Menyambangi Maria yang Sesak dan Perjalanan Menembus Waktu

Oleh Citra Mediant

Selasa (23/02) seperti siang pada umumnya, jalanan di Yogyakarta dipadati kendaraan bermotor yang setiap detiknya melepas gas karbon hasil pembakaran bahan bakar minyak melalui saluran pembuangan, jamaknya asap knalpot. Saya juga menjadi bagian dari mereka, membenamkan tuas gas motor matic melaju antar kota dalam provinsi melintasi Sleman – Madya Yogyakarta sampai ke Tirtodipuran link setelah sehari sebelumnya melakukan registrasi agar bisa menyambangi galeri. Hal itu diwajibkan sebab beberapa hari setelah pameran dibuka, pengunjung mencapai titik high traffic visitor padahal masih pandemi. 

Siang itu saya tidak berlama-lama di galeri karena makin sore makin ramai, saya menyempatkan untuk mengabadikan beberapa momen di lantai satu dimana lukisan The Wanderlust karya Galih Reza S bersemayam dan berhasil membuat saya kebingungan.

Setelah mengitari lantai satu dengan seksama, lantai dua menjadi tujuan berikutnya. Lucid Fragment mengokupasi seluruh ruang di lantai dua yang terbagi di lima ruangan berbeda. Melalui Lucid Fragment sekiranya Roby mencoba untuk menyuguhkan sebuah perjalanan yang dirangkum dalam beberapa sesi. Mulai dari sosok perempuan dengan warna hitam berlatar putih sampai kelahiran. Tak hanya itu, Lucid Fragments juga menjadi ajang perjalanan mengitari masa lalu dari seorang anak. Uniknya lagi, anak yang dilahirkan Roby itu dapat berubah karakternya mengikuti situasi dan kondisinya, sewaktu-waktu. 

Kembali Menyapa Maria

Setelah kedatangan pertama ke  Tirtodipuran Link, Maria membawa saya kembali ke Galeri untuk menemui Galih (27/03), seniman yang melahirkan serial lukisan The Wanderlust, Galih. Ia memberi sambutan hangat sembari berkata, “Seniman sudah mati ketika karyanya dilahirkan, karena seni itu bebas nilai dan setiap orang bebas menginterpretasikannya.” 

Walau begitu Galih tetap meladeni pertanyaan tentang lukisan yang memadukan akrilik dan tanah liat lalu dibalut pancarona cat yang sejatinya menyiratkan pesan di setiap fragmen dalam Lukisan Galih, diantaranya Perayaan Kemanusiaan Tanpa Manusia dan Mengejar Biofilia begitu menarik perhatian dan menyimpan banyak pesan. 

Serupa dengan judulnya, Perayaan Kemanusiaan Tanpa Manusia sama sekali tak memperlihatkan manusia. Hanya partikel sel-sel renik, sel darah juga butiran-butiran kecil yang bisa saja dianggap atom. Mulanya saya memikirkan beberapa hal saat memperhatikan lukisan satu itu. Pertama ialah sebuah satire yang dimuat ke dalam karya. Kedua lukisan itu mempertunjukkan kemarahan, juga penyadaran bagi mereka yang menikmati lukisan tersebut.

Mencuat sebuah pertanyaan: Bagaimana bisa merayakan kemanusiaan tanpa manusia? “Sejatinya manusia dan alam itu adalah satu, saling bersinergi. Lantas manusia jangan serta-merta merasa lebih berkuasa daripada alam dan merusak alam dengan kepintaran,” jawab Galih dengan cermat.

Setelah saya amati kembali lukisan itu dan membaca tulisan di katalog elektronik wanderlust, saya dibawa bertamasya nun jauh bersama imajinasi saya dan menyadari bahwa sebenarnya manusia sendiri yang menyebabkan kesengsaraan di atas muka bumi, lantas mempercepat kehancurannya. 

Bergeser sedikit ke ruangan sebelah, guna mengejar biofilia. Maria bertengger di antara tumpukan tumbuhan hidroponik, bunga-bunga yang saling berdesakan tetapi ditata sedemikian rupa. Seolah menceritakan pelarian kaum urban yang meminimalisir mobilitas di luar rumah lalu melampiaskannya dengan berkebun menggunakan metode hidroponik dan merawat tanaman hias. 

Jika dilihat dari sisi sebaliknya sembari mengingat tulisan di katalog elektronik wanderlust, tanaman hias itu sejatinya hanya pemuas hasrat manusia belaka, sebab tanaman itu seharusnya dibiarkan tumbuh liar di dalam hutan. Namun apa daya, pun hutan sudah semakin tergerus. Lantas hasrat itu dipenuhi, semua kebiasaan itu berbuah candu yang sejatinya telah melukai Maria, sang Ibu Bumi.

“Maria tanpa wujud merupakan seorang Ibu, menggambarkan Ibu Bumi,” ujar Galih, tegas. 

Tak hanya menyoal siratan pesan dari setiap guratan akrilik dan tanah liat di dalam The Wanderlust. Perspektif Galih saat mengandung Dwelling in The Sky yang menyibak mata seolah melihat sebuah kota dari jendela pesawat, pancaran rona hijau seakan kota itu  dipenuhi hutan hujan, pohon rindang. Namun ketika dilihat lebih dekat, hijaunya itu merupakan hutan beton atau pohon buatan.

 “Dwelling in The Sky adalah gambaran saat kita naik pesawat dan melihat ke bawah, ke perkotaan yang hijau, ternyata hijaunya bukan pepohonan,” ujar Galih. Hal itu menyamai suasana kota metropolitan yang memberikan sedikit ruang terbuka hijau, lukisan berukuran 200 x 160 cm itu juga menyuguhkan hal yang sama. Menggambarkan kota yang berkembang pesat tanpa menghiraukan ekologi yang berkelanjutan. 

Akulah tanah, akulah langit, akulah samudera, akulah ibumu – Akulah Ibumu, Fstvslt. 

**

Sore itu saya juga berdialog dengan Rere, ia mendapat mendapat giliran ‘jaga’ di lantai satu, tempat dimana wanderlust dipajang. Sebelum berdialog, pengunjung hilir mudik keluar-masuk ke dalam galeri dan membuat Rere awas memperhatikan mereka karena ia mendapati beberapa pengunjung yang tidak mematuhi aturan dasar saat mengunjungi pameran.  “Yaaa biasanya kalau jaga, pengunjung udah paham sama hal-hal mendasar saat ke pameran. Mungkin karena banyak orang baru kali ya,” ujar Rere, sembari menarik napas. 

Seraya mempersilahkan duduk, Rere tetap awas terhadap pengunjung dan memberitahu pameran kedua ada di lantai dua Galeri. Lebih dari tiga kali sekiranya ia menegur pengunjung yang melewati garis batas dan mendekat ke karya, mengingatkan untuk tidak mengaktifkan lampu kilat saat berswafoto.

Sedikit banyaknya apa yang dikatakan Rere diamini oleh salah satu pengunjung yang kami wawancarai secara terpisah. Diaz namanya, ia mengetahui pameran diselenggarakan di Tirtodipuran Link melalui sosial media tik-tok. Ia memutuskan untuk menyambangi galeri sebab teman karibnya mengajak dengan sungguh, selain ia memang senang dengan perhelatan namun hanya sekadar, karena ada maksud lain dibalik itu karena yang menjadi tujuan utamanya adalah berswafoto. “Dari rumah tu udah mikirin bakal foto dimana, terus angle nya kaya gimana sampai hasilnya kaya gimana tu udah tau dari review yang ada di sosial media,” ujar Diaz (08/03).



Lain Diaz lain pula Lu’lu yang kami wawancarai secara terpisah pula. Ia yang menggemari pementasan seni sejak sekolah menengah memang sengaja merencanakan untuk menyambangi Tirtodipuran Link dengan teman sejawatnya. Sebab, menyambangi pameran bak refresh menurutnya, “Lukisan atau apapun yang ada di pameran termasuk tema-tema yang diangkat itu kaya pelepas penat,” ungkap Lu’lu (09/03).

Tak hanya itu, Lu’lu juga mengatakan bahwa pameran itu menjelma bak surga setelah sekian lama di rumah saja. Meski saat menyambangi galeri situasinya sangat padat, “Waktu itu padet banget cuman aku kaya mendapatkan diri ku sendiri waktu kecil cuman dilukis orang lain” ujarnya seraya menutup pembicaraan. 

 

 


Penyunting: Rayhana Arfa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *