Kupas Resensi

Teruslah Bodoh Jangan Pintar: Ketika Keadilan Dibutakan oleh Keserakahan akan Kekuasaan

Oleh Khansa Tafidah Khairunnisa, Zahrah Fauziah Wulandari

Mulanya, sifat pintar merupakan karakter seseorang dengan kemampuan yang baik dalam memahami, menyerap, dan mengaplikasikan pengetahuan dengan cakupan luas dan bijak. Namun, makna tersebut kini berubah di tengah dunia yang sedang dipenuhi manipulasi, kepentingan, dan kebijakan yang kerap kali mengabaikan nurani. Pintar tidak lagi dipandang baik, justru disalahgunakan untuk membenarkan kesalahan, kezaliman, menutupi kecurangan, dan mempertahankan kepentingan dibalik kebijakan tidak bertanggung jawab.

Dalam sebuah novel yang berjudul “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” karya Tere Liye mengantarkan pembaca untuk memahami bahwa sekedar menjadi pintar tidak dapat membuat kita menyelesaikan masalah. Akan tetapi, dengan menganggap diri menjadi bodoh dapat membuat seseorang untuk tidak berhenti pada apa yang telah diketahuinya dengan melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, yang menggambarkan kisah saksi dan seluruh tokoh yang terlibat.

Sinopsis

Ruangan 3×6 meter menjadi saksi pertarungan sengit antara penguasa dan pemerjuang keadilan. Sekelompok berlabel aktivis lingkungan memperjuangkan pembatalan konsesi sebuah perusahaan tambang besar bernama PT Semesta Minerals & Mining. Dengan segala rekam jejak perusahaan yang telah dipersiapkan, para aktivis mendatangkan berbagai saksi yang siap menumpahkan pengalaman menyakitkannya di ruang sidang komite yang diprakarsai oleh usulan presiden baru yang terpilih.

Sidang demi sidang dilaksanakan selama 16 hari, berbagai saksi yang terkena dampak dari proses pengerjaan tambang ini dihadirkan bersamaan dengan bukti yang telah dikumpulkan oleh para aktivis. 

Setiap saksi memiliki kisah pedih atas pengalamannya yang penuh luka. Para saksi menceritakan bagaimana kejamnya perusahaan tambang yang bersekongkol bersama aparat untuk mencapai targetnya demi membuka lahan tambang secara paksa. Kekejaman ini berhasil memporak-porandakan kehidupan warga hingga ekosistem secara masif di sana. 

Kesaksian demi kesaksian diberikan hingga hari ke 16 yang menjadi penutup rangkaian persidangan. Nasib pihak penggugat maupun pihak tergugat berada di bawah kewenangan ketujuh anggota komite. Seluruh perjuangan yang dikerahkan melalui berbagai taktik dan pengorbanan kini berlabuh pada ketegangan. Demikian, di penghujung cerita, novel ini memberikan refleksi mendalam tentang besarnya harga yang harus dibayar dalam memperjuangkan sebuah keadilan. 

Keterkaitan Buku dengan Konteks Demokrasi di Indonesia

Novel dengan tebal 371 halaman ini berhasil mencerminkan kekejaman dan kerakusan perusahaan tambang yang menelan begitu banyak korban jiwa dan berhektar alam di dalamnya. Dampak yang diberikan bukan hanya sementara, melainkan panjang hingga sanak keturunan yang akan lahir kedepannya. Mulai dari rusaknya ekosistem, hilangnya tempat tinggal penduduk, hingga serangan wabah penyakit yang mengerikan. 

Menyelam lebih dalam pada buku yang dirilis tahun 2024 ini, kita bisa ikut merasakan bagaimana dukungan pemerintah terhadap pemegang kekuasaan yang serakah. Dengan kehausannya, para penguasa seakan dilegalkan untuk memporak-porandakan regulasi dan melahap habis sumber daya yang ada. Tidak peduli seberapa besar dampaknya. Tidak merasakan hasil yang diperbuatnya.

Kelebihan dan Kekurangan

Novel ini memiliki keunggulan yang diawali dengan pemilihan judul penuh makna, unik, dan provokatif yang bertentangan dengan pemahaman masyarakat secara umum, sehingga menggugah rasa penasaran. Dalam ceritanya, novel ini menggambarkan kenyataan krisis yang terjadi di Indonesia saat ini. Seluruh latar suasana dan kejadian yang tertulis dalam setiap halamannya seakan membawa pembaca merasakan langsung bagaimana kepedihan masyarakat yang kehidupannya direnggut oleh para penguasa untuk mengenyangkan nafsu atas kepentingan pribadi. 

Dibalik keunggulannya, novel ini memiliki beberapa kekurangan, di mana penulis menggunakan alur cerita campuran yang membuat pembaca bingung dengan latar waktu pada cerita yang maju-mundur antara masa lalu dan masa kini. Kemudian, saat menelaah alur cerita, banyak kisah yang tidak perlu dibahas. Terdapat beberapa bagian yang membahas kisah salah satu tokoh yang terlalu berlarut, sehingga pada bagian tersebut fokus pembahasannya sedikit melenceng dari inti pembahasan. Selain itu, akhir cerita dikemas dalam bentuk pesimistik oleh penulis yang mematahkan harapan pembaca untuk mendapatkan akhir cerita bahagia ketika membaca beberapa halaman terakhir.

Menilik dalamnya makna cerita pada novel ini, Tereliye berhasil memainkan perannya untuk menaik turunkan emosi pembaca secara cepat. Dengan segala dinamika alur yang maju mundur, pembaca seakan dibuat terlibat untuk merasakan secara langsung kepedihan yang terjadi di dalamnya.


Penyunting: Siti Rifqah Aqilah

Grafis: Admira Naira Ramadhani