Oleh: Haidhar F. Wardoyo
Sadar atau tidak, sejak awal tahun ini kumpulan corat-coret tembok yang acap disebut sebagai grafiti, nampak jelas di sepanjang tembok Embung Kladuan. Perpaduan warnanya memancar jauh, menemani perjalanan manusia-manusia yang melintas di depan Gedung Perpustakaan UII.
“Beberapa kali lewat, mungkin kalau menurut aku nggak mengganggu sih, karena kebetulan hal itu bagus-bagus aja kalau dilihat dari jauh,” ucap Nindi salah satu mahasiswa UII yang sempat kami temui.

Beberapa pertanyaan ihwal siapa yang membuat grafiti ini kemudian muncul di lingkup kecil pertemanan. Usut punya usut, differentskool adalah pihak yang ada di balik kumpulan corat-coret tembok ini. Kami kemudian berupaya untuk menelisik lebih jauh tak hanya perihal apa yang terjadi di tembok embung saja, tetapi juga dinamika grafiti di Yogyakarta.
Selepas membuat janji temu melalui direct message, Rabu malam (17/05), kami menemui Mobas, Mowie, Badsyaw, dan 325 di sebuah kedai kopi di daerah Malioboro. Mereka merupakan empat dari tujuh writers—istilah bagi para pembuat grafiti yang sebelumnya dikenal dengan sebutan bomber—yang tergabung di dalam differentskool, dengan tiga anggota lainnya ada Sukki, Begok Oner, dan Seira. Penggunaan nama samaran menjadi penting selain karena untuk eksistensi diri, juga untuk melindungi para writers dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Mulanya, kolektif ini eksis berdasarkan pameran yang diselenggarakan di sebuah kedai kopi di daerah Selokan Mataram, dengan tajuk ‘Different Skool.’ Pameran itu memadukan dan menampilkan berbagai macam writers dengan gaya grafiti yang berbeda-beda. Lambat laun, akibat frekuensi pertemuan beberapa writers pascapameran yang kian bertambah, terbentuklah sebuah kolektif grafiti dengan nama serupa, yaitu differentskool.
“Tujuannya kalo dari kita sih pengin bikin suatu kolektif yang nggak cuma di jalan, tetapi juga di alternatif lain kayak pameran, bazar, yang bisa lebih mencair dan bisa di segala lini,” jelas 325.
Setali tiga uang, Mowie juga menuturkan bahwa kolektif ini berusaha untuk menaungi para seniman jalanan, melalui penyelenggaraan pameran atau pergelaran yang berhubungan dengan grafiti. “Seperti acara yang ada di UII kemarin, kita sengaja mencari seniman-seniman jalanan di Jogja buat jamming bareng,” sambung Mowie.
Grafiti di Embung Kladuan
Perihal kumpulan grafiti di sepanjang tembok Embung Kladuan, akhir Januari lalu (28/01) sebuah grafiti jamming diselenggarakan selama dua hari di akhir pekan. Acara dengan tajuk ‘Collaborightnow’ ini bertujuan untuk menyatukan dan mengkoneksikan seniman-seniman jalanan di Yogyakarta. Sebab, masih banyak seniman jalanan yang belum mengenal satu sama lain, terlebih karena terpaut perbedaan generasi.
“Kita diajak bekerja sama oleh Belazo (produsen cat semprot) untuk bikin acara jamming di Embung Kladuan UII. Kita juga mencari writersnya siapa aja dan terkumpul total ada tujuh puluh seniman grafiti yang berdomisili di Jogja semua,” tutur Mowie menjelaskan. “Kalau untuk izin itu udah ada. Pihak Belazo udah ngurus izin terkait temboknya, dan kita juga izin ke Pak RW perihal keramaian,” sambungnya kemudian.
Selaras dengan tajuknya, acara ini mengkolaborasikan 41 seniman grafiti dengan gaya letter atau bentuk tulisan dan 29 seniman grafiti dengan gaya karakter. Pada tiap temboknya, dua orang lintas generasi dan berbeda gaya dipasangkan untuk membuat karya-karya yang saat ini terpampang di sepanjang tembok Embung Kladuan.
Perihal Stigma dan Ego
Urusan corat-coret tembok juga acap kali identik dengan tiga hal, yakni grafiti, mural, dan vandalisme. Dalam penuturannya, Mobas menyebut bahwa grafiti merupakan sebuah perkembangan dari mural.
“Mural kalau sekarang itu kan dilihat sebagai menggambar di dinding, dengan tema yang jelas, dengan bahan cat dan kuas, dan mungkin dilakukan secara serius. Sementara grafiti basicnya jelas kita pakai spray can, dan di situ kita mempresentasikan diri kita secara personal,” sambung Mobas.
Mowie turut menambahkan bahwa kehadiran grafiti sejak dulu merupakan perwujudan eksistensi, entah itu eksistensi nama pembuatnya secara personal atau kelompok pembuatnya. Hal ini lantas berujung pada sebuah aksi vandal yang seringkali, hasilnya dapat kita lihat di tembok-tembok fasilitas umum, rolling door pertokoan, sampai bawah jembatan. Sementara itu, differentskool sendiri mendeskripsikan vandalisme sebagai ‘sampah visual.’
“Masyarakat awam kan melihat vandal itu, ya corat-coret pake spray, tetapi sebenarnya lebih lebar lagi. Kalau lihat poster acara, baliho, spanduk, itu kalau ditaruh di tempat-tempat yang bukan semestinya dan tanpa izin, ya itu vandalisme,” pungkas Mobas.
Meskipun begitu, mereka tidak menampik bahwa grafiti bukanlah vandal. Differentskool menyebut bahwa grafiti dan vandalisme sejatinya memang tidak bisa dilepaskan apabila menilik pada historisnya. Namun, dewasa ini writers mulai bisa memilih di mana ia akan menorehkan cat semprotnya. Terlebih ketika ruang-ruang yang mewadahi hal ini terus bermunculan.
Street Art di Yogyakarta
Sedikit merunut ke belakang, geliat seni jalanan, utamanya grafiti mengalami eskalasi seiring dengan demokrasi yang menguat ketika Orde Baru tumbang. Seni jalanan muncul menjadi salah satu media alternatif dalam penyuaraan gagasan seniman dan publik. Tembok-tembok mulai diisi oleh berbagai macam bentuk ekspresi manusia yang pada akhirnya merasakan esensi kebebasan.
Menilik pada kondisi di Yogyakarta, kami kemudian menemui Ali Minanto (29/05), dosen ilmu komunikasi UII yang berfokus di lingkup komunikasi visual. Ia menjelaskan bahwa dalam perkembangannya, seni jalanan di Jogja itu tidak hanya digunakan untuk ‘menghidupkan kembali’ ruang-ruang yang mati di sudut-sudut kota saja (negative zone). Seni jalanan juga sekiranya turut memproduksi diskursus yang sangat penting dalam pertarungan ruang di kota.
Perjalanan seni jalanan juga kerap kali terlibat dalam beberapa aksi protes bersama dengan banyak pihak, untuk merespons persoalan-persoalan kota atau isu-isu sosial politik dalam skala yang lebih luas. Hal ini dapat kita lihat pada gerakan ‘Jogja Ora Didol’ pada 2013 silam, yang berlanjut dengan ‘Jogja Asat’ dan ‘Mencari Haryadi’, ‘Gejayan Memanggil’ beberapa tahun lalu, dan lain sebagainya.
Seni jalanan pun tidak hanya muncul di kawasan kota saja, tetapi juga merambah ke kampung-kampung. Grafiti dan berbagai mural nampak dinamis di pinggiran kota maupun perkampungan, seperti misal di Taman Sari, Geneng, Ngaglik, serta banyak lagi di daerah selatan. Baik di kota maupun di kampung, seni jalanan selalu menunjukkan karakternya yang khas, yaitu membuka ruang dialog dan partisipasi publik dalam produksi karyanya.
Apa yang terjadi di Yogyakarta sekarang mungkin jauh lebih berkembang. Pergeseran lingkup pada skena grafiti yang dahulu hanya melibatkan pelaku, gaya, teknik, atau isu yang diusung, kali ini turut melibatkan medium dan lokasi. Grafiti lambat laut dapat singgah di berbagai galeri dan pameran seni secara masif, juga dengan medium yang lebih beragam seperti misal tembok kecil, papan, atau kanvas. Menariknya pula, dinamika ini ternyata dapat digerakkan secara kolektif, tidak perseorangan semata.
Sebut saja pada pertengahan pergelaran ARTJOG MMXXII tahun lalu yang diselenggarakan di JNM Bloc. Ketika pergelaran ini menyajikan seni kontemporer dan konvensional, grafiti turut mendapatkan ruangnya untuk berekspresi. Pameran grafiti bertajuk ‘SAT SSST’ diinisiasi oleh differentskool atas kerja sama dengan penyelenggara. Di dalamnya, terdapat 25 seniman jalanan yang turut serta memamerkan karyanya, baik itu dalam bentuk dua dimensi atau tiga dimensi.
“Saya kira itu tren baru yang menarik dan bisa menjadi keniscayaan,” ucap Ali ketika pertama kali mendengar hal ini (29/05).
Ali juga turut menyebut Banksy, seniman stencil yang berasal dari Bristol, Inggris yang memiliki pengaruh signifikan dalam konstelasi seni rupa. Sekiranya, apa yang sedang terjadi terhadap para pelaku grafiti di Jogja memiliki jalur tempuh yang sama, meskipun irisannya beragam. Pelaku seni jalanan yang dalam konteks ini adalah writers mulai berekspresi di galeri.
“Itu seperti ulang alik. Ada seniman yang memaknai ruang publik sangat luas, termasuk galeri dan art shop. Ada juga yang memaknai galeri sebagai ruang singgah sesaat di tengah perjalanan mengarungi jalanan,” sambungnya.
Namun, konsekuensi pun muncul akibat dari pergeseran lingkup yang mungkin terjadi terlalu cepat tanpa adanya dialog dengan publik. Grafiti masih dilihat dan dimaknai sebagai sebuah corat-coret tembok semata. Stigma negatif juga tidak serta merta menghilang begitu saja. Padahal, beberapa coretan yang muncul di tembok-tembok umum juga mempertimbangkan estetika, bahkan dewasa ini coretan tersebut turut menginjakan kaki di galeri dan pameran.
Melalui kolektif ini, differentskool cenderung tidak memiliki tujuan yang kompleks seperti merubah stigma atau hal signifikan lainnya. Jalan yang mereka tempuh jauh lebih sederhana, mereka hanya berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat perihal estetika. Jamming demi jamming hingga pameran demi pameran diselenggarakan untuk setidaknya dapat sedikit mempengaruhi persepsi publik.
“Kita membawa jalanan ke dalam galeri. Hal ini juga membuktikan kalau kita bisa membawa seniman jalanan untuk masuk ke seni rupa,” tegas 325 di akhir wawancara.
Sebab pada dasarnya, grafiti memang muncul dengan tabiat perlawanan, termasuk pada superioritas seni mainstream, pemerintahan korup, ego pribadi, represi, atau yang lainnya. Ini yang membedakan grafiti dengan bentuk seni lainnya. Demikian, penolakan dan stigma negatif merupakan konsekuensi yang sekiranya akan terus hadir hingga kelak pemahaman ini menyebar secara integral, baik kepada para writers maupun khalayak luas.
Penyunting: M. Athaya Afnanda
Grafis: Zaid Hafizhun Alim
