Kuliah Kerja Nyata UII Serupa Kerja Kelompok

Oleh: Yunitasyia Nafa Zahro.

Universitas Islam Indonesia di masa pandemi tetap melaksanakan Kuliah Kerja Nyata angkatan – 61 pada Agustus/2020. Kali ini KKN dilaksakan dengan sistem daring, tanpa turun langsung ke  Desa seperti biasanya dan produk yang dihasilkan dari KKN – 61 berbentuk audio visual.

Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) mulanya tetap ingin KKN – 61 dilaksanakan seperti biasa, turun kelapangan. Namun DPPM UII tetap “menyediakan payung sebelum hujan” dengan mempersiapkan beberapa konsep guna mengantisipasi pandemi covid – 19 yang tak kunjung usai. 

Konsep yang dipersiapkan oleh DPPM UII mencapai tiga jumlahnya, yaitu KKN tetap dilaksanakan secara normal dengan turun ke lapangan dan berada di desa sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan, lalu semi normal dengan membagi pemetaan unit yang menetap serta jarak jauh disesuaikan dengan zona penyebaran transmisi covid-19 di daerah tersebut, dan yang terakhir adalah sistem jarak jauh atau daring.

DPPM UII melalui Wahyu, Bidang Evaluasi KKN mendaku bahwa setelah melakukan beberapa kali pertemuan dengan pihak rektorat khususnya Wakil Rektor I dan lembaga advokasi mahasiswa (Wahyu tidak menyebutkan lembaganya secara spesfik) serta melihat kondisi objektif di lapangan, memutuskan untuk menyelenggarakan KKN – 61 dengan sistem daring.

“Kan trendnya di masa pandemi seperti ini orang mengakses informasi lewat YouTube, menurut kominfo juga gitu,” ujar Wahyu pada Jumat (27/8/2020)

Produk audio visual yang bentuknya berupa video didistribusikan melalui kanal Youtube DPPM UII ke – masyarkat dunia maya. Video yang menjadi produk, dan aspek penilian dari KKN – 61 terbagi dalam tiga bidang yaitu dakwah islami, pendidikan sesuai dengan kurikulum pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas Indonesia, dan pemberdayaan masyarakat guna pemulihan ekonomi masyarakat desa atau Usaha mikro Kecil Menengah (UMKM). 

Dikarenakan target pemberdayaan KKN – 61 adalah masyarakat dunia maya, kali ini DPPM UII tidak menentukan objek lokasi untuk mahasiswa menetap atau desa KKN dengan dalih mahasiswa UII tersebar di mana – mana dan tidak terorganisir di satu tempat. 

Tak hanya soal objek lokasi, penilaian akademis dari KKN – 61 juga berubah. Kali ini penilaian kinerja mahasiswa ditekankan pada hasil dari produk luaran mereka, tidak lagi di saat proses KKN itu berlangsung karena menurut Wahyu tidak akan maksimal penilaiaan KKN – 61 jika lebih besar di proses karena semua ihwal di KKN – 61 sekarang dilakukan penuh secara daring. 

Dokumentasi unit 303 KKN – 61 UII. Foto: Cintya Amira.

Niat baik UII untuk tidak menerjunkan langsung mahasiswanya ke – daerah atau desa tempat pengabdian memang tepat, dan tidak melaksanakan KKN tematik pulang kampung juga untuk mengimani kepada negara, lalu sesuai dengan target  jangka panjang pengabdian UII. Namun bentuk baru KKN yang dilaksanakan di angkatan 61 ini menumai beberapa keluhan dari mahasiswa. 

Tapi apa yang dirasakan oleh peserta KKN?

Jauh panggang dari api, mahasiswa yang terlibat di KKN – 61 kebingungan, dan merasa KKN yang dilaksanakan secara daring tidak seperti KKN pada umumnya. Lalu luaran yang dirancang oleh pihak DPPM selaku Direktorat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan KKN hanya memberatkan mahasiswa saja. 

Wafi Ahmad, salah satu mahasiswa yang merasakan bahwa KKN – 61 ini menyatakan bahwa KKN kali ini seperti “kerja kelompok”. Ihwal tersebut ia sampaikan karena tidak ada komunikasi, hubungan emosional dengan masyarakat dan hanya mengambil video berdasarkan tiga bidang yang sudah ditentukan oleh DPPM. Selain kekosongan hubungan emosional, Wafi juga mengeluhkan salah satu komponen proses dari KKN – 61 daring yang mengharuskan seluruh proses produksi mulai dari awal hingga akhir harus diabadikan dalam bentuk video. 

“Jatuhnya si enam video secara gak langsung ya.” ujar Wafi pada Kamis (6/8/2020) 

Setali tiga uang, Nadya Ulhaq, juga mengeluhkan sistem pelaksaan KKN daring karena menurutnya, hanya produk luaran saja yang didistribusikan secara online tapi tidak untuk proses produksi luaran yang harus dilaksanakan secara luring dan melibatkan banyak pihak. Selain itu, ia merasa keberatan dengan KKN online dengan luaran video karena menurut Nadya, tidak semua mahasiswa bisa mengedit video. 

Selain sasaran yang berbeda dengan KKN Reguler sebelumnya, KKN – 61 yang dilaksanakan secara daring ini juga membuahkan perbedaan kebijakan dari setiap Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Dari lima mahasiswa yang kami ajak berbincang, mereka memaparkan pernyataan yang berbeda terkait kebijakan, dan versi KKN daring dari penggodokan ide hingga proses produksi produk.

Dokumentasi unit 295 KKN – 61 UII.

Atika, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, juga mengamini hal tersebut. Ia menyatakan bahwa setiap DPL memiliki versi yang berbeda – beda terkait instruksi di setiap unit. Untuk unitnya, DPL mereka memberikan kepercayaan penuh terhadap mahasiswa untuk berkreasi dengan bebas, namun ada pula DPL di lain unit yang mengharuskan mahasiswanya untuk selalu berkoordinasi dan harus sesuai dengan persetujuan DPL mereka.

“Kalau unit kami semua dikerjakan atas kepercayaan saja, tapi unit lain semua tindakan mereka harus di setujui sama DPL” ujar Atika pada Kamis (27/8/2020)

 

Bersambung dengan itu, Iqbal Fajri juga menyatakan bahwa setiap DPL memiliki kebijakan yang berbeda, ada pula yang sampai merugikan mahasiswanya. Bentuk kebijakan yang merugikan menurut, Iqbal salah satunya DPL yang totalitarian dalam merevisi produk yang dihasilkan oleh mahasiswa, dan ikut menentukan objek serta desa yang menjadi objek dari produk unit tersebut. Tak sedikit pula unit yang harus meluangkan waktu lebih untuk memproduksi ulang produk mereka sesuai dengan kehendak DPL.

Salah satu Dosen Pembimbing Lapangan yang kami wawancarai menyatakan bahwa di masa pandemi seperti ini KKN tetap harus dilaksanakan, dan harus berfungsi seratus persen. Selain itu, DPL yang membimbing mahasiswa di saat seperti ini mau tidak mau juga harus beradaptasi dan belajar dengan keadaan darurat seperti saat ini. Ia juga mengamini bahwa KKN – 61 ini tidak ada lokasi yang mengharuskan mahasiswa untuk menetap seperti KKN reguler.

“Objek lokasinya ditiadakan karena pemerintah di lokasi tersebut tidak memberikan izin untuk KKN.” ujar Satrio, DPL KKN – 61 UII pada Rabu (26/8/2020).

*Penyunting: Citra Mediant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *