Gagas Opini Tanggap

Gerakan Emoji Semangka Untuk Palestina

Oleh: Fauzan Agusti Fajariyadi

Belakangan ini, kita sering kali menjumpai emoji-emoji semangka pada kolom komentar, story, bahkan pada foto profil di berbagai platform media sosial. Tentunya hal ini terjadi bukan tanpa sebab, ketika orang-orang secara masif melakukan hal tersebut di media sosial. Momen ini secara serentak dilakukan lantaran dipicu oleh konflik bersenjata antara Israel dan Palestina yang mencapai puncaknya pada 7 Oktober 2023 dengan ribuan orang menjadi korbannya. Jadi, bagaimana bisa buah semangka yang segar jika dimakan dapat menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina?

Ketika konflik antara Israel dan Palestina yang terjadi berkepanjangan telah mencapai puncaknya,keterlibatan aktor-aktor besar seperti Amerika Serikat, Inggris dan bahkan brand ternama seperti McDonald’s telah memicu berbagai macam reaksi masyarakat dunia atas dukungan mereka terhadap Israel. Namun, dari berbagai macam reaksi dari masyarakat dunia ini, ada hal menarik yang dilakukan oleh mereka yang mendukung Palestina, yakni gerakan emoji buah semangka.

Gerakan emoji buah Semangka ini dipilih oleh masyarakat sebagai simbol untuk menunjukkan dukungannya terhadap Palestina karena komponen warna yang ada pada semangka mirip dengan komponen warna yang ada pada bendera Palestina. Kemudian, buah semangka juga banyak tumbuh di seluruh kawasan Palestina. Adapun kebijakan Israel yang melarang pengibaran bendera Palestina di tempat umum karena dianggap kriminal juga membuat buah semangka ini menjadi alternatif untuk menggantikan bendera Palestina yang dilarang. 

Selain itu gerakan ini juga hidup di sosial media juga bukan tanpa sebab. Para warganet atau netizen melakukan gerakan emoji buah semangka ini di sosial media untuk menghindari banned atau takedown konten oleh sistem pengembang (Berger 2021). Sehingga mereka lebih memilih menggunakan buah semangka sebagai simbol dukungan terhadap Palestina. Namun, faktanya buah semangka dipilih sebagai perlawanan bukanlah hal yang baru.

Semangka sebagai simbol dukungan terhadap Palestina bukanlah hal yang baru-baru ini terjadi. Faktanya buah semangka sebagai simbol perlawanan rakyat Palestina telah terjadi sejak tahun 1967, ketika saat itu Israel berhasil menguasai Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Selanjutnya pemerintah Israel yang membuat kebijakan bahwa pengibaran bendera Palestina di depan umum akan dianggap sebagai pelanggaran di Gaza dan Tepi Barat juga menjadi alasan lain yang mendorong orang-orang Palestina menggunakan semangka sebagai gantinya. 

Kemudian Pada tahun 2007, ada seorang seniman bernama Khaled Hourani yang menuliskan sebuah kisah Semangka ke dalam sebuah buku berjudul Subjective Atlas of Palestine. Beberapa tahun setelahnya, pada tahun 2013 dia juga membuat satu cetakan yang kemudian dinamai The Colours of the Palestinian Flag, dan sejak itu dapat tersebar dan dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia (The Jakarta Post 2023).

Gerakan Emoji Semangka Tidak Efektif?

Dipilihnya Semangka sebagai simbol dukungan terhadap Palestina ini juga menimbulkan banyak pro dan kontra di kalangan masyarakat. Banyak yang menilai bahwa gerakan ini tidak efektif dan terkesan lucu untuk melawan Israel yang menggunakan senjata berat untuk menghancurkan Palestina. Di sisi lain, ada yang tetap menggunakanya untuk mendukung Palestina serta pihak yang cenderung apatis dan bersikap netral untuk tidak memihak pihak manapun. Namun, muncul juga pihak-pihak yang mempertanyakan keefektifan dari buah semangka ini untuk mendukung Palestina.

Tidak salah jika ada beberapa pihak yang mempertanyakan keefektifan buah semangka ini sebagai simbol dukungan terhadap warga Palestina yang menjadi korban dari serangan senjata berat dari Israel. Ini menjadi unik jika kita lihat secara sekilas, ketika umumnya dukungan aksi keadilan atas kekerasan disuarakan melalui aksi turun ke jalan atau boikot, tetapi dalam konteks Palestina dapat disuarakan hanya oleh buah semangka. Berangkat dari pertanyaan mengenai keefektifan dan keunikan buah semangka yang menjadi simbol perlawanan Palestina terhadap Israel, penulis mencoba memberikan pandangannya melalui tulisan ini. 

Semangka sebagai buah yang dipilih oleh pendukung Palestina tentunya selain dari nilai historis di masa lalu, tetapi juga fakta bahwa memang warna yang ada pada buah semangka sama dengan yang ada pada bendera Palestina. Demikian hal ini cocok untuk dipilih sebagai simbol yang mewakili masyarakat Palestina. Kemudian juga melalui semangka ini kita dapat mengekspresikan dukungan kita terhadap Palestina tanpa membawa pesan kekerasan dan sikap offensive yang dapat menyinggung pihak manapun. 

Mengenai pertanyaan terkait keefektifan gerakan ini, penulis berpandangan bahwa seharusnya pembahasan semangka ini tidak hanya sebatas pada keefektifan dari semangka itu sendiri untuk melawan tindakan Israel terhadap Palestina. Namun, ini dapat menjadi simbol yang tegas atas keberpihakan orang-orang dalam menyatakan dukungan mereka bagi perjuangan rakyat Palestina. Jika pembahasan hanya sebatas efektif atau tidak, tentu dalam membantu dan mendukung perjuangan Palestina orang-orang dapat melakukan cara lain yang lebih efektif seperti memberikan bantuan sumbangan bahan sandang pangan, turun langsung ke jalan untuk berorasi dan bisa dengan menulis artikel-artikel untuk menentang tindakan Israel yang mencoba melakukan genosida. Namun, buah semangka ini akan memiliki makna lebih jika pembahasan mengenai konflik Israel-Palestina kita bahas lebih dalam. Nilai-nilai historis dan juga makna yang terkandung dari warna Semangka itu sendiri akan dapat menjadi simbol yang mewakili rakyat Palestina selain bendera negaranya.

Jadi. sebetulnya ini bukan efektif atau tidak, tetapi ini akan menjadi simbol dan bukti atas keberpihakan mereka yang mendukung Palestina secara tegas dan dapat mewakili Palestina itu sendiri di kala simbol-simbol lain, seperti bendera dan pesan-pesan teks yang menggambarkan dukungan terhadap Palestina dilarang. Kemudian, ini akan membawa pesan ambigu terhadap pemerintah dan masyarakat dunia dari makna mengangkat gambar semangka ini. Karena Semangka ini akan sulit dibuat peraturan serta pelarangannya seperti simbol-simbol lainnya yang telah dilarang untuk menjadi simbol dukungan Palestina. Akan menjadi lebih unik dan lucu ketika orang-orang yang mengangkat gambar Semangka terlepas dari apapun kepentingannya mulai dilarang karena isu ini. Sehingga ini merupakan cara yang menurut pandangan penulis adalah cara yang cerdik dan kreatif untuk mengakali sistem yang mungkin saat ini kita lihat lebih condong berpihak terhadap Israel.

Namun, tentunya harapan dari konflik yang terjadi terus menerus ini dapat cepat berakhir sehingga tidak lagi terus menimbulkan korban jiwa. Kemudian PBB sebagai payung dari negara-negara di dunia seharusnya dapat lebih bijak dan aware terhadap isu ini. Karena seperti kalimat yang terdapat pada pembukaan UUD 1945 bahwasannya “Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Sehingga terlepas dari perbedaan apapun dari mulai ras, suku, agama dan kepentingan-kepentingan lainnya, harapannya jangan sampai menimbulkan kerugian yang sangat besar. Diskusi dan negosiasi harus lebih dan tetap dikedepankan untuk mencapai titik temu dari sebuah permasalahan.


Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi Kognisia.

Penyunting: Haidhar F. Wardoyo

Grafis: Zaid Hafizhun Alim