Menggunjing Sejarah: Agensi dan Kontekstualisasi Gerakan Parempuan

oleh Citra Mediant, Minggu (6/8/2020).

 

“Kita terlalu teori practice, nggak pernah practicing teori. Yang mendengarkan, mempelajari lalu menciptakan konsep baru,” Ita Fatia Nadia,  salah seorang penggagas Komnas Perempuan.

Sore itu cuaca Yogyakarta sangat bersahabat, meski pandemi covid – 19 masih menghantui. Sinar mentari dengan gagah menjilat bumi, yang semakin hari semakin terasa terik. Namun teriknya tak mengendurkan niat untuk menghadiri diskusi yang diselenggrakan Social Movement Institute, di Komplek Ngadiwinatan. 

Seorang teman mengajak untuk menghadiri diskusi terbatas itu. Hanya sepuluh orang termasuk pembicara Ita Fatia Nadia, hadir di dalam ruangan yang tak begitu besar tapi tetap terasa luas.  Mungkin karena cakrawala pengetahuan itu tidak terbatas dan manusia itu lebih bebas dari apa yang ia bayangkan, kata Faucoult.

Tepat pukul lima belas sore, diskusi dimulai. Seperti biasa setiap diskusi selalu dimulai dengan pembukaan dan perkenalan pembicara. Ita Fatia Nadia, seorang aktivis perempuan, sejarawan perempuan, co – founder Komnas Perempuan pula, memulai pembicaraan dengan pernyataan yang mencengangkan bagi penulis

“Penulisan sejarah tentang gerakan perempuan enggak bisa ditemuin di buku sejarah. Penulisan sejarah Indonesia berpusat sama penguasa, dan penguasanya laki – laki,” ujarnya serius.

Lantas pembicaraan berlanjut menuju periodisasi sejarah gerakan perempuan di Indonesia, yang sudah ada sejak penulis belum lahir dan menikmati hasil dari ibu bumi. Mulanya pembicara menjelaskan dengan santai gerakan perempuan sejak tahun 1912 dimana Budi Oetomo mendirikan Puteri Mahardika yang menurut Fatia tidak ada perempuaannya sama sekali, karena didirikan oleh Pria. Lanjut sesudah 1912 – Organisasi Perempuan Sarekat Islam lahir dan menyuarakan anti kolonialisme, yang juga terlibat  dalam demo besar SI di Semarang, mereka memakai caping “gerakan caping bambu”.

Pada 1912 juga menjadi periode organ perempuan membuat sekolah anti bura huruf yang dipengaruhi olah organisasi perempuan Soero Wanito. Itu sangat berpengaruh karena setelahnya, ada kemauan “saya harus membaca” untuk mensukseskan gagasannya. Soero Wanito juga menerbitkan koren pada 1914 yang digalakkan oleh Siti Sundari.

“Karena kalau bisa membaca bisa bergerak,” tutur Ita tersenyum.

Selang beberapa tahun setelah itu, muncul massa dimana organisasi perempuan berbasis agama bermunculan, pada 1920 organisasi perempuan Aisyah di bawah Muhamaddiyah lahir, yang berfokus pada perempuan, anak, dan pendidikan. Bersamaan dengan lahirnya organisasi perempuan berbasis agama muncul pula gerakan perempuan yang berbasis etnis seperti Perempuan Maluku, serta Minangkabau. Organiasi-organisasi perempuan etnis lebih progresif menyuarakan anti poligami, kesetaraan ekonomi, dan emansipasi.

Ita menjelaskan bahwa organisasi perempuan berbasis agama menolak anti poligami, tapi mereka berkeinginan memperbaiki kondisi perempuan yang dipoligami. 

Ita dengan semangat menjelaskan bahwa gerakan perempuan pada 1926 terlibat demo besar-besar melawan penjajahan kolonialisme – salah satu organisasi yang terlibat adalah Organisasi Perempuan Sarekat Islam (OPSI).  Namun naas, aktivis perempuan yang terlibat di demo itu lantas diasingkan di Boven Digoel, sekarang Papua. 

1928 kongres perempuan diselenggarakan dengan melibatkan banyak organisasi perempuan. Perempuan-perempuan yang bergerak itu dengan gagah menyuarakan gagasan anti poligami, perdagangan perempuan. Tak lupa, Ita memberikan contoh relevan yaitu Tenaga Kerja Wanita (TKW), lalu anti pernikahan anak, dan kesetaraan pendidikan untuk perempuan. Berselang setahun, Perhimpunan Istri Indonesia (PII) pada 1929 menerbitkan majalah. Majalah itu ditulis oleh perempuan dan laki – laki. 

“Perjalanan perjuangan tidak linier dan perjuangan perempuan sangat ditentukan oleh kontekstual ‘the politic of location”

Beberapa tahun sebelum kemerdekaan, pada 1930 mulai lahir gerakan perempuan sosialis yang menggalakkan gagasan ‘Emansipasi Nasional’ karena Gerakan perempuan harus berpartisipasi dalam pembebasan nasional. 

“Perempuan yang bergerak itu, mereka berkampanye di pasar, di tahun 30an kampanyenya di pasar untuk penyadaran politik,” tutur Ita sembari tersenyum.  

Kongres perempuan di Klaten pada 1945 berlanjut ke  Kongres Wanita Indonesia (Kowani) 1946 yang digalakkan oleh Isteri Sedar. Kowani yang merupakan federasi dari organisasi perempuan progresif gagasan mereka adalah menuntut persamaan upah buruh perempuan dan pria, hukum perkawinan yang berpihak pada perempuan, kesetaraan pendidikan dan anti perdagangan perempuan dan anak.  Pada 1946 pula  Kowani menjadi anggota WIDF.

“Gerakan buruh, pembebasan nasional, dan gerakan anti poligami itu satu karena bebas dari poligami adalah kemerdekaan,” tutur Ita tegas sembari menjelaskan gerakan perempuan era post-kolonialisme.  

Sebelum memasuki era 50-an, organisasi perempuan berbasis agama khususnya organisasi perempuan menarik diri dari Kowani karena  perbedaan latar belakang ideologi, antara organisasi perempuan berbasis agama, dan organisasi perempuan lain di Kowani yang cenderung nasionalis, sosoalis pula.

Ada haru di dalam raut Ita, ketika melanjutkan pembicaraan ke tahun 1955 karena terjadi sedikit kemunduran. Ihwal itu menurut Ita, disebabkan karena perempuan bebas dan progresif harus ditarik kembali ke dalam partai politik “domestikasi, bekerja untuk mesin politik” dan sayap perempuan di tahun 1955 digunakan partai untuk meraih suara dari perempuan yang pada akhirnya membuahkan perdebatan tajam di dalam organisasi perempuan itu sendiri. 

Di sisi lain Ita, juga menjabarkan dengan penuh semangat evolusi Gerwis menjadi Gerakan Wanita Indonesia pada tahun 54 dan menyebut dirinya organisasi “Revolusioner!” sebab gagasan mereka  tentang anti fasisme, perdamaian, hak perempuan, dan anak.

“Gerwani itu mandiri, bukan di bawah PKI. Tidak pernah jadi under bowe-nya PKI, karena perempuan kiri itu mandiri, pembebasan nasional, anti kolonial, anti poligami” ujar Ita menatap peserta diskusi.

Berbicara tentang Gerwani tidak lengkap rasanya tanpa bumbu – bumbu politik karena menurut Gerwani memperjuangkan politik perempuan di bangsa uang baru merdeka. Gerwani mendirikan Paud untuk anak – anak karena ibu yang harus bekerja. Maka anak anak dari ibu yang bekerja di luar rumah anaknya dididik di tempat penitipan yang ada taman kanak – kananknya ibu rasanya tenang menitipkan anak mereka. Di tempat yang besar (kota besar), Gerwani buat dapur umum yang menjadi tanggung jawab gerakan, melibatkan semua orang agar semuanya bisa makan. Dan anggota Gerwani pada 1965 mencapai 1,7 juta orang. Tak lupa ia juga menceritakan salah satu tokoh Gerwani.

“Fransiska Fangede disuruh keliling dunia untuk ngabarin Kemerdekaan Indonesia sama John Li, karena dia nggak bisa pulang karena Gerwani,” ucap Ita saat membicarakan salah satu tokok Gerwani.

Satu tarikan nafas, Ita melanjutkan pembicaraan ke 1965 dimana terjadi tragedi berdarah yang menjadi awal perubahan gerakan perempun yang dahsyat: perempuan tidak diperbolehkan masuk ranah politik. Lantas semua perempuan diharus kembali pada induknya.

Menurut Ita, ketentuan Soeharto yang membatasi perempuan itu membuat perempuan terpaksa bertahan di domestik, dan tidak boleh mendirikan organisasi politik. Namun perempuan – perempuan progresif tidak akan pernah berhenti, salah satu siasat untuk membumikan gagasan perempuan, mereka mendirikan LSM

“Ya siasatnya mendirikan LSM dan Yayasan, salah satunya Kalianamitra, tapi konteksnya disesuaikan dengan gagasan perempuan” ujar Ita yang pernah memimpin Kalianamitra, 

Di era  8 -an muncul LSM perempuan, menjadi tonggak perempuan  melawan orde baru dan menjadi bagian gerakan progressif untuk melawan rezim. Tapi sayang , Gerakan Perempuan era 80-an hanya sebatas LSM, tidak memiliki basis massa. 

Semangat yang masih ia pelihara dengan baik juga membuahkan pesan bagi anak muda, wabilkhusus perempuam yang bergerak. Menurutnya pula, feminisme itu lahir dari kontekstual.

“Gender sekarang harus dikontekskan dengan agensi perempuan. Untuk itu kita harus melihat politic of location. Laki dan perempuan harus begitu.”


Penyunting: Iqbal Kamal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *