Platform Lapor Covid-19: Bentuk Protes Warga Terhadap Transparansi Data Pemerintah

Oleh Siti Fauziah

Ketua Jurnalis Bencana dan Krisis (JBK) Ahmad Arif mengkritik data perkembangan penderita Covid-19 di Tanah Air yang tidak disampaikan secara terbuka oleh pemerintah. Hal tersebut dilontarkannya langsung melalui Zoom Meeting dalam sesi wawancara pribadi dengan reporter Kognisia pada Sabtu (30/1).

“Kami khawatir mengenai transparansi informasi data Covid-19, termasuk data kematian yang tidak tersampaikan dengan baik kepada masyarakat,” tuturnya. 

Rasa kecemasan ini mendorong Arif dan beberapa temannya dari tokoh Civil Society Organization (CSO), ahli teknologi informasi, praktisi kesehatan masyarakat, hingga kawan se-profesinya untuk membentuk sebuah Koalisi Warga untuk Covid-19. Sebagai layanan masyarakat, mereka meluncurkan platform bernama Lapor Covid-19 dengan menggunakan aplikasi WhatsApp dan Telegram. Sedangkan website resminya laporcovid19.org

“Terbentuknya antara Februari dan Maret lah. Tujuannya sebagai pembanding dengan data yang disampaikan pemerintah. Selain itu juga bentuk edukasi data Covid yang sebenarnya. Bahkan ada juga kelas Zoom lalu dipublikasi melalui media sosial,” ujar Arif.

Lantas bagaimana dengan akurasi data yang Lapor Covid-19 suguhkan ke masyarakat?

Arif, satu inisiatornya ini menjawab basis data terdapat dua macam, yaitu primer dan sekunder. Data primer didapatkan langsung dari masyarakat melalui WhatsApp Bot dan Telegram Bot. Sedangkan data sekunder didapat langsung dari pemerintah pusat dan daerah.

“Kami menyampaikan data menyeluruhnya di setiap kota seperti apa. Dan kami melihat data di pemerintah daerah dan pemerintah pusat melalui Kemenkes itu ada selisih data yang cukup signifikan. Itu kan menunjukkan konsekuensi yang berbeda,” ujarnya dengan tegas.

Tak lupa, ia juga menambahkan bahwa Kementerian Kesehatan juga tidak menyampaikan data secara real sesuai panduan WHO sejak Bulan April. Misal; orang dikatakan meninggal karena Covid setelah terkonfirmasi melalui tes PCR tidak dicatat rinci. Selain itu meninggal dalam konfirmasi suspect, prondible covid, dan diagnosis klinis juga tidak tercatat jelas.

“Kan itu semua juga harus dicatat. Tapi Kemenkes tidak melaporkan itu. Padahal jumlah kematian sudah dua kali lipat hasilnya. Jadi kan masyarakat tidak mengetahui informasi jauh lebih besar karena berita yang disebarkan underreport jauh kecil dari yang sesungguhnya,” jelasnya dengan nada sedikit kesal. 

Arif juga beranggapan transparansi data akan mempengaruhi resiko persepsi masyarakat terhadap virus mematikan ini. Sehingga tidak heran jika perilaku masyarakat cenderung abai akan protokol kesehatan dan tidak menyadari dampak virus ini sebenarnya, “Kami (Lapor Covid-19) berupaya untuk sebaliknya dengan terus menginformasikan data secara real. Jadi kami berharap juga masyarakat bisa disiplin akan prokes,” harapnya.

Selain itu, melalui WhatsApp Bot dan Telegram Bot, setiap warga dari berbagai kalangan dan latar belakang diperbolehkan memberikan informasi mengenai semua hal tentang Covid-19. Informasi warga dapat berupa cerita, foto, video, dan lainnya. Selain berbagi informasi, warga juga bisa mengajukan pertanyaan. 

Lantas dalam praktiknya, Lapor Covid-19 menjadi platform informasi yang melibatkan warga dalam menyampaikan dan menerima informasi. Keterlibatan warga dalam hal ini dilakukan dengan cara jurnalisme warga atau Citizen Journalism karena menurut Arif, warga sendiri yang mengetahui bagaimana kondisi yang ada disekitar lingkungan mereka, juga ihwal tersebut bisa menjadi aspek penting yang menguatkan data sekunder Lapor Covid-19.

Bagaimana soal laporan terkait ketersediaan rumah sakit? 

Seperti seorang penyintas Covid-19 di daerah Bantul yang tidak mendapat rumah sakit dan akhirnya meninggal di jalan setelah ditolak beberapa rumah sakit, “Dari data kami sendiri dari masyarakat itu malah melaporkan mereka kekurangan untuk mendapat fasilitas, karena rumah sakit – rumah sakit itu penuh. Datanya itu bergantung dengan bukti atau evidence yang ada yang terjadi di masyarakat itu yang kami tulis.” jelas Arif. 

Dalam menganalisis data, apakah tim mendapati kesulitan yang berarti? 

“Nah untuk kesulitan datanya Sendiri Lebih banyak ke data sekunder ya karena beberapa pemerintah daerah  mengalami atau mendapatkan keseragaman data sekundernya.” ujar Arif. 

Tak lupa ia juga menambahkan ketika mendapati informasi atau laporan dari masyarakat, tim Lapor Covid-19 menindak lanjuti dengan melaporkan hal tersebut ke pemerintah daerah. Laporan-laporan dari masyarakat tersebut akan menjadi data primer Lapor Covid-19 yang mereka kumpulkan dari WA dan Telegram bot. Jenis laporan yang mereka dapati juga beragam, mulai dari masyarakat yang tetap dihimbau masuk kerja disaat PPKM hingga masyarakat yang tidak mendapat rumah sakit karena ICU di rumah sakit untuk penyintas itu sudah penuh.

Apa yang menjadi pembeda antara informasi yang dihimpun LaporCovid-19 dengan platform lainnya?

Menurutnya pembeda Lapor Covid-19 dengan platform lainnya adalah pemberian edukasi dan literasi mengenai Covid-19. Terlebih Lapor Covid-19 juga menyampaikan informasi  kepada penyintas Covid-19, juga tenaga kesehatan yang belum mendapatkan insentif sesuai dengan haknya. Dengan metode Citizen Journalism Lapor Covid-19 bersama masyarakat mengawal, mengontrol kebijakan pemerintah terkait Covid-19.


Citizen Journalism: Praktik jurnalistik yang dilakoni oleh warga, masyarkat

**

Penyunting: Citra Mediant

Reporter: Siti Fauziah, Aurelia T. Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *