Laporan Khas Wawancara

Tentang Komunitas Mardiko dan Menggunungnya Sampah TPST Piyungan

Oleh: Paramitha Maharani

Terik matahari di pagi hari membangun semangat kami untuk menelusuri jejak pembuangan sampah akhir masyarakat Yogyakarta (08/10). Semilir angin menghembus di sela-sela perjalanan ditemani oleh orang-orang yang sedang berlalu lalang. Tak lupa, pemandangan sawah yang menghampar menyegarkan mata di sepanjang jalanan menuju Piyungan. Menempuh waktu perjalanan selama 45 menit, kendaraan ini sampai tepat di tempat pembuangan sampah terakhir (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul. 

Melihat keadaan Piyungan sebagai bendungan sampah Kota Yogyakarta dan sekitarnya, mengingatkan kepada kabar berita yang menyebutkan bahwa Piyungan ditutup pada bulan Juli lalu. Usut punya usut, kabar ini langsung disampaikan oleh Sang Sultan yang menghimbau bahwa ihwal permasalahan sampah, sudah sepatutnya setiap kota dan kabupaten mengurus hal ini. Merasa bukan bagian dari pengelolaan pusat, Sang Sultan kerap mengingatkan kepada pemangku kepentingan untuk bertanggung jawab soal sampah ini yang mengharuskan mereka untuk dikelola.

Menggunungnya sampah di Piyungan menjadi permasalahan yang tak menemukan titik terang. Kejadian penutupan TPST Piyungan tidak berkaca dari kasus-kasus sebelumnya, hanya seperti angin lalu yang tidak diindahkan oleh para pemangku kepentingan dan masyarakat. Piyungan menjadi permasalahan pembuangan sampah yang terus berulang dan seharusnya pemerintah Yogyakarta mempunyai jalan keluar terkait masalah ini.

Komunitas Pemulung Mardiko

Setelah menelusuri kawasan TPST Piyungan, terlihat papan berwarna hijau yang bertuliskan “Komunitas Pemulung Mardiko”. Rasa penasaran yang membuncah membawa kami bertegur sapa dengan warga sekitar untuk mempertanyakan perihal eksistensi komunitas ini. Diarahkan ke rumah produksi, kami berkesempatan bertemu dengan Ketua Komunitas Pemulung Mardiko yang akrab disapa Maryono (08/10). 

Dalam penuturan Maryono, komunitas pemulung Mardiko lahir sebagai komunitas yang setiap harinya berusaha untuk mengurangi volume sampah. Tepat tanggal 20 April 2016, Komunitas Mardiko diloncengkan menjadi komunitas yang didampingi oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah. Mempunyai cerita yang menarik, berdirinya komunitas ini berawal dari MPM Muhammadiyah berkunjung ke Piyungan untuk melihat teman-teman pemulung yang ada di Piyungan. Kala itu, Maryono sebagai koordinator pemulung menyambut dengan suka cita atas hadirnya MPM Muhammadiyah dan menyajikan lauk pauk untuk disantap bersama-sama. 

Berangkat dari alasan tersebut, Maryono mendapat surat panggilan untuk datang ke gedung pimpinan Muhammadiyah. Tak hanya itu, proses ini juga mengundang segenap stakeholder yang menginisiasikan bahwa pemulung harus didampingi. 

“Lewat mulung untuk mengurangi debit sampah yang ada di TPST Piyungan. Seharusnya debit sampah itu menggunung, dibantu oleh pemulung yang sebanyak 400 orang lebih. Berusaha untuk mengurangi debit sampah kurang lebih per minggunya itu 6 ton per pengepul atau juragan. Padahal di sini ada 15 juragan, secara tidak langsung kami perminggunya bisa mengumpulkan 90 ton untuk debit sampah yang ada di TPST Piyungan,” tutur Maryono (08/10).

Genap 28 tahun beroperasi, Pemerintah selalu ingkar janji untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang kian hari semakin menggunung. Di sinilah komunitas pemulung Mardiko harus diakui keberadaannya sesuai dengan namanya, yakni Mardiko atau kependekan dari “Makaryo Adi Ngayogyakarta” yang berartikan bekerja membantu kebersihan kota Yogyakarta. Menggantungkan hidup sebagai pemulung, masyarakat di sekitar Piyungan hanya mengandalkan gundukan sampah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Ironisnya, harapan menggantungkan kehidupan sepenuhnya terhadap Piyungan dan seisinya sesekali harus sirna di tengah jalan. Pemulung merasakan kisah lama yang kembali terulang, akibat volume sampah yang menggunung. Pada bulan Juli 2023 lalu atas utusan dari Pemda DIY, TPST Piyungan ditutup selama 45 hari. Pemulung hanya bisa mengais dan mengumpulkan sampah dari sisa-sisa setoran sampah. 

Hal serupa pernah terjadi di tahun 2018 silam, Maryono menceritakan pada saat itu sampah disetorkan di siang hingga malam hari yang mengakibatkan sampah meluap sampai ke jalanan rumah warga. Merasa hal tersebut mengganggu aktivitas publik, warga setempat menggelar aksi demo kepada pemerintah terkait peraturan jadwal menyetorkan sampah. Kemudian untuk mengantisipasi agar tidak meluap kembali, diberlakukan jadwal menyetorkan sampah dari pukul 06.00 pagi hingga 17.00 sore.

Keberhasilan Rumah Produksi Mardiko

Penutupan selama 45 hari tidak membuat pemulung luntang-lantung begitu saja. Mengingat Komunitas Pemulung Mardiko menyediakan rumah produksi yang difasilitasi mesin untuk mengelola sampah. Berkat bantuan dari badan zakat Lazismu, komunitas pemulung Mardiko bisa menjalankan proses pemusnahan sampah menjadi butir-butir sampah. 

Persis di depan markas Maryono, terlihat spanduk bertuliskan “Rumah Produksi Memilah Sampah Organik dan Non Organik Komunitas Pemulung Mardiko”. Penasaran dengan isinya, kami langsung bertanya kepada Maryono. Dengan semangat, Maryono menjelaskan bahwa tempat ini merupakan rumah produksi untuk pemrosesan sampah yang di dalamnya terdapat mesin-mesin pemilah sampah. Sebelum sampah dimasukan ke dalam mesin, para pemulung yang berjaga biasanya memilah terlebih dahulu antara sampah organik dan non organik. 

“Setelah dipilah, sampah tersebut kami masukan ke dalam mesin dan mesin sudah memilah antara sampah plastik, kertas, dan komposisinya,” jelas Maryono. 

Rumah Produksi Komunitas Pemulung Mardiko

Terbesit di pikiran kami mengenai sejauh mana mesin dapat menggantikan peran manusia dalam konteks pemilahan sampah ini. Namun, Maryono menyebutkan dalam pemrosesan pemilahan sampah peran para pemulung sangat dibutuhkan. Terkhusus mesin-mesin harus dioperasikan dengan bijak oleh para pemulung. Memang zaman semakin canggih, tetapi manusia tetap terlibat di dalamnya. Sayangnya, pada saat kami berkunjung mesin-mesin sedang tidak dioperasikan. Hanya pada hari kerja mesin-mesin berjalan dengan semestinya, jadwal pengoperasian mesin libur pada hari Sabtu dan Minggu mengingat para pemulung harus beristirahat sejenak.

Terbilang baru, adanya rumah produksi menunjukan kemajuan yang signifikan pengolahan sampah di TPST Piyungan. Penutupan selama 45 hari tidak menurunkan produktivitas para pemulung karena mesin-mesin tetap berjalan memilah sampah yang tersisa. 

“Dengan penutupan, tidak bisa dibuang. Kami tetap beroperasi, kami mencoba dari dua ton dan kami olah dengan mesin sampah, residunya menjadi 3,5 kwintal. Otomatis kami membantu 15,5 ton untuk dibagi dan kami manfaatkan untuk dihancurkan,” ujar Maryono. 

Terampil di Bidang Lain

Setelah keberhasilan rumah produksi, Komunitas Pemulung Mardiko juga rutin mengadakan pemberdayaan kepada para pemulung yang diasosiasikan oleh Dinas Sosial DIY dan teman-teman kampus yang sedang berkunjung. Beberapa kali dilatih untuk membuat mie ayam, keripik pisang, dan pastel. Menariknya, ada pemulung yang diberikan bekal keterampilan untuk membuat mie ayam, kemudian memantapkan diri pensiun sebagai pemulung dan memutuskan berjualan mie ayam. 

“Kami dilatih untuk keterampilan membuat film dokumenter, membuat pupuk organik dan non organik. Lalu keterampilan seperti penguasaan limbah plastik yang kami olah menjadi bros yang sangat menarik. Bahkan, kemarin olahan kami digunakan untuk souvenir ulang tahun atau nikahan,” jelas Maryono. 

Menggantungkan Hidup Demi Selembar Kertas 

Hari semakin terik menunjukkan bergantinya waktu pagi ke siang hari. Kami memutuskan berhenti dan melepas dahaga di pos warga sembari melihat sapi berlalu lalang di TPST Piyungan. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan melewati pos keamanan untuk meminta izin melihat-lihat di kawasan TPST Piyungan. Memasuki Zona III, terdengar suara buldoser dan truk bersahutan saling berebut melepas muatan sampah. 

Sejauh mata memandang, hamparan sampah sangat menggambarkan bagaimana kondisi Zona III yang menjadi saksi para pemulung menaruh harapan akan hidupnya. Sedikit melipir ke bagian pinggir Zona III, kami mengulik Suhardi, pria renta berusia 62 tahun asal Grobogan, Purwodadi yang berkenan untuk menceritakan sepenggal kisahnya. Suhardi adalah salah seorang dari 400 orang pemulung yang beradu nasib di atas gundukan sampah demi selembar kertas yang bernilai.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Piyungan, Suhardi menceritakan bagaimana risiko menjadi pemulung yang sehari-harinya bertemu dengan alat-alat besar. Tak jarang dari mereka hampir terkena alat-alat besar dan berujung berakibat fatal. 

“Pernah, waktu saya pertama kali ini pernah kena beko–eskavator itu, masih selamat alhamdulillah,” tutur Suhardi (08/10). 

Selain beradu nasib, mereka juga harus menelan realita bahwa pemulung jarang diperlakukan sama rata oleh banyak orang. Buntut dari hal tersebut, pemulung seringkali disepelekan dan tidak diakui keberadaannya. Ditambah kabar modernisasi adanya mesin penghancur residu sampah yang semakin digembor-gemborkan untuk menggantikan peran pemulung ke depannya. 

Menyinggung kabar ini, Maryono dan Suhardi sempat tak berkutik untuk menjawab bagaimana kehadiran mesin akan mengubah nasib pemulung esok hari. Dengan suara lantang Maryono yakin bahwa akan ada sosialisasi terkait hal itu, sebab sejauh ini hanya kabar simpang siur yang tidak diketahui kebenarannya berseliweran dari mulut ke mulut para pemulung. 

“Untuk informasi itu kami kurang tahu, memang kabar simpang siur beredar nanti kalau ada surat resmi atau pengumuman resmi baru kami bisa sampaikan. Lebih lanjut, kami juga akan tanya-tanya ke Dinas yang di sana bagaimana untuk langkah kedepannya atau bulan januari nanti dan sebagainya,” jelas Maryono dengan lesu.

Mendengar nada bicara Maryono yang lesu membuat kami sadar bagaimana nasib mereka nantinya. Komunitas pemulung Mardiko dapat dikatakan sebagai salah satu bagian dari segmentasi pahlawan tanpa tanda jasa karena senantiasa berkutat untuk mengurangi volume sampah setiap harinya. Keberadaannya memang harus diapresiasi, sebab berkat jerih payah mereka, setidaknya sampah Yogyakarta dan sekitarnya dapat terkelola dengan baik meskipun faktanya pun masih kerap mengalami permasalahan darurat sampah.


Penyunting & Grafis: Haidhar F. Wardoyo