Menyusuri Perkembangan Rilisan Fisik Di Record Store Day 2022

Oleh: Enjang D. Tuffahati dan Haidhar F. Wardoyo

Seiring dengan kemajuan zaman, rilisan fisik akhir-akhir ini dilihat sebagai instrumen dalam industri musik tanah air yang mulai pudar eksistensinya. Bukan tanpa alasan, kemudahan akses teknologi termasuk revolusi dari era analog ke era digital secara tidak langsung mengubah cara manusia dalam menciptakan dan menikmati musik. Hal ini yang kemudian membuat kami ingin mengetahui lebih banyak, dengan menyusuri pagelaran yang menyajikan perkembangan rilisan fisik secara nyata, yakni Record Store Day (RSD).

Menilik sejarahnya, RSD merupakan perayaan rilisan fisik yang diinisiasi oleh kelompok pemilik toko musik di Amerika Serikat pada tahun 2007. Berangkat dari keresahan para pemilik toko rilisan musik, RSD kini menjadi acara tahunan bagi pecinta musik seluruh dunia yang dirayakan setiap tanggal 21 April. 

Pagelaran Record Store Day di Indonesia

Record Store Day sendiri telah hadir di Indonesia sejak tahun 2013. Berlangsung sejak sembilan tahun lalu, kini RSD telah tersebar di beberapa wilayah, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, Bogor dan beberapa daerah lainnya. Sabtu lalu (23/04), kami menyambangi pagelaran RSD di Yogyakarta yang diselenggarakan selama tiga hari, mulai tanggal 22 hingga 24 April 2022.

Penampilan di Record Store Day

Atrium Hall Lippo Plaza Yogyakarta menjadi tempat terselenggarakannya RSD 2022 dengan diramaikan oleh 20 toko rilisan fisik. Pada tahun 2020, perayaan ini sempat ditiadakan seiring dengan maraknya persebaran Covid-19. Kemudian pada tahun 2021, RSD diadakan meskipun dalam lingkup yang kecil dan terbatas. Tahun ini RSD kembali diadakan seperti sedia kala, tentu dengan diiringi protokol kesehatan yang ketat.

Di tengah perhelatannya, kami menyambangi Harri Prakosa, salah satu penggiat RSD di Yogyakarta sekaligus pemilik toko rilisan fisik yang turut berpartisipasi pada pagelaran ini. Harri menjelaskan bahwa ada banyak sekali perbedaan antara penyelenggaraan RSD pada masa pandemi dan sebelum pandemi.

“Masih suasana pandemi jadi antusiasmenya masih belum kembali seperti semula. Terakhir itu kan ramai di tahun 2019, pelan-pelan kita sedang menuju ke sana. Mudah-mudahan ini berkelanjutan lagi di Record Store Day tahun depan, begitu terus selanjutnya sampai menemukan titik kesenangan dan kemeriahannya kembali seperti dulu,” ujar Harri (23/04).

Harri juga membawa berbagai macam produk rilisan fisiknya untuk dijajakan seperti CD, kaset, buku, kaos, dan beberapa merchandise. Ketika ditanya ihwal vinyl atau piringan hitam, Harri menjelaskan bahwa stoknya ada, tetapi karena keterbatasan pengangkutan jadi tidak dibawa. “Kebetulan koleksi lama masih ada beberapa yang dibawa, tapi stoknya tipis. Stok baru ada dari Temaram, Mad Madmen, Impromptu, sama Morfem juga.”

Lain toko lain produk, kami menyoroti ada banyak pemutar musik yang turut serta dijajakan seperti walkman dan discman. Selain itu, ada juga toko yang memang secara spesifik menjual piringan hitam atau baju musik saja. Panggung musik di bagian terdepan pagelaran menjadi komponen pendukung yang pas, menambah kemeriahan perayaan ini dengan menyajikan penampilan dari berbagai musisi.

“Ini salah satu cara bertemunya penjual dan pembeli secara langsung dan bisa jadi ajang untuk memperkenalkan band lokal lewat rilisan fisiknya. Selain itu, rilisan fisik itu abadi dan nggak kemakan waktu.” Pungkas Harri.

Antusiasme Penggemar Masih Cukup Tinggi

Kami menyusuri beberapa toko di mana kami bercakap dengan beberapa penjual dan pengunjung. Salah satu pengunjung yang kami temui di pagelaran ini, yaitu Bintang menjelaskan bahwa dia datang karena memang mencintai musik. Bintang juga menjelaskan bahwa esensi belanja rilisan fisik di masa pandemi agak kurang karena tidak ada interaksi yang menyertainya, sehingga dia memutuskan untuk datang.

“Sebenernya pengen ngerasain aja suasananya kayak gimana, apalagi semenjak pandemi kan beli rilisan musik tuh online terus dari marketplace,” sambung Bintang (23/4).

Pengunjung yang datang pun ternyata cukup beragam dan tidak hanya dari kalangan dewasa saja. Kami kemudian bertemu Dimas, pelajar yang saat ini masih duduk di bangku SMP. Sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa ada pelajar SMP yang datang ke RSD, mengingat stigma yang menyelimuti pengunjung pagelaran ini sebatas pecinta musik dan orang dewasa.

“Awal taunya dari postingannya Grimloc (label rekaman dari Bandung), terus aku cek ternyata ada Record Store Day di Jogja juga. Terus awalnya juga cuma pengen liat-liat aja sih, kayak pengin tau seperti apa si orang-orang yang antusias sama musik dan rilisan fisik.” Jelas Dimas (23/04) perihal antusiasmenya untuk datang ke pagelaran RSD.

Akhir kata, dinamika yang menyertai industri musik seperti revolusi dan evolusi tidak serta merta membuat rilisan fisik hilang. Eksistensi pagelaran Record Store Day yang  konsisten diadakan setiap tahun membuktikan bahwa pasarnya memang masih ada. Harapannya, RSD dapat terus diadakan setiap tahunnya agar rilisan fisik tetap eksis. Sebab, selain menjadi wadah untuk proses jual beli, pagelaran ini juga mempertemukan individu-individu yang berkecimpung dalam industri musik. Pengunjung, penjual, dan musisi tidak hanya berbisnis, tetapi juga dapat berinteraksi dan bergumul dalam satu kegemaran yang sama.

Peyunting : Lulu Yahdini & Aurelia Twinka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *