Bumi dan Krisis Iklim, Anak Muda Bisa Apa?

Oleh Lani Diana. P

Perubahan iklim yang kian hari kian memprihatinkan tengah menyebabkan krisis di muka bumi. Peristiwa-peristiwa seperti bumi yang semakin panas, ancaman kesehatan, dan maraknya bencana alam merupakan sebagian contoh dari banyak dampak yang ditimbulkan karena adanya krisis ini. Melihat situasi ini, penting untuk masyarakat mulai melakukan berbagai tindakan diluar kebiasaan sehari-hari untuk menyelamatkan bumi tercinta. Melalui diskusi yang diinisiasi oleh gerakan Generasi Nol Emisi dalam Webinar BERISIK: #BincangIklimAsik – Bercuan Lestari, Membangun Daerah, Satukan Suara, terdapat berbagai cerita inspiratif dan cara apa yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan bumi khususnya untuk anak muda.  

Membangun Bisnis Hijau

Tak dapat dipungkiri, bahwa memenuhi kebutuhan ekonomi merupakan hal yang penting bagi keberlangsungan hidup. Namun, ketika rumah yang sedang ditinggali juga tengah terancam akan bahaya kehancuran, manusia di dalamnya juga tak luput jadi pihak yang rentan. Sehingga penggabungan kedua aspek ini menjadi semakin penting untuk dilakukan saat ingin memenuhi kebutuhan hidup. 

Pada sesi pertama webinar yang bertemakan Meraih Cuan di Ranah Lestari, #BincangIklimAsik mengenalkan kepada anak muda bahwa anak muda bisa tetap memperoleh pendapatan sembari berbakti kepada lingkungan dengan cara melakukan bisnis hijau. Bisnis hijau adalah bisnis yang dalam meraih keuntungannya tetap mengutamakan aspek-aspek ramah serta bermanfaat bagi lingkungan. Contohnya seperti Du Anyam, sebuah brand lokal yang bergerak pada bidang produk anyaman dan kerajinan tangan. 

Wilda Romadona, narasumber perwakilan dari Du Anyam menceritakan dalam produksinya Du Anyam bekerjasama dengan mama penganyam di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan tujuan untuk memberdayakan dan menambah value ekonomi rumah tangga disana. Dengan membaiknya nilai ekonomi keluarga berujung pada membaiknya nutrisi serta gizi ibu dan anak di Flores, NTT. Selain itu dengan beberapa tahun ke belakang melihat maraknya konversi lahan gambut, Du Anyam mencoba memanfaatkan rumput Purun, sebuah tanaman yang tumbuh subur di lahan gambut Kalimantan Selatan. “Nah konversi itukan terjadi karena sebenarnya dipertanyakan, apakah si lahan gambut ini memiliki added value ekonomi ataukah tidak gitu. Nah untuk itu, Du Anyam bersama dengan BNG mencoba untuk mendorong pengelolaan lahan gambut berkelanjutan ini dengan meningkatkan treatment purun yang luar biasa dan mengurangi resiko konversi,” jelas Wilda. Dengan dimanfaatkannya rumput purun sebagai salah satu material produk, Du Anyam turut menjaga lingkungan dengan menjaga eksistensi lahan gambut yang penting bagi ekosistem. 

Inspirasi bisnis hijau lain dapat dilihat dari berjalannya sebuah bisnis di bidang jasa peminjaman cup untuk kedai kopi di Indonesia bernama Cupkita. Cerita Bagas Kusuma, narasumber perwakilan dari Cupkita, mengenai bagaimana bisnis makanan dan minuman kerap menggunakan wadah plastik bahkan untuk penyajian makan di tempat pun menjadi awal mula hadirnya Cupkita. Cupkita menyatukan missing link antara keinginan pemilik bisnis makanan dan minuman akan cepat dan mudah dalam proses penyajian dan kepentingan untuk menjaga bumi. Layanan jasa yang ditawarkan Cupkita, dengan metode pinjam, beri kembali, dan dibersihkan, menjadi jawaban untuk sistem bisnis makanan dan minuman yang lebih sustain dan sehat bagi bumi. Yang terakhir, ialah bisnis bahan pangan alami dan produk ramah lingkungan, Rumah Bantala. Dengan mengangkat tagline berupa #sharingbersamatetangga, Bea Bethari, narasumber perwakilan dari Rumah Bantala menjelaskan bahwa Rumah Bantala mengusung konsep gotong royong dimana setiap upaya tumbuh dan berkembang yang bertujuan untuk kebaikan rumah, bumi, dilakukan bersama para penghuni dan saling berbagi dengan lainnya. 

Dalam membangun bisnis hijau, para pelaku bisnis ini berpesan untuk anak muda yang bersemangat berkolaborasi dan berinovatif dengan para stakeholder untuk berani memulai, terus merefleksi hubungan baik dengan lingkungan dan tidak pantang menyerah. “Yang pertama adalah berani. Berani untuk memulai melakukan sesuatu dan berani untuk mengajak orang-orang untuk melakukan sesuatu. Dengan berani memulai, orang juga akan terajak gitu dan itu dia kolaborasi akan ada disitu,” tutur Bagas. 

“Kita tu harus stand with our prinsip dulu nih. Sebenarnya konsep apa sih yang bener-bener mau kita tuju. Jadi kita tu sudah tau gitu, prakteknya seperti apa. Jadi memang benar-benar mulai dari diri sendiri gitukan terus nanti mungkin teman-teman bisa lihat, lingkungan kita bisa lihat. Dari hal itu tu secara tidak langsung kita turut menggerakkan ekosistem di sisi kita. Jadi memang kalau mikirnya kita berhubungan dengan stakeholder, langkah pertama yang dilakukan adalah kita dengan diri kita dan kita dengan lingkungan kita. Se-simple itu sih,” tambah Wilda.

“Selain berani akhirnya menurunkan ego sih. Itu sih yang harus dilakukan temen-temen, amit-amit nanti kalau ditolak, gapapa diterima aja, coba lagi. Mungkin semesta aja belum mendukung kalau ada yang nolak gitu sih,” tambah Bea. 

Menjadi Influencer Lingkungan Versi Diri Sendiri

Karena perubahan besar bermula dari tindakan kecil yang dimulai dari diri sendiri. Hal inilah yang kemudian coba dilakukan Dinda Ayudita, influencer muda peduli lingkungan yang juga turut tergabung dalam gerakan Generasi Nol Emisi. Dimulai dari menggunakan tumbler dan stainless straw untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai hingga komitmen untuk mengurangi budaya konsumtif dari produk fashion dengan cara menggunakan kembali baju-baju lama di rumahnya. Dari kebiasaan kecil yang Dinda lakukan, Dinda telah memberi pesan positif akan menjaga lingkungan kepada followers dan orang-orang sekitarnya. Contohnya seperti saat ia melakukan kegemarannya mix and match outfit lama dan menjadikannya konten di sosial media, Dinda telah mempopulerkan gerakan nol emisi dari sisi busana dengan caranya sendiri dan diminati anak muda.

Cerita serupa juga datang dari public figure, Dimas Danang, yang dalam kesehariannya telah melakukan berbagai kegiatan yang turut menjaga bumi seperti membawa alat makan pribadi ketika makan di luar rumah, tidak membuang sampah sembarangan, berkomitmen mengurangi sampah plastik dari tingkat terkecil seperti dalam keluarga dan sebagainya. Tak berbeda dengan Dinda yang menggunakan sosial media untuk menyebarkan pesan menjaga lingkungan, Danang memberikan pengaruhnya dengan terus melakukan dan menunjukkan tindakan kecil yang baik untuk bumi. Danang menjadi contoh untuk orang-orang sekitarnya yang akhirnya juga turut melakukan hal yang sama sepertinya.  

Dari kedua cerita ini, dapat dilihat bahwa masing-masing narasumber menjadi influencer lingkungan, terlebih kepada orang-orang sekitarnya, dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil, hal yang mereka senangi dan cara mereka sendiri. Dinda melalui ketertarikannya dengan fashion melalui sosial media dan Danang dengan tidak banyak berbicara namun menunjukkan kebiasaan ramah lingkungannya kepada orang sekitarnya. Sebagai anak muda, penting dan bukan hal yang tak mungkin untuk mulai menjadi influencer itu sendiri bagi lingkarannya. Dimulai dari menumbuhkan kebiasaan lestari dari diri sendiri dan membuka ruang untuk percakapan menjaga bumi.

Turut Andil Dalam Perencanaan Pembangunan Pemerintah

Terakhir, pada sesi kedua Webinar BERISIK: #BincangIklimAsik – Bercuan Lestari, Membangun Daerah, Satukan Suara, dalam topik Anak Muda dalam Perencanaan Pembangunan diperkenalkan bagaimana misi menyelamatkan bumi ini mampu berjalan lebih masif dan menyeluruh bila sosok anak muda turut hadir dalam perencanaan pembangunan lestari pemerintah. Pada sesi dua ini dihadiri oleh Gita Syahrani, narasumber perwakilan dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari, sebuah asosiasi pemerintah kabupaten yang peduli akan pembangunan lestari. Pembangunan lestari ialah pembangunan yang menyeimbangkan semangat menjaga lingkungan juga mensejahterakan masyarakatnya. “Jadi harus berbanding lurus. Rencana pembangunan  kemudian ya cara agar masing-masing dinas turut secara sadar menjalankan peran sesuai yang diberikan dan dibutuhkan untuk mencapai visi dan misi pembangunan ini,” jelas Gita terkait rencana pembangunan. Lingkar Temu Kabupaten Lestari disini berperan sebagai sosok yang menjembatani hal ini. Sehingga kegiatan masyarakat mendapat rekognisi pemerintah dan mampu menempatkannya secara terintegrasi pada program pemerintah.

Contoh kasusnya adalah dalam pembentukan kampung wisata eco tourism. Eco tourism yang mulanya diinisasi masyarakat setempat pada kenyataannya tidak cukup hanya berpegang pada tenaga sipil. Pada akhirnya konsep ini memerlukan kolaborasi pemerintah untuk dapat berjalan dengan baik. “Sebuah kampung wisata atau wilayah ketika hendak dikonsepkan menjadi ramah lingkungan memerlukan dukungan lebih seperti dari infrastruktur, akses jalan, listrik, air bersih, pemberdayaan sdm, hospitality, dsb. Nah saat tidak mampu berdiri sendiri inilah, fungsi dari adanya pertemuan antara masyarakat dan pemerintah,” kata Gita. 

Contoh lain seperti yang diceritakan oleh Aan selaku anak muda perwakilan dari Kampung Iklim Ngadirejo. Terbentuknya kampung iklim juga merupakan program kolaborasi dengan pemerintah, dimana di dalamnya terdapat banyak kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti pemanfaatan lahan sempit, daur ulang sampah, bank sampah, ketahanan pangan, dan lainnya. Program ini selain memberi banyak dampak baik bagi lingkungan juga turut berdampak baik untuk warganya. Dari sisi ekonomi, warga memiliki sumber pendapatan tambahan dan dari segi sosial jadi tumbuh interaksi yang akhirnya sama-sama edukatif terkait lingkungan. 

Pada akhirnya, seperti yang disampaikan Dithi Sofia, narasumber perwakilan dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), keterlibatan anak muda dalam rencana pembangunan sangatlah penting untuk keberhasilan misi menyelamatkan bumi ini. Seperti yang dilakukan GIDKP yang hadir dan mendampingi pemerintah untuk menerbitkan peraturan-peraturan terkait kantong plastik dalam programnya. Sehingga dari seluruh cerita diatas dapat dipahami bahwa kolaborasi antar masyarakat dan pemerintah bukanlah tidak mungkin dan dapat mewujudkan hal-hal baik. Kerjasama yang ada mampu mendorong terbitnya peraturan-peraturan pro menjaga lingkungan dan menjamin terimplementasinya kegiatan menjaga bumi dengan adanya bantuan anak muda di dalam rencana pembangunan.


Penyunting: Aurelia T. Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *