Pandemi dan Lika-liku Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh Lani Diana P.

Universitas Islam Indonesia (UII) menyusun serangkaian upaya dalam bentuk Panduan Mitigasi dan Tatanan Baru Universitas Islam Indonesia Merespons Pandemi Covid-19 sebagai pedoman dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19. Dalam sub bab 7.7 tentang Pembelajaran, pembimbingan, dan ujian dijelaskan bahwa dalam pembelajaran beberapa pergeseran besar akan terjadi, salah satunya adalah metode pembelajaran yang lebih berpusat kepada mahasiswa, menekankan kemandirian mahasiswa dalam belajar. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Rektor UII dalam Surat Edarannya yang mementingkan kualitas pembelajaran sekaligus kepedulian terhadap mahasiswa selama kuliah daring. 

Meminta kepada semua dosen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan sekaligus kepedulian dengan mempertimbangkan masalah yang mungkin muncul karena pembelajaran daring, termasuk distres mahasiswa yang kewalahan dengan tugas dari semua mata kuliah yang diambil dan kualitas koneksi internet di tempat domisili mahasiswa yang tidak mendukung.’ Jauh panggang dari api, PJJ dalam implementasinya tetap tidak terlepas dari beragam masalah-kompleks-tentunya. 

Menanggapi hal tersebut kami menyebar daftar pertanyaan secara daring terkait pengalaman mahasiswa Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) selama PJJ. Sebanyak 135 mahasiswa dari empat jurusan di FPSB Merespon daftar pertanyaan tersebut. Berdasarkan jawaban yang kami terima, terdapat empat permasalahan krusial yang dialami oleh mahasiswa FPSB selama PJJ dilaksanakan yaitu; metode pembelajaran, beban tugas, koneksi internet dan ketersediaan kuota hingga proses pelaksanaan praktikum. 

Bagaimana soal metode pembelajaran?

‘Sebagai pendidik, sejatinya dosen memegang  peran  yang  penting dalam  keberlangsungan  pembelajaran  daring  yang mana  ditempatkan  sebagai  subjek  yang  harus melakukan  proses   transfer ilmu kepada para peserta didik atau mahasiswa.’ (Herdiana, 2020). 

Pemahaman Materi

Berdasarkan dari 135 responden yang berpartisipasi dalam survei kami, 35% diantaranya menyatakan bahwa merasa kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. 15,6% diantaranya merasa sangat mengalami kesulitan, sedangkan 31,9% mahasiswa menyatakan terkadang mengalami kesulitan dan sisanya tidak mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. Kesulitan dalam memahami materi ini terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah metode pembelajaran.

Sejatinya selama proses PJJ, dosen memiliki wewenang untuk menentukan model pembelajaran berbasis teknologi informasi, seperti apa yang hendak digunakan selama PJJ berjalan. Hal ini dilakukan tentu dengan harapan mahasiswa akan mampu memahami materi perkuliahan dan mencapai target pembelajaran. Namun pada kenyataannya, hal itu masih sulit tercapai ketika model yang digunakan terbatas pada format tertentu dan kurang memperhatikan dampak keefektifannya pada pemahaman mahasiswa. 

Selama pembelajaran daring, mahasiswa merasa format penyampaian materi tidaklah efektif seperti saat materi disampaikan dengan audio/video tetapi tidak didampingi dengan penjelasan lebih lanjut. Seperti yang disampaikan oleh Alfito Yoga, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2020, pembawaan materi asinkron yang hanya dengan membaca Power Point atau Word membuat malas dan juga tidak efektif. Senada dengan itu, Atika mahasiswa Psikologi 2019 juga mengeluhkan sulitnya memahami materi dari dosen yang menggunakan grup obrolan Whatsapp sebagai medium, menurutnya ihwal  ini dikarenakan format yang terbatas pada pesan teks, mahasiswa hanya membaca teks atau voice note yang tidak jarang membosankan dan memakan waktu untuk memahami isi teks tersebut. Mahasiswa juga kerap merasakan hilangnya partisipasi dosen saat proses PJJ seperti saat diskusi melalui grup obrolan Whatsapp dan presentasi kelompok, menyebabkan pemahaman akan materi yang kurang efektif.

Apa yang dikeluhkan oleh Atika diamini oleh Willy Prasetya, dosen jurusan Pendidikan Bahasa Inggris karena tidak semua dosen bisa menciptakan ekosistem yang baik dalam proses perkuliahan yang ditandai dari ketidakmampuan dosen untuk hadir memberikan dukungan dan timbal balik selama pembelajaran jarak jauh. Di sisi lain ia juga menyatakan bahwa perkuliahan jarak jauh tidak akan menjadi sulit jika dosen bisa berkompromi dan memainkan peran sebagai fasilitator yang menjembatani mahasiswa untuk memahami materi untuk mengasah nalar kritis mahasiswa. 

“Karena kalau cuman memberi materi lalu menumpuk deadline tugas, mahasiswa enggak dapet learning experiencesnya” ujar Willy (6/11).

Setali tiga uang dengan ungkapan Willy, sejatinya kepemimpinan akademis yang kuat, kehadiran dosen dan kebijakan yang fleksibel adalah hal yang terpenting selama PJJ saat pandemi COVID-19 (Christoper, Tantillo, & Watson, 2020). Hal ini dapat menjadi pengingat bahwa di saat krisis, menawarkan alternatif dengan mengutamakan kenyamanan harus menjadi prioritas baik bagi dosen maupun mahasiswa, dan ini harus menjadi inti dari setiap dinamika pengajaran dan pembelajaran (Oyedotun, 2020).

Apakah tumpukan tugas dapat membantu mahasiswa memahami materi kuliah selama PJJ?

Tugas yang sudah menjadi makanan sehari-hari mahasiswa selama PJJ juga salah satu cara bagi dosen untuk membantu mahasiswa mendalami materi pembelajaran terlebih saat PJJ ini nyatanya menurut mahasiswa hal tersebut sangat kontradiktif. Kuantitas tugas yang banyak dengan tenggat waktu singkat membuat mahasiswa kewalahan dan tidak memiliki waktu mempelajari materi yang diberikan dan justru lebih fokus pada mengejar deadline ketimbang konteks pembelajaran. 

Tumpukan Tugas

Berdasarkan hasil sebaran daftar pertanyaan kami, setidaknya 25,2% mahasiswa merasa pemberian tugas efektif dalam membantu memahami materi pembelajaran, 4,4% merasa sangat efektif. Sedangkan sisanya, 43,7% mahasiswa merasa terkadang pemberian tugas efektif, 17,8% merasa tidak efektif dan 8,9% merasa sangat tidak efektif. Akan tetapi grafik tersebut berseberangan dengan komentar yang ada pada kolom isian survei.

Andistya, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris 2017 misalnya, ia mengatakan bahwa semenjak PJJ diberlakukan, banyak dosen yang mengaplikasikan pembelajaran melalui tugas. Padahal ada banyak materi yang perlu dikuasai. Pemberian tugas yang terus menerus mengakibatkan Andistya tidak memiliki waktu yang maksimal untuk menguasai materi. Senada dengan itu, Adinda mahasiswi jurusan Psikologi 2018 mengatakan bahwa materi pembelajaran kurang dapat dipahami karena tumpukan tugas yang memakan banyak waktu lantas tak cukup waktu untuk menilik kembali materi pembelajaran.

Emi Zulaifah, Wakil Dekan FPSB UII menanggapi hal tersebut  dengan mengatakan bahwa tugas merupakan konsekuensi yang harus diterima karena semakin banyak SKS yang diambil maka semakin banyak pula tugasnya. Namun Emi menyayangkan ketika dosen hanya menumpuk kuantitas tugas tanpa mempertimbangkan kualitasnya.

 “Ya seharusnya menimbang itu tadi (beban pemberian tugas), dengan memberi ekstensi waktu, ya. Ini seharusnya jangan dibanjiri tugas, secukupnya, seperlunya, seharusnya” imbuh Emi . 

Mengingat pandemi saat ini, bentuk penilaian alternatif harus dipertimbangkan dan diterima karena manfaat nyata dan hasil positifnya (Oyedotun, 2020). 

Pelaksanaan Praktikum Selama PJJ

Praktikum Jarak Jauh

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 34,8% mahasiswa merasa bahwa selama PJJ praktikum berjalan cukup maksimal. 29,6% merasa bahwa praktikum berjalan sangat tidak maksimal, 18,5% merasa tidak maksimal. Sedangkan hanya 13,3% yang merasa praktikum terlaksana secara maksimal dan 3,7% sangat maksimal. Hal ini dapat dipahami karena selama pembelajaran daring mahasiswa kehilangan pengalaman belajar terlebih untuk menggunakan alat-alat praktikum yang dibutuhkan pada kompetensi tertentu. Namun yang menjadi dikeluhkan oleh mahasiswa adalah kegiatan praktikum yang kurang fleksibel dan tidak melihat kondisi objektif di lapangan serta bentuk praktikum secara individu atau kelompok dan ketentuan lainnya. 

Menurut Regina mahasiswi Psikologi 2019, praktikum dilakukan secara daring dengan objek yang sebaiknya tidak ditentukan/ objek yang ada di dekat lingkungan mahasiswa tersebut saja. Hal lain seperti format pemberian materi dan instruksi yang kurang efektif juga menjadi kendala dalam praktikum daring. Maharani mahasiswi Psikologi 2018 juga mengatakan bahwa praktikum daring ini tetap terasa kurang maksimal karena sulit untuk melihat secara fisik bagaimana dan apa saja yang perlu dilakukan dalam praktikum. Hal ini juga disebabkan karena adanya kode etik yang perlu dijaga agar tidak menyebarkan privasi melalui jejaring internet. Dalam hal ini mayoritas mahasiswa menyatakan bahwa praktikum secara luring dengan memperhatikan protokol sangat diharapkan.

Koneksi Internet dan Ketersediaan Kuota

Pengaruh Koneksi Internet

Koneksi internet tentu menjadi hal yang sangat krusial selama PJJ. Menurut Zubaidah, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2018 bahwa koneksi internet sangat berpengaruh dalam PJJ, seperti ketika dilaksanakan kuliah secara sinkron melalui video conference zoom atau google meet. Ketika kuliah dilaksanakan secara sinkron menggunakan video conference, penyampaian materinya terkadang tidak dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa akibat koneksi internet yang buruk yang menyebabkan audionya terputus-putus. Terlebih saat Ujian Tengan  Semester atau Ujian Akhir Semester, kalau koneksi internetnya sedang tidak stabil akan menghambat pengumpulan tugasnya. 

Selain itu, ketersediaan kuota internet juga menjadi kendala selama PJJ guna mengakses kelas baik itu sinkron maupun asinkron mahasiswa membutuhkan banyak kuota internet. UII merespon hal tersebut dengan memberikan subsidi kuota kepada mahasiswa. Namun, pada kenyataannya menurut survei yang dilakukan, mayoritas mahasiswa sebanyak 25,2% mengatakan bantuan yang diberikan tidaklah efektif dan 18,5% mengatakan sangat tidak efektif. Hanya 18,5% mahasiswa yang merasa bantuan kuota internet kampus efektif dan 14,8% yang merasa sangat efektif untuk menangani permasalahan sumber daya ini. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses kuota kampus yang hanya bisa digunakan pada aplikasi tertentu.

Di sisi lain Ahmad Adnan, mahasiswa PBI 2018 menuturkan bahwa tidak jarang pemberian materi dilakukan melalui kanal Youtube atau platform yang aksesnya tidak dapat difasilitasi oleh kuota subsidi tersebut. Alhasil saat pembelajaran, mahasiswa tetap harus menggunakan kuota pribadi untuk mengakses materi tersebut.

**

Penyunting: Rayhana Arfa Amalia

Grafis: Dimas Surya

**

Rujukan:

Christoper, R., Tantillo, L. D., & Watson, J. (2020). Academic caring pedagogy, presence,
and Communitas in nursing education during the COVID-19 pandemic. Academic Caring
Pedagogy, Presence, and Communitas in Nursing Education during the COVID-19
Pandemic. Retrieved November 20, 2020, from
https://www.nursingoutlook.org/article/S0029-6554(20)30620-5/fulltext

Herdiana, D. (2020). Inovasi Pembelajaran Daring Bagi Mahasiswa Kelas Karyawan di Masa Pandemi Covid-19. Inovasi Pembelajaran Daring Bagi Mahasiswa Kelas Karyawan Di Masa Pandemi Covid-19. Retrieved November 20, 2020, from https://www.researchgate.net/publication/344404341_Inovasi_Pembelajaran_Daring_Bagi_Mahasiswa_Kelas_Karyawan_di_Masa_Pandemi_COVID-19

Oyedotun, T. D. (2020). Sudden change of pedagogy in education driven by COVID-19: Perspectives and evaluation from a developing country. Sudden Change of Pedagogy in Education Driven by COVID-19: Perspectives and Evaluation from a Developing Country. Retrieved November 20, 2020, from https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2590051X20300186?via%3Dihub

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *