Kupas Resensi

Diskriminasi Sosial yang Berujung Eksploitasi Tenaga Kerja

Oleh: Muhammad Ridwan Tri Wibowo
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta)

Andrea Hirata, atau yang lebih dikenal dengan Seman Said Harun, adalah seorang novelis Indonesia yang lahir di Belitung pada tanggal 24 Oktober 1966. Ia telah dikenal sebagai salah satu penulis terkenal di Indonesia karena gaya tulisannya yang khas dan cerita-cerita yang menginspirasi.

Ia telah memenangkan banyak penghargaan sastra internasional. Laskar Pelangi edisi Amerika misalnya, memenangkan New York Book Festival 2013, dan edisi Jermannya memenangkan Buchawards 2013. Cerpen pertamanya, Dry Season, memenangkan seleksi majalah sastra terkemuka Amerika, Washington Square Review, dan cerpen keduanya, We Don’t Like Space, terpilih untuk majalah sastra 91st Meridian.

Novel Ayah dan Sirkus Pohon merupakan karyanya yang terkenal. Novel ini mengangkat isu pendidikan dan sosial, menginspirasi pembaca, serta memberikan harapan dan pemahaman yang lebih dalam tentang kondisi masyarakat Indonesia. Lewat tokoh Sobirin atau Hobirin, Andrea Hirata memotret kekejaman sosial di negeri ini. Hobirin adalah representasi orang-orang berpendidikan rendah yang sulit mendapat pekerjaan tetap. Meskipun bersemangat, mereka dibatasi oleh pendidikan yang terbatas. Dan, tidak adanya ijazah SMA atau Sederajat, menjadi hambatan besar untuk mereka mendapatkan pekerjaan.

Tidak Jauh dari Kriminalitas

Dalam Bab ”SMA atau Sederajat” dijelaskan bahwa Hobirin merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Abangnya yang pertama diterima di Sekolah Teknik PN Timah dan menjadi karyawan di kantor Eksplorasi PN Timah. Abangnya yang kedua juga berkerja di PN Timah sebagai juru ukur. Abangnya yang ketiga adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS), berkerja di kantor Syahbandar. Dan, adik bungsunya yang bernama Azizah menjadi ibu rumah tangga. Azizah menikah dengan Suruhudin yang berkerja sebagai instalatur listrik.

Hobirin berusia 28 tahun. Ia hanya memiliki ijazah SD dan belum kawin. Kenyataannya menjadi bujang lapuk dan pengangguran, serta masih tinggal di rumah orang tuanya membuat dirinya disebut sebagai beban keluarga. 

Pasalnya, Azizah ingin Hobirin ikut membantu situasi moneter di rumah. Azizah juga tidak mau Hobirin hanya kerja serabutan di pasar. Menurut Azizah, lelaki harus memilki pekerja tetap. Lelaki harus bekerja di kantor desa, di toko, di rumah sakit, di pabrik, di kapal, di PN Timah, atau di kantor Syahbandar.

Namun, bagi Hobirin mendapatkan pekerjaan tetap tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kerja tetap umumnya bersyarat ijazah minimal SMA atau Sederajat, sedangkan Hobirin hanya mempunyai ijazah SD.

”Tengoklah, Zah, di mana-mana, jika ada tulisan ada lowongan selalu ada balasan pantun tak berima di bawahnya, SMA atau Sederajat. Tahukah kau, Zah? Kedua kalimat itu telah melakukan persekongkolan gelap untuk membekuk nasib-nasib orang-orang tak berpendidikan macam aku. (…) Tahukah kau Zah?! Saking sering aku bertemu kalimat itu sampai kerap aku bermimpi dikejar-kejar hantu yang membawa plang SMA atau Sederajat!” –Halaman 10

Suatu hari, seorang tokoh bernama Taripol memberikan pekerjaan kepada Hobirin untuk mengantar corong pengeras suara ke rumah Soridin Kebul. Hobirin yang sudah lama bermimpi membeli celana pensil tanpa berpikir panjang menyetujuinya. Namun sialnya,  Hobirin, Taripol, dan Soridin diciduk polisi. Taripol terbukti menjadi maling, Soridin Kebul terbukti menjadi penadah barang curian, dan Hobirin sendiri terbukti menjadi kurir.

”Hob, sini kau antarkan corong TOA itu ke rumah Soridin Kebul di kampung seberang! (…) Dua puluh ribu pasti di tanganmu!”—Halaman 19

Tidak Punya Pekerjaan Tetap, Bukan Berarti Malas

Dalam bab ”Tipe Bangun Pagi Let’s Go” menjelaskan bahwa Hobirin bukanlah tipe yang tidak suka leha-leha. Ketika diwawancara berkerja di sirkus, Hobirin menjelaskan pernah bekerja di usaha sound system menjadi tukang pikul sepiker, di pegadaian selaku juru parkir, di CV Snack Aneka Ria sebagai penjual kerupuk di terminal, dan di CV Rahmat Berdikari di bagian salesman

”Pernah bekerja di mana, Bung Hob?”

Aku terpana. Aku pekerja serabutan, banyak sekali yang telah kukerjakan. Tak tahu kumulai dari mana.

”Oh, banyak sekali Bu/” –Halaman 28

Lalu, menurut tokoh yang mewawancarainya, Hobirin adalah tipe orang yang bangun pagi, ???? ??

”Mungkinkah ada kerja lembur, Bu?”

”Sangat mungkin jika banyak pekerjaan.”

”Kalau boleh aku kerja lembur saja, Bu, tak dibayar tak apa-apa.”

”Mantap!”

”Masuk kerja pukul berapa, Bu?”

”Pukul 9.00 pagi sampai pukul 5.00 sore

“Aku siap masuk kerja mulai pukul 7.00, Bu, dan bersepatu!”

”Sip!” –Halaman 32

Akhirnya karena sulit sekali mendapatkan pekerjaan tetap, Hobirin pun terhisap oleh sistem kerja yang mengeksploitasi. Hobirin bersedia bekerja lembur tanpa dibayar, bahkan bersedia bekerja di luar jam kerja. Hal ini menunjukkan bahwa Hobirin adalah orang yang sangat bersemangat untuk bekerja. Namun, sikap ini justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengeksploitasinya.

Novel Ayah dan Sirkus Pohon menyentuh luka-luka sosial yang masih menganga dalam masyarakat, terutama mengenai kesenjangan dalam akses pendidikan dan kesempatan kerja. Andrea Hirata dengan cermat memotret bagaimana kehidupan seseorang dapat terbatas oleh batasan pendidikan formal.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan dan lapangan kerja di Indonesia masih diskriminatif terhadap orang-orang yang kurang berpendidikan. Ijazah SMA atau Sederajat seolah menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Padahal, keahlian praktis dan semangat kerja keras seharusnya juga diakui dan diberi peluang.

Dari sudut pandang ini, Andrea Hirata memberikan suara kepada yang kurang terdengar, mengajak pembaca untuk merenung tentang perlunya perubahan dalam paradigma pendidikan dan peluang kerja agar lebih inklusif bagi semua lapisan masyarakat.


Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi Kognisia.

Penyunting: Haidhar F. Wardoyo

Grafis: Dhiya Najah Fitria