International Women’s Day: Perjuangan Perempuan adalah Perjuangan Rakyat Tertindas

Oleh Nadhifah D. O

Jumat (05/03) International Women Day Yogyakarta menghelat Panggung Perempuan Bebas Merdeka yang merupakan satu dari beberapa rangkaian acara menuju perayaan International Women’s Day yang dirayakan pada tanggal 8 Maret di seluruh belahan bumi. Perhelatan tersebut diadakan di Abah Kopi, dimulai sejak pukul 3 sore yang dihadiri sejumlah aktivis perempuan serta elemen mahasiswa se Jogja-Jateng.  

Acara dibuka dengan lantunan musik akustik ‘Biar Ina Tenang’ karya Sombanusa, lagu yang mengisahkan anak bangsa memprotes negara yang tak berpihak pada rakyat dilantunkan dengan bersahaja oleh para pemainnya. Pementasan dilanjutkan oleh Julia selaku penanggung jawab acara yang berorasi menyinggung pemerintah yang menutup mata terhadap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Tak lupa ia juga menjabarkan kelalaian pemerintah dalam menindak kasus kekerasan seksual salah satunya yang terjadi di Wadas, Jawa Barat dimana kekerasan seksual terjadi 2 jam sekali. 

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh Needle N’ Bitch seputar edukasi seksual. Needle N’ Bitch menyampai kan bahwa kekerasan seksual terjadi ketika kekuasaan atas diri sendiri diambil secara paksa oleh orang lain. Tak lupa mereka menyampaikan soal hubungan seksual yang aman ketika kedua belah pihak mengikuti persetujuan yang mereka buat. Saat perempuan mengalami tindakan diluar persetujuan, hal tersebut dapat menimbulkan trauma baik mental maupun fisik.

Lebih lanjut Needle N’ Bitch menerangkan langkah awal yang dapat perempuan terapkan untuk menghindari tindak kekerasan seksual, “Kita (perempuan) harus membangun batasan-batasan terhadap diri sendiri seperti melarang diri sendiri untuk tidak melakukan hal yang tidak kita inginkan. Kedua, harus waspada dimanapun kita berada. Ketiga, jika memang tindak kekerasan sudah terjadi, kita harus punya rencana kedua, hubungi teman atau orang terdekat untuk melindungi kita,” jelasnya.  

Pemerhati penyintas kekerasan seksual pun juga perlu mengetahui adanya prinsip fundamental mengenai kekerasan seksual seperti memastikan keselamatan dan keadaan fisik penyintas, mengerti serta mengikuti kemauan penyintas bilamana ingin melakukan keadilan restoratif. Keadilan restoratif berarti melakukan pendekatan secara baik antara penyintas dengan pelaku dengan diberikan edukasi seksual. Terakhir, pemerhati harus memastikan tidak akan terulang lagi tindak kekerasan yang sama dan tidak menyebarluaskan kasus penyintas.

Antusiasme dari peserta acara pun tak dapat terelakkan, salah satunya ialah Via, mahasiswa Universitas Diponegoro mengaku bahwa Panggung Perempuan Bebas Merdeka menjadi tempat yang tepat untuk berbagi seputar isu feminisme, “Pendekatan dan penyampaian isunya kan lewat seni jadi lebih mudah ditangkap oleh masyarakat umum dan menarik,” ujar Via.

Di penghujung acara, tak lupa Julia menyampaikan gagasan-gagasan yang akan disuarakan pada hari Senin yang bertepatan dengan Hari Perempuan Sedunia, “Kita tidak hanya akan menyerukan isu sektoral seputar perempuan saja. Tidak hanya tentang pengesahan RUU PKS, Undang-Undang Ketenagakerjaan, cuti haid, cuti hamil, buruh perempuan, tidak hanya itu. Kita gaungkan tentang bagaimana perampasan tanah, bagaimana kekerasan militer di Papua!” ucapnya lantang. International Women’s Day 2021 akan dilaksanakan Senin, 8 Maret 2021 pukul 9 pagi di Bundaran UGM sebagai titik kumpul menuju Jalan Gejayan.  


Reporter: Alifa Rismayanti, Nadhifah Dwi. O

Penyunting: Citra Mediant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *