Rohim & Sufi: Tragedi Non-Maritalisasi di Benua Arab

“Allah turunkan agama ini agar manusia tetap jadi manusia ketika jatuh cinta. Bukan hewan yang bebas berekspresi. Mau kan tetap jadi manusia?” –

Demikianlah penutup surat dari Rohim.

Sofi berdiam, tak berkutik tatkala kalimat itu tertuliskan di surat Rohim padanya. Beberapa waktu lalu, Sofi tengah bersedih, tatkala dititahkan oleh sang empunya kuasa, bahwa mereka takkan menerima Rohim bila dirinya belum bisa menguasai bahasa Arab. Sang empunya kuasa ingin menantunya menjadi penuntun yang lihai. Menjadi keluarga yang besar dalam ahli. Dan bahasa Arab adalah kuncinya.

Memang, sang empunya kuasa pun juga tak mau putri kesayangannya terus tertahan karena alasan menantu belum bisa bahasa Arab. Namun apa hal, penguasa dari sang empunya kuasa, inginkan semua rakyatnya supaya bisa berbahasa Arab. Sultan Ali Thoha, penguasa negeri itu, berpandangan bahwa kesultanannya takkan maju bila masyarakatnya tak menguasai bahasa Arab. Sekarang dunia sudah dalam zaman kekhalifahan, ilmu pengetahuan semua tertulis dalam bahasa Arab, dan ajang internasional untuk bersaing secara ekonomi tengah bergengsi. Sultan Ali Thoha tidak ingin kesultanannya tertinggal dari kesultanan lainnya. Sebab, telah dikenal skala internasional bahwa kesultanannya berada di barisan dunia ketiga; yakni kesultanan yang penghasilan pertahunnya masih begitu rendah. Kekuatan moneternya tak kuat. Hutang melilit. Angka pengangguran mencuat. Hingga angka bunuh diri pun meningkat.

Tak hilang akal, akhirnya Sultan Ali Thoha mengeluarkan dekrit kesultanannya: bahwa semua pelamar dan yang dilamar dari urusan domestik dalam hubungan marital, haruslah semua pandai berbahasa Arab. Bila tidak demikian, sebagaimana tertulis di pasal kedua dekritnya, maka calon pelaku dari urusan marital tersebut akan dikenakan hukuman penjara setidak-tidaknya minimal 2 tahun, dengan denda berupa 50 dinar. Kebijakan tersebut dirasa cocok, mengingat pertimbangan berat bahwa: pelaku penyatuan hubungan marital yang belum berbahasa Arab, 47% dari mereka jatuh pada perpisahan. Hal itu disebabkan permasalahan ekonomi akibat tidak bisa memasuki lapangan kerja yang membutuhkan bahasa Arab sebagai kriteria persyaratannya. Pun bila tidak demikian, diyakini bahwa 12% perpisahan tersebut juga disebabkan faktor psikologis antar pelaku hubungan marital yang belum matang. Atas pertimbangan itu, Sultan Ali Thoha melangsungkan saja supaya calon pelaku hubungan marital menunda maksudnya terlebih dahulu; agar utamanya mempelajari bahasa Arab hingga sekian tahun lamanya, syukur-syukur dengan tahunan itu menempa psikologis menjadi lebih dewasa.

Saat Rohim mengirimkan surat itu kepada Sofi, Rohim tahu bahwa yang bersedih dari insiden itu bukan hanya dirinya, melainkan juga Sofi. Oleh sebab itu, ia lalu melanjutkan, “InsyaAllah ana akan datang kembali kepada Sofi. Sofi akan menjadi gadis paling pertama yang akan ana datangi tatkala ana sudah menjadi pakar bahasa Arab nanti. Dan semoga Sofi juga menjadi gadis paling terakhir yang akan ana datangi kelak. Tenanglah, Sofi. Semoga Tuhan membantu kita.” Kalimat yang tertulis sebagai catatan kaki itu, melunturkan sendu sang Sofi. Bulir bahagia mengalir tanpa Sofi sadari. “Baiklah, akh Rohim. Biarlah waktu yang akan menjadi saksi bagi kita nanti, semoga Allah memberkati,” lirih Sofi, mengucap seorang diri.

Dengan adanya kebijakan Sultan Ali Thoha, masyarakat pun berupaya keras menempa diri supaya bisa berbahasa Arab. Jika tidak, maka mereka akan menjadi pengangguran. Mereka rela menggelontorkan dana untuk masuk kuliah sarjana. Ada dari mereka yang mengejar jurusan S1 Teknik Bahasa Arab, supaya kelak bisa menjadi insinyur bahasa Arab yang konon digaji 220 dinar per bulan. Ada juga yang mengejar D3 Psikologi Bahasa Arab, supaya bisa menjadi psikolog bahasa Arab yang digaji 1700 dinar per tahun. Atas meningkatnya minat masyarakat untuk mempelajari bahasa Arab, akhirnya sivitas perkampusan pun membuka lebih banyak jurusan dengan minat yang serupa; seperti S1 Kesehatan Bahasa Arab, S1 Bioteknologi Bahasa Arab, D3 Akuntansi Bahasa Arab, dan lain sebagainya.

Rohim sendiri mahasiswa S1 Perpajakan. Lengkapnya, S1 Perpajakan Bahasa Arab. Sedangkan Sofi merupakan mahasiswi D3 Hukum Bahasa Arab. Awal mereka bertemu, sungguh tiada tercerita dari mereka. Namun, bila diinterpolasi dari isu sekitar, sang Rohim ialah panitia penyambutan mahasiswa, yang menjadi pembina sekumpulan mahasiswa-mahasiswi baru. Dan kebetulan, Sofi adalah salah satu mahasiswi yang dibinanya. Di situlah mereka tidak sengaja bertemu.

Sofi teringat, bahwa Rohim sebelumnya pernah bercerita bahwa yang seperti mereka ini bukan hanya dia dan Rohim saja. Namun lebih daripada itu, ada yang lain. Ada gadis yang coraknya lebih kuat daripada dirinya, juga menggantung harap supaya bisa bersama akh-nya yang bernama Rahman. Rahman dan si gadis itu terbilang aktif menjadi jihadis di medan perang. Si akh Rahman menjadi pasukan pemegang kavaleri, sedangkan si gadis menjadi seorang paramedis yang telah membantu banyak jiwa yang hampir-hampir syahid. Namun, antara mereka ini, kisahnya lebih tragis. Si akh Rahman dituntut harus lulus S2 Penerbangan Bahasa Arab, baru dibolehkan untuk menyatukan hubungan marital. Padahal, akh ini tidak tertarik dengan akademik. Ia lebih tertarik pada pembelaan umat Islam melalui kavalerinya. Malangnya, tatkala tahun berlalu, harap yang mereka cari tetiba hampir putus. Sebab si akh ini ternyata mengidap penyakit langka. Akibat terlalu keras belajar bahasa Arab, organ tubuhnya berdegup-degup seirama qolqolah bahasa Arab. “Bagaimana jika salah satu dari kita meninggal dahulu, sedang kita belum juga termaritalkan. Apakah di Surga nanti kita bisa bersatu?” tangis sang gadis paramedis ini, saat awal mendengar kabar itu.

Ada lagi orang-orang lain, yang akh-nya ini harus mengumandangkan rasa sedih di hati, kala tahu tiadanya mampu bagi diri untuk pandai berbahasa Arab dalam waktu dekat. Ia yang disenangi dan menyenangi seorang ukhti berperangai manis, dituntut oleh empunya kuasa untuk menyelesaikan studi bahasa Arabnya terlebih dahulu. Akhirnya, karena begitu lamanya, akh ini pupus harap, dan ia pun mundur. Hingga satu titik, akh ini berpikiran untuk menghilangkan rasanya itu. Ia sampai mendatangi syaikh yang tahu tentang urusan hati. Syaikh itu pun berkata, “Itu adalah penyakit al-Isyq. Itu penyakit hati. Ibnul Qoyyim menyebutkannya dalam kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa’. Cara menghilangkannya adalah melupakan ukhti itu. Hapus segala hal yang berkaitan dengan dia. Jangan lagi berurusan dengan dia. Dan perbanyaklah puasa.”

Seingat Sofi, Rohim lalu memberikan analisa. “Sofi, menurut ana persoalan-persoalan ini bukan sekadar salah si lelaki dan perempuannya saja. Rasa suka itu fitrah. Manusia itu wajar menyukai lawan jenis. Sang empunya kuasa pun sama saja, mereka juga saling menyukai pasangan mereka,” jelas Rohim. “Sebab, persoalan ini terjadi bukan hanya pada satu atau dua orang saja. Itu terjadi pada sekian banyak orang. Dan kita tahu, secara logis, jika suatu persoalan terjadi pada banyak sekali orang, artinya bisa jadi bukan orang-orang itu yang bermasalah. Melainkan ada hal lain yang menyebabkan orang-orang itu jadi mendapatkan masalah.”

Begini: kita tidak bisa lagi menyalahkan mutlak kepada lelaki dan perempuannya saja. Benar, bahwa mereka itu pelaku. Namun mereka itu juga korban. Mereka menjadi seperti itu pun bukan tanpa sebab, bukan juga yang dicita-cita. Andai saja ditanyakan kepada mereka, maukah kalian seperti ini, bisa jadi beberapa dari mereka akan menjawab tidak menginginkannya. Mereka digiring oleh lingkungan sekitar untuk menyukai lawan jenis yang mereka temui. Lingkungan seakan berkata: kamu lihat kan orang di depanmu itu? Nah, ayo sukai dia!

Namun, tatkala si lelaki dan perempuan mengikuti  anjuran lingkungan itu, lingkungan jugalah yang mengelak: ya tahan, atuh! Kalo suka, jangan disalurkan dulu! Sukai aja, tapi jangan disalurkan!

Saat lelaki dan perempuan lalu meminta pertanggungjawaban, lingkungan pun bercongkak: jangan buru-buru! Salurkannya pas kalian sudah pandai bahasa Arab saja!

Sofi menggeleng.

Rohim lalu melanjutkan, “Maka jangan heran, bila data statistik menyatakan tingkat hubungan bebas di kesultanan kita ini meningkat.” Akibat tingkah-polah lingkungan, para lelaki dan perempuan itu hampir-hampir tak kuasa menahan diri. Di satu hal, mereka digiring untuk menyukai. Di sisi yang lain, mereka diminta tidak boleh memaritalkan rasa suka. Oleh karenanya, mereka ambil jalur non-marital. Entah sengaja, atau melampau sadar.

Sultan Ali Thoha pun tidak menyoalkan tentang perkara non-marital. Sultan hanya mempermasalahkan perkara marital. Pertimbangan beliau itu karena tingginya angka perceraian yang meningkat. Perceraian itu ada karena eksisnya marital. Maka, untuk menurunkan angka perceraian, tiadakan saja hubungan maritalnya. Semudah itu. Dengan menekan angka maritalisasi, Sultan Ali Thoha berhasil mengurangi angka perceraian.

“Namun, akh Rohim, bukankah Sultan Ali Thoha menjadi dzalim karena hal itu? Sultan telah menjadikan muslimin sulit menegakkan agamanya. Maritalisasi itu sunnah, dan siapapun yang menyusahkan bahkan menyalahi sunnah, maka dia bukan golongan Rasul,” ucap Sofi.

“Tentu saja. Itu kedzaliman. Ulama sudah menggariskan supaya maritalisasi disegerakan. Tidak boleh ditunda-tunda. Karena semakin ditunda, semakin banyak fitnah yang bisa terjadi,” jawab Rohim.

Lucunya, Sultan Ali Thoha pada sebagian hal membiarkan adanya hubungan non-marital. Namun di sisi lain, kesultanannya juga menghukum pelaku non-marital. Pelaku itu dihukumi cambuk seratus kali, seperti yang tercantum dalam jinayah hukum agama. Jika Sultan Ali Thoha memompa orang untuk melakukan hubungan non-marital, mengapa Sultan Ali Thoha juga menghukum orang yang melakukan hubungan non-marital? Bukankah kontradiktif?

Memang, hukum cambuk seratus kali adalah kuasa Allah, bukan kuasa Sultan. Namun, jika hukum Allah hendak ditegakkan, bukankah hal-hal yang menghantarkan pada penegakkan hukum tersebut juga harus ditegakkan? Allah memfirmankan larangan zina, di saat itu juga Allah melarang hal yang mendekati zina. Jika Sultan Ali Thoha ingin patuh menghalangi zina, bukankah hal yang mendekatkan rakyatnya pada zina juga harus ditiadakan?

Sultan Ali Thoha terlalu naif. Ia hanya memikirkan ekonomi. Pembangunan infrastruktur seakan segalanya. Persaingan global sudah menjadi puncak tertinggi di pandangannya. Ia lupa bahwa kebijakannya itu tak lain justru memperbesar persoalan. Jumlah perpisahan pelaku marital satu sama lain yang disebabkan masalah ekonomi, justru akan semakin membesar seiring kebijakan Sultan itu diterapkan.

Tatkala calon pelaku marital diminta untuk menunda karena urusan materi, maka potensi terjadinya penyelewengan semakin meningkat. Salah satunya seperti yang disebutkan sebelumnya: calon pelaku marital akhirnya jatuh pada hal yang tidak-tidak. Hal yang tidak-tidak ini bisa menjadi masalah di waktu mendatang: seiring turunnya moralitas calon pelaku marital, sedemikian pulalah potensi terjadi hal yang serupa saat si calon itu kelak benar bermarital. Dari hal  ini, perceraian marital bisa saja kemungkinan terjadi.

Belum lagi, jika si calon pelaku marital itu ditolak tersebab soal ekonomi, akhirnya dipasangkan dengan orang lain yang taraf ekonominya lebih tinggi. Bisa saja orang yang lebih tinggi taraf ekonominya itu bukan orang yang disukai calon pelaku marital itu, akhirnya terjadi hubungan marital tanpa dilandas keharmonisan suka sama suka. Kurangnya keharmonisan itu lalu membuat problematika lain, bahkan bisa-bisa menghasilkan kejahatan marital. Dari hal ini pula, meningkat juga probabilitas perpisahan yang bisa terjadi.

Dikatakan lagi bahwa usia psikologis yang kurang matang menjadi muasal perpisahan itu. Padahal, jika kebijakan Sultan diterapkan, pelaku marital justru akan semakin terganggu secara psikologis, yang lebih bisa meningkatkan angka perpisahan juga. Mereka harus menahan gejolak di diri. Tak menutup potensi akibatkan ketertekanan di kemudian hari. Malah-malah stres. Lebih berbahaya manakah: psikologis yang belum matang –yang itupun seiring waktu bisa dididik supaya menjadi matang, ataukah psikologi orang stres dan tertekan sekian tahun lamanya?

Dan lagi: hubungan non-marital yang ‘disuguhkan’ oleh Sultan Ali Thoha bukanlah ikatan yang kuat. Kita tahu, hubungan non-marital itu rentan. Rentan putus. Rentan berakhir. Dan ketika rentan berakhir, maka pelaku non-marital berkemungkinan akan mencari pasangan lain dalam hubungan yang serupa. Kemudian lagi pun putus. Berakhir. Setelah itu mencari lagi. Lalu putus. Demikianlah terus siklusnya, sehingga entah berantah ada berapa sosok yang menjadi barisan mantan pasangan pelaku non-marital itu.

Akibat dari barisan mantan itu, terganggulah gaya penyikapan terhadap suatu hubungan di waktu nanti. Terbiasanya bergonta-ganti pasangan, dikhawatirkan membuat orang lebih mudah menyia-nyiakan keistimewaan yang ada pada pasangannya kelak. Cenderung mudah memperbandingkan. Bagi pasangannya juga, akan merasa illfeel bila tahu dirinya pernah dipasangi oleh sekian banyak orang selain pasangannya itu. Jelas akan mengakibatkan kecemburuan. Belum lagi bila ada perkara cinta lama bersemi kembali. Perselingkuhan bisa lebih mudah terjadi. Dari kesemua ini, bukankah jelas hal ini mengakibatkan perpisahan pelaku marital yang jauh lebih besar nanti?

“Lalu, apa yang harus kita lakukan, akh Rohim? Kita takkan menghasilkan apa-apa, jika sekadar berbicara seperti ini saja. Kita perlu tindakan nyata, akh Rohim-ku. Kita perlu segera menyatu. Dan mengomel tentang Sultan Ali Thoha, apalagi yang tak juga didengar oleh Sultan sendiri, hanya akan menghasilkan hal nihil,” ucap Sofi, merunduk layu.

“Tenanglah, Sofi. Ana ada pikiran,” tegap sang Rohim, “Kita gulingkan saja Sultan Ali Thoha.”

“Ha? Benarkah apa yang akh Rohim katakan itu? Bagaimana bisa? Bukankah itu berlebihan?”

“Ya. Kita gulingkan Sultan. Kita gulingkan juga kesultanan. Ana punya kenalan dari Eropa yang mampu membantu kita. Mereka adalah modernis. Dengan mereka, kita akan mengganti kesultanan yang telah menghinakan dan menyulitkan kita. Lalu kita rubah dengan yang lain.”

“Rubah dengan apa, akh Rohim-ku?”

“Republik. Kita akan hancurkan kesultanan ini, dan kita rubah dengan republik. Kita ganti sistem negeri kita dengan demokrasi, agar otoriternya sultan takkan lagi menyulitkan kita. Supaya tidak ada lagi orang semacam Sultan Ali Thoha yang menetapkan aturan atas dasar pertimbangan satu orang semata. Takkan ada lagi persaingan global konyol yang kekanak-kanakan itu. Semua orang bebas mengambil bahasa apapun, dan tak dipaksa lagi harus bisa berbahasa Arab.”

Akh Rohim-ku, bukankah itu berlebihan? Aku hanya ingin kita bersatu. Bukan menggulingkan negeri dan membawa perubahan pada negeri ini semuanya,” kerut Sofi.

Sofi belum memahami, bahwa urusan maritalisasi yang sedang dihadapi dalam skala satu negeri ini bukanlah lagi urusan privat yang cukup ditangani secara kecil saja.

“Sofi, ini adalah masalah umat, bukan lagi hanya masalah kita berdua,” jelas Rohim, “Kita memerlukan solusi mutlak untuk umat kita.”

“Akan tetapi, akh Rohim, apa yang menjamin demokrasi dalam republik itu akan mewujudkan keinginan dan cita-cita kita untuk segera bermarital-ria? Bagaimana jika ternyata nanti sebaliknya? Atau.. atau, bahkan. Ah jangan, ana takut akh Rohim malah.. tidak sampai usia jika mengadakan revolusi seperti itu.”

“Hush, hus.. tenang, tenang, ukh Sofi. InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Ana telah mempelajari bagaimana sistem demokrasi, dan bagaimana republik dapat lebih baik daripada kesultanan kita. Kelak, yang membuat aturan adalah kita, ukh Sofi. Bukan lagi sang Sultan yang tidak peduli urusan kita sama sekali. Kita yang akan membuat undang-undang, kita yang merumuskannya. Bukan lagi sultan,” jawab Rohim, guna menenangkan Sofi.

Untuk sejenak, Sofi mengerutkan wajah selama beberapa saat.

“Baiklah, akh Rohim. Ana percaya dengan akh Rohim. Ana ikuti saja apa yang akh Rohim tuju. Sofi rela, asalkan akh Rohim percaya dengan tujuan itu, dan akh Rohim bisa bahagia dengan tujuan itu,” lembut sang Sofi.

“Terima kasih, Sofi. Ana takkan melupakan Sofi. InsyaAllah, kita akan segera bermaritalkan diri. Diriku, dengan dirimu.

MasyaAllah.. Sama-sama, akh Rohim. Jazakallah ahsanal jaza’, yaa akh Rohim. Semoga kita dipermudah. Aamiin.”

Demikianlah perbincangan itu, menghantarkan Rohim beranjak dari Sofi, dengan menitipkan salam untuk sang Sofi.

“Allah turunkan agama ini agar manusia tetap jadi manusia ketika jatuh cinta. Bukan hewan yang bebas berekspresi. Mau kan tetap jadi manusia?” ucap Rohim, sebagai kalimat pamit undur diri. [ ]


Penulis & Ilustrasi: Rumi Azahri (Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia)

*Gagasan/Parodi ini menjadi tanggung jawab kontributor sebagaimana tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *