Para Ilmuwan dan Perangai Ilmiah

Oleh Aurelia T. Nugroho

Rabu (12/02) malam Komunitas Bambu (Kobam) mengadakan bedah buku berjudul “Belenggu Ilmuwan Pengetahuan” karya Andrew Goss dalam jaringan. Dibersamai empat tokoh lintas disiplin, yaitu Sudirman Nasir dan Evi Eliyanah dari Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Herlamabang P.Wartawan dari HRLS Universitas Airlangga membahas ihwal hukum dan Ahmad Arif sebagai salah satu pendiri Lapor Covid-19 yang mengamati dari kacamata jurnalistik dalam membahas buku ini, dan dipandu oleh Effendi dari aksi kamisan Jogja sebagai moderator.

Buku tersebut membahas tentang penjelasan bagaimana ilmu pengetahuan modern berkembang pada zaman kolonialisme yang belum banyak diketahui oleh khalayak ramai karena tertutup oleh penjelasan sejarah penjajahan saja. Diskusi berawal dari penjelasan singkat Effendi tentang buku yang telah ia baca dan membuatnya kebingungan. Selain itu, menurut jurnal humaniora Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa buku ini sejatinya membahas rasisme cukup tajam pada masa kolonial yang menjadi latar dalam ceritanya. 

Senada dengan Effendi, Sudirman Nasir juga juga mengamini hal tersebut. “Tidak terlalu komprehensif di indonesia dan buku ini membahas dengan mengisi celah yang sangat besar di sejarah, literatur di Indonesia dominasi sejarah militer dan politik.secara kolonialisme membawa ilmu pengetahuan modern dan direspon oleh masyarakat” ujar Nasir.

Di sisi lain, buku ini belum mendapatkan poin argumen yang jelas dengan tidak adanya bukti langsung dari cerita pada zaman yang menjadi latar belakang buku ini, dinamika yang sering berubah dan tidak adanya kejelasan membuat buku ini masih abu-abu. Ditambah buku ini seperti mengolok pioneer dan tidak secara empatik dengan orang – orang menjadi sumber daya manusia yang masih sangat terbatas pada zaman itu.Selain itu terdapat perbandingan dengan negara Australia dengan konteks yang tidak cukup jelas untuk diperbandingkan.

Lantas Evi Eliyanah menanggapi dari segi keilmuan dan perempuan, menurutnya buku ini menguatkan permis bahwa belum adanya kekuatan ilmuwan perempuan pada zaman dengan adanya puritanisme di eropa yang dibawa oleh rakyat kulit putih pada saat itu, menjadikan terdapat look hool yang cukup besar antara bayangan Eropa dan Amerika yang berbeda sebagai civil society pada zaman penjajahan. 

“Alih-alih ilmu pengetahuan menjadi pencerahan bagi masyarakat, para ilmuwan menjadi alat pemerintah dalam hal eksploitasi ekonomi-politik dan untuk melanggengkan kekuasaan” ujar Evi. Dalam masa kolonial yang menjadi latar belakang cerita pun tidak ada membahas tentang ilmuwan belanda dan pribumi yang tidak bisa kembali ke Indonesia padahal sudah memberikan kontribusi yang signifikan untuk negara.

Dari kacamata perbandingan ilmu hukum dan ilmu biologi yang menjadi topik utama dalam buku ini, Helembang menjelaskan persamaan bagaimana situasi masa awal dalam bidang keilmuan-pada akhir dalam peradaban di tanah jajahan yang sebaiknya tak lebih bagi proyek-proyek kekuasaan, yang sangat memberatkan pribumi dan mengubur ilmuwan-ilmuwan cerdas.

“Pada kekuasaan itu juga masalah besar ketika dia tidak bisa pertahankan proses-proses saintifikasi yang benar-benar diperlukan untuk kepentingan publik lebih besar” ujar Helambang.

Dalam bidang hukum, buku ini mempunyai  relasi kuasa yang cukup kuat dan juga ilmu botani yang dibawanya untuk diproduksi sebagai upaya mengisi perut kekuasaan untuk masa itu. Dengan adanya kedua ilmu pada zaman tersebut menjadikan kekuasaan menjadi hal yang sangat dijunjung tinggi dan menutupi kecerdasan ilmuwan-ilmuwan pada zaman itu.

Dari sisi perspektif publik dan dilihat dengan realitas Ahmad Arif menambahkan sekaligus menceritakan pengalamannya yang mengelilingi Indonesia dengan beberapa rekan. Karya klasik ini memunculkan beberapa pertanyaan menarik di benaknya, salah satunya “Siapa sebenarnya ilmuwan saat ini?.” Di Perjalanan itu dia menemukan bahwa rumah-rumah tradisional Indonesia mempunyai landasan yang sangat kokoh dan tahan gempa. 

Disini sering ditemukan kenapa saat ini tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang itu yang membuat pembaca tidak tahu bahwa bangunan-bangunan terdahulu yang dibangun oleh beberapa ilmuwan sangat bisa untuk merubah kebiasaan dan mengurangi efek bencana yang ada sekarang ini. “Penanganan pada saat ini yang menurut saya yang bermasalah dan belum cukup kuat kritik keilmuan untuk mengingatkan dan pasang gagal.” Ujar Ahmad Arif.

Sejatinya, banyak sekali ilmuwan-ilmuwan yang sebenarnya mempunyai tugas yang berkompeten tetapi tertutupi oleh belenggu kekuasaan yang ada dan adanya batasan-batasan yang diciptakan tanpa adanya alasan yang jelas.


Penyunting: Citra Mediant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *