Kendaraan Berbasis Listrik Belum Menjadi Jawaban dari Masalah Polusi Udara

Oleh Yasmine Amalia Rusnandha

Pemerintah Indonesia belakangan ini mendorong penggunaan mobil listrik, hal tersebut diperkuat dengan statement Presiden Joko Widodo yang melarang kendaraan konvensional dengan bahan bakar fosil beredar di ibu kota baru, ia menginginkan ibu kota baru di Kalimantan Timur hanya diisi kendaraan listrik dan otonom. Pernyataan Presiden tersebut diberikan berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jenis kendaraan bermotor di Indonesia telah mencapai 146,8 juta unit pada tahun 2018, di mana 16,4 juta unit merupakan mobil penumpang dan rasio kepemilikan mobil di Indonesia sebesar 99 unit / 1000 penduduk. 

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, telah terjadi kenaikan jumlah kendaraan bermotor yang cukup tinggi khususnya oleh pertambahan sepeda motor, yang  mencapai 30%. Sekitar lebih kurang 70% terdistribusi di daerah perkotaan dan mengakibatkan peningkatan yang signifikan atas konsumsi bahan bakar fosil dan kendaraan bermotor tersebut menjadi donatur pencemaran dari polusi gas buang di Indonesia.

Senada dengan itu, data inventarisasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta, penyumbang polusi udara  di ibukota terdiri atas 75% transportasi darat, 8% industri, 9% pembangkit listrik dan pemanas, dan 8% pembakaran domestik.  Sedangkan menurut data statistik transportasi Jakarta,  kendaraan bermotor yang melewati jalan di ibukota mengalami peningkatan setiap tahun. Kepadatan lalu lintas tersebut menyebabkan meningkatnya pencemaran udara di Jakarta sampai ke tingkat yang membahayakan. Dari data yang tersedia diketahui bahwa hampir 100% gas CO, 90% HC, dan 73,4% NOx yang tersebar di udara Jakarta. Kota Jakarta pun pernah menempati urutan kedua tingkat (level) udara paling berpolusi di dunia menurut situs AirVisual (airvisual.com) pada bulan Agustus 2019. 

Singkatnya Kendaraan Berbasis Listrik (KBL) dapat menjadi solusi dalam memecahkan masalah polusi dari kendaraan berbahan bakar fosil sesuai dengan apa yang dikatakan Jokowi. Pasalnya mobil listrik mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil, salah satunya adalah tidak menghasilkan emisi karbon sehingga tidak berdampak bagi pemanasan global (carbon footprint) di Indonesia. 

Apakah mobil listrik memang sepenuhnya ramah lingkungan? 

Perbedaan utama antara mobil konvensional dan mobil listrik terletak pada proses pengubahan energi potensial menjadi energi kinetik (gerak). Pada mobil konvensional, energi disimpan secara kimiawi dan dilepaskan melalui reaksi kimia di dalam mesin. Sedangkan mobil listrik memiliki energi yang tersimpan secara kimiawi lantas energi kimia itu dilepaskan secara elektrokimia tanpa adanya proses pembakaran apapun. Hal itu disebabkan oleh penggunaan baterai lithium-ion

Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan mobil listrik menjadi kendaraan ramah lingkungan seperti apa yang kita ekspektasikan, karena sumber energi untuk mengisi daya pada baterai mobil listrik masih menggunakan sumber listrik dengan pembakaran bahan bakar fosil atau energi kotor. Penggunaan mobil listrik hanya mengurangi polusi udara saat kendaraan itu dikendarai, tetapi tetap menghasilkan polusi udara di tempat lain. Mau tidak mau, jika ingin mengembangkan kendaraan berbasis listrik penting untuk mengembangkan sumber listrik yang juga ramah lingkungan, misalnya yang bersumber dari panel surya dan fuel cell.

Tak hanya energi kotor dari tenaga fosil yang diubah menjadi listrik untuk mengisi bahan bakar mobil listrik, nikel yang menjadi bahan baku baterai juga sarat akan permasalahan. Pasalnya, pertambangan nikel di Indonesia dikomodifikasi menjadi industri ekstraktif. Menurut laporan tahunan 2020 Jaringan Anti Tambang (Jatam) membeberkan bahwa pulau yang menjadi tempat pertambangan nikel sarat akan konflik yang berpotensi melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), kerusakan  lingkungan. Kerusakan yang ditimbulkan juga sangat beragam, mulai dari hilangnya hutan resapan, limbah yang mencemari aliran sungai hingga ke-laut, juga privatisasi air. 

Selain itu, jika pemerintah kita benar-benar ingin mengembangkan mobil listrik wabil khusus KBL, hendaknya lebih memperhitungkan lagi kebutuhan dan ketersediaan pasokan energi listrik yang ada saat ini. Seperti yang kita tahu bahwa di beberapa daerah di Indonesia masih kekurangan listrik. Sedangkan pasokan listrik di Pulau Jawa dan Bali pun tergolong berlebihan. Menurut Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, Agung Murdifi menjelaskan bahwa banyaknya pembangkit listrik yang baru mulai beroperasi sejak 2017 menyebabkan pasokan listrik membesar,sampai saat ini cadangan daya yang tersimpan telah mencapai 30%. Hal itu berarti pasokan daya yang dimiliki PLN berkapasitas 130% dari kebutuhan. 

Terlebih jika ingin menerapkan penggunaan mobil listrik secara masal pastinya kebutuhan listrik akan meningkat untuk mengisi daya baterainya. Selain itu pemerintah juga perlu mempersiapkan stasiun pengisian listrik umum (SPLU) karena mobil listrik dirancang untuk digunakan dalam jarak tempuh dekat dan waktu yang tidak lama sehingga, jika kita ingin bepergian jauh pastinya membutuhkan banyak SPLU. 

Mobil listrik sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk mengurangi polusi udara. Selain dapat untuk mengurangi polusi dan mendorong orang untuk berpergian tanpa takut untuk mencemari udara, mobil listrik juga dapat menghindarkan kita dari krisis energi akibat ketergantungan dari pola konsumsi bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Namun, energi listrik untuk mengisi dayanya haruslah didapatkan dari sumber yang ramah lingkungan juga. 

Melihat kondisi Indonesia saat ini, nampaknya dalam waktu dekat kita masih belum bisa menjadikan mobil listrik sebagai jawaban atas masalah polusi yang ada. Banyak elemen-elemen yang harus kita kembangkan terlebih dahulu untuk membuat mobil listrik ini ramah lingkungan seperti yang kita harapkan.


Penyunting: CitraMediant

**

Rujukan Pustaka :

  1. Aziz, Mochammad dkk. (2020). “Studi Analisis Perkembangan Teknologi dan Dukungan Pemerintah Indonesia Terkait Mobil Listrik” dalam TESLA Jurnal Teknik Elektro Volume 22. Bekasi: President University. Diambil dari https://media.neliti.com/media/publications/317709-studi-analisis-perkembangan-teknologi-da-7f3ff665.pd
  2. CNN Indonesia. (2020). Arahan Jokowi, Ibu Kota Baru Eksklusif Mobil Listrik-Otonom. Dalam CNN Indonesia. Diambil dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200116181124-384-466028/arahan-jokowi-ibu-kota-baru-eksklusif-mobil-listrik-otonom
  3. Pyakurel, Parakram.  (2019). Electric Cars Won’t Save The Planet Without A Clean Energy Overhaul – They Could Increase Pollution. Dalam The Conversation. Diambil dari https://theconversation.com/electric-cars-wont-save-the-planet-without-a-clean-energy-overhaul-they-could-increase-pollution-118012
  4. Subekti, Ridwan Arief dkk. (2014). Peluang dan Tantangan Pengembangan Mobil Listrik Nasional. Jakarta: LIPI Press. Diambil dari http://www.penerbit.lipi.go.id/data/naskah1424760996.pdf
  5. Wulandari, Rina. (2020). Mobil Listrik Transportasi Masa Depan, Apakah Ada Dampak Bagi Lingkungan?. Dalam Mongabay.co.id. Diambil dari https://www.mongabay.co.id/2020/11/22/mobil-listrik-transportasi-masa-depan-apakah-ada-dampak-bagi-lingkungan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *