dan mendapatkan gelar sarjana, beliau melamar pekerjaan ke beberapa tempat yang tidak satupun lolos. “Waktu itu, saya mikirnya sudah mengeluarkan biaya sekian, menghabiskan waktu untuk bersekolah, namun setelah lulus malah gini. Dari situlah pergolakan batin dimulai, ‘apakah saya masih pantas untuk hidup?’, ‘saya merasa tidak berguna’, dan lain sebagainya.” Ungkap Kyai.

Akibat pergolakan batin yang berlangsung dalam waktu cukup lama inilah membuatnya menjadi sedikit goyah. Ia bahkan mengaku hampir ingin dimasukkan ke rumah sakit jiwa dari pihak keluarga karena gejala depresi ini. 

“Ketika waktu ingin dimasukkan ke rumah sakit jiwa, saya berpikir, ‘wah ini bisa gawat’, soalnya ada keluarga saya pada saat itu juga dimasukkan ke rumah sakit jiwa, pas masuk malah jadi gila beneran. Oleh karena itu, saya mencari alternatif lain untuk menenangkan pikiran. Waktu itu terpikir satu hal, saya harus masuk pesantren, mondok.” ungkap Pak Kyai. 

Siang itu hampir sekitar dua jam lebih hingga menjelang sholat ashar kami berbincang bersama Kyai. Beliau menceritakan awal mula mendirikan pondok pada tahun 2001, dengan santri pertamanya merupakan tetangga sendiri dan dititipkan kepadanya. Metode yang dipakai oleh Kyai tidak macam-macam, hanya diajak berdzikir, mandi taubat, sholat, dan lain sebagainya. 

“Alhamdulillah, santri ini 40 hari sembuh. Saya aja kaget waktu dia sembuh, kok bisa secepat ini ya?” 

Ia bercerita santri pertamanya sembuh hanya dalam kurun 40 hari. Hal ini membuat Kyai bertekad untuk membuat sebuah pesantren bagi mereka yang pernah mengalami fase sebelumnya juga ia lalui. Mulai dari situlah, awal mulanya Kyai memberanikan diri untuk mendirikan Pondok Tetirah Dzikir, dengan jumlah santri sekitar 20 orang. Di sisi lain ia tidak pernah memungut biaya apapun dari santri-santri di dalam pondoknya. Ia percaya, bagi mereka yang mempermudah urusan orang lain, akan dipermudah pula urusannya dengan Yang Maha Kuasa. 

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa tidak ada dana pemerintah mengalir dalam sistem keuangan pondok. Semuanya murni dari sumbangan, wakaf bagi mereka yang menitipkan keluarganya di pondok, hingga informasi dari sosial media. 

“Ya karena itu juga, pondok ini tetap masih bisa beroperasi hingga 20 tahun lamanya” ujar Tri. 

Pembicaraan terus berjalan, Tri bercerita panjang lebar mulai dari berbagai macam alasan orang-orang bisa menjadi santri di tempatnya, karakteristik masing-masing individu, dan lain sebagainnya. Alasan para santri masuk ke pondok pun beragam, ada karena patah hati ditinggal menikah pujaan hati, terlalu pintar, menjadi korban perundungan, dan lain-lain.

Waktu sholat ashar hampir tiba, ia meminta izin untuk mempersiapkan diri sebelum sholat ashar berjamaah. Ia juga mempersilahkan kami untuk menelusuri pondok bagian belakang, tempat para santri yang sedikit ‘liar’ berdiam diri. Kami ditemani oleh mas Berry, salah satu pengurus tetap pondok. Ia mengajak kami untuk melihat para santri yang sengaja dipisah dari santri lainnya karena alasan keselamatan. 

Berry sudah menjadi pengurus di pondok dari tahun 2017. Menjadi pengurus dengan jumlah santri lebih dari 100 orang bukanlah suatu pekerjaan mudah. Butuh ketelatenan dan mental kuat untuk bisa berhadapan dengan sekian banyak santri dengan latar belakang, karakteristik, dan perilaku berbeda yang menyebabkan mereka menjadi berbeda dari biasanya.

“Di Pondok itu pengurusnya cuma beberapa, bahkan gak nyampe 10. Kita juga dibantu dengan para ‘santri’ yang sudah sembuh untuk ikut mengurus dan mengabdi di sini sebelum pulang ke tempat asal.” ucapnya.

Sembari bercerita, kami diajak untuk menengok para santri di dalam kerangkeng. Tempat kerangkeng para santri sendiri tidak seperti yang ada dalam bayangan, karena untuk tempatnya sendiri itu seperti satu ruangan dan diisi oleh beberapa santri di dalamnya.

“Jadi ini mereka dipisah, tidak secara acak dimasukkan dan satukan dalam satu ruangan. Kita juga melihat kondisi mental mereka dan perilaku, apakah jika disatukan dengan santri lainnya bisa mengancam keselamatan atau tidak.”

Tempat kerangkeng sendiri berada di bagian paling belakang pondok. Terdapat beberapa ruangan dan masing-masing terdiri dari 2-5 orang santri. Ia juga menjelaskan ketika para santri yang di kerangkeng ini terlihat sudah tenang, mereka akan dikeluarkan dan dibiarkan bebas untuk bergabung dengan para santri lainnya.  Selain itu, ia juga bercerita rata-rata paling cepat untuk para santri bisa ‘sembuh’ itu memakan waktu dua tahun. Ada juga santri yang hingga akhir hayatnya berada di pondok.

Melihat kondisi para santri yang di kerangkeng sungguh miris rasanya. Berry bahkan mengaku ada santri yang dulunya merupakan seorang profesor dan sudah menerbitkan buku, namun entah karena apa malah menjadi depresi dan ikut menjadi santri di sini. Dengan pandangan mata yang kosong, berbicara dan berteriak tanpa ada alasan, sungguh memilukan ketika bisa melihat secara langsung dengan mata sendiri. 

Sore itu kami habiskan untuk mengulik cerita tentang pondok dari Mas Berry. Mulai dari santri yang kabur dari pondok, minimnya tenaga kerja sebagai pengurus, kegiatan yang biasa dilakukan, dan lain-lain hal. Ia juga menjelaskan kegiatan rutin para santri, salah satunya dengan mengajak santri dengan kondisi aman, berjalan santai di sekitaran desa setiap hari Sabtu. Hal ini dilakukan untuk memberikan udara segar kepada para santri yang tidak bisa kemana-kemana dan hanya berdiam diri di pondok. 

“Ya idealnya, sih, tiap hari ya, karena mereka ini sebenarnya butuh untuk melakukan hubungan sosial dengan manusia lainnya. Tapi karena keadaan, kurangnya pengurus, juga sulit untuk dijalankan.” Lanjutnya.

Berry memiliki harapan bahwa banyak orang bisa memberikan bantuan untuk menjadi relawan di pondok. Pertolongan dari relawan sangat membantu para pengurus yang ada di pondok ketika melakukan tanggung jawabnya. Karena pada dasarnya, para santri ini membutuhkan teman untuk bercerita, berkeluh kesah, mereka butuh telinga untuk bisa  mendengar cerita mereka. 

Tak terasa, waktu berjalan dengan cepat. Adzan berkumandang dari arah masjid, dan kami semua kembali ke bagian depan pondok untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Sebelum pamit, kami sekali lagi menyapa dan menemui Kyai selepas sholat ashar. Ia berpesan bahwa kami bisa datang bermain ke pondok kapan saja, untuk menyapa para santri yang ada di sana. 

Kunjungan ke Pondok Tetirah Dzikir terasa sangat membekas di hati. Membayangkan semua fase perjalanan hidup dari masing-masing santri membuat hati terasa pilu. Entah apa yang sudah mereka alami sehingga menyebabkan mereka menjadi seperti saat ini. 

Sebelum benar-benar pamit, kami menyapa para santri yang sedang duduk bersantai. Melihat raut wajah mereka ketika disapa membuat hati terasa hangat. Hanya dengan disapa, mereka terlihat sangat bahagia. Satu hal yang paling membekas, Kyai mengatakan, bahwa mereka yang sedang berada di fase ini sebenarnya tidak membutuhkan obat, masuk ke rumah sakit jiwa, dan lain sebagainya. Mereka butuh untuk didengar, mereka tidak butuh diperlakukan seperti sedang mengidap penyakit berbahaya, sehingga harus dikurung, bahkan mungkin untuk sepanjang hayatnya. 

Tri sudah membuktikan, para santri di Pondok Tetirah Dzikir. Mereka yang ada di pondok tidak pernah diperlakukan seperti orang berkebutuhan khusus. Karena pada dasarnya, mereka semua hanyalah manusia biasa yang sedang ‘tersesat’. Mereka perlu dibimbing untuk bisa kembali ke jalannya masing-masing, dengan cara menemukan jati diri dan tujuan hidup mereka. 

**

Penyunting: Citra Mediant

Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *