Melepas Jenazah Artidjo Menuju Peristirahatan Terakhir: Selamat Jalan Hakim Agung!

Foto & Narasi Citra Mediant

Gerbang masuk Universitas Islam Indonesia (UII) terbuka lebar (01/03) tak seperti biasanya. Berbagai kendaraan bermotor hilir-mudik, keluar dan masuk sejak subuh. Auditorium Kahar Muzakir yang sudah berbulan-bulan tidak menyelenggarakan kegiatan akhirnya kembali dibuka untuk memberikan penghormatan terakhir dan melepas jenazah Artidjo Alkostar, mantan direktur LBH Yogyakarta (1983 – 1983), Hakim Agung Republik Indonesia (2000 – 2018), dan Anggota Dewan Pengawas KPK (2019-2023) yang mangkat sehari sebelumnya (28/03) diduga akibat penyakit jantung dan paru-paru yang diidapnya.  

Petugas kebersihan auditorium Kahar Muzakir sudah mempersiapkan kebutuhan acara sehari sebelum jenazah tiba di Yogyakarta. Ipung salah satunya, ia dan teman-temannya sejak ahad sore sudah mulai membersihkan auditorium dan menata kursi dengan jarak satu meter mereka guna menyesuaikan protokol kesehatan pandemi covid-19.

“Dari kemarin kita udah mulai persiapan, bersih-bersih sama rapiin kursi tadi pagi sekitar jam 05:30. Kalau tenda sama sound system itu udah ada dari kemarin juga,” imbuh Ipung. 

Tak hanya petugas kebersihan, Satuan Pengamanan (Satpam) UII juga silih berganti berjaga di pintu masuk membantu beberapa pegawai lain untuk mengecek suhu tubuh pelayat dan mengingatkan untuk mematuhi protokol kesehatan. Lengkap dengan thermogun, masker dan sarung tangan.

Serupa dengan petugas kebersihan, mereka sudah memasang kuda-kuda sejak ahad guna memastikan acara pelepasan jenazah berjalan dengan lancar. Salah satu satpam yang sudah lebih dua puluh tahun bekerja di UII menyempatkan waktu untuk berdialog sembari merenggangkan otot-ototnya. “Wah udah dari malam mas, banyak orang rektorat juga,” ujarnya sembari tersenyum di balik masker.

Saat berdialog, ia menceritakan pengalamannya bekerja di UII wabil khusus saat ia ditempatkan selama tujuh tahun di Fakultas Hukum (FH) tempat dimana  Alm. Artidjo belajar dan mengabdikan diri pada keilmuan. Menurutnya, Artidjo adalah orang yang sederhana, ramah dan bersahaja.

“Dia itu sederhana sekali, ndak pernah pakai mobil mewah. “ Sembari menyimpulkan senyum. 

**

Silih berganti pelayat datang melakukan salat jenazah juga memberikan penghormatan terakhir untuk Artidjo yang dimakamkan di kompleks pemakaman UII, berpakaian serba hitam, dan datang dari pelbagai kalangan, mulai dari kolega, mahasiswa hingga pejabat pemerintahan.

Peti jenazah diiringi pelayat, terlintas karangan bunga.

Sekiranya pukul sepuluh pagi menjelang siang,  acara pelepasan jenazah dimulai dengan sambutan-sambutan dari berbagai pihak, mulai dari Dekan Fakultas Hukum UII tempat dimana Artidjo mengabdi, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni (DPP IKA) UII, Rektor, Pimpinan KPK, Dewan Pengawas KPK hingga Pimpinan Yayasan Badan Wakaf UII yang sekaligus melepas jenazah.

Riuh gemuruh mulai terjadi saat jenazah Artidjo dibopong Satpam UII dan beberapa anggota TNI menuju kompleks pemakaman UII. Saat keluar dari pintu auditorium, pelayat berjalan serempak mengiringi jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir. Lantas setibanya di kompleks pemakaman, suasana semakin sesak sebab pelayat tak bisa menahan haru dan melihat jenazah masuk ke liang kubur dan diakhiri dengan membacakan do’a.

Haru keluarga pecah di atas tanah.

Acara selesai sekitar pukul dua belas siang, saat matahari berada tepat di atas kepala. Petugas penggali kubur yang sedari subuh sudah menggali liang lahat mulai menutup liang dengan tanah bekas galian dan memasang nisan sederhana berbentuk persegi panjang. Setelah pekerja selesai, silih berganti pelayat menekuk lutut dan memanjatkan doa untuk almarhum Artidjo.


Penyunting: Rayhana A. Amalia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *