Limbah Medis Mengancam Laut Kita

Oleh Arie Muzayyin

Sampah selalu menjadi isu yang hangat ketika membicarakan lingkungan, umumnya limbah plastik yang jadi sorotan utama ketika isu pencemaran lingkungan mengudara karena penggunaan sampah plastik yang berlebihan serta perilaku yang buruk dalam mengolahnya. Hal itu menjadi salah satu penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan, para ilmuwan berpendapat bahwa lautan menjadi lingkungan yang paling terdampak, dikarenakan banyaknya limbah yang terdampar di sana. Sebuah studi baru-baru ini mengindikasikan tiap tahunnya 8 (Delapan) juta ton sampah plastik dibuang ke-lautan yang memiliki potensi membahayakan ekosistem laut dan menyebabkan perubahan iklim (IUCN). 

Diantara delapan juta ton sampah itu ada sekitar 10% yang berasal dari limbah medis atau biasa disebut sebagai medical waste. Mungkin banyak dari kita yang tidak memikirkan tentang potensi bahaya sampah medis karena kita berspekulasi bahwa sampah medis pastinya sudah memiliki prosedur atau standar tersendiri dalam pembuangannya. Namun, limbah medis ternyata juga berkontribusi dalam pencemaran laut. 

Lantas, mengapa limbah medis menjadi berbahaya?

Sama halnya dengan limbah lainnya (limbah industri, limbah rumah tangga, dll) limbah medis juga mengandung material berbahaya dan sulit untuk diurai, diantara zat berbahaya itu adalah furans dan dioxins yang mengancam udara, logam berat seperti merkuri dan kadmium, dan bahkan radioactive yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup. Karenanya, limbah medis dikategorikan sebagai limbah beracun (hazardous waste) karena kandungan zat kimia yang memiliki potensi berbahaya seperti infeksi, kontaminasi dan radiasi. 

Menurut Medical Waste Tracking Act, limbah medis adalah material (padat maupun cair) yang dibuat dengan mendiagnosis, merawat, atau mengimunisasi orang atau hewan. Produk penelitian dan pengujian produk biologis juga termasuk dalam limbah medis. Contoh limbah medis yang sering ditemukan adalah jarum suntik, masker, sarung tangan, kantong darah, cairan kimia, obat-obatan dan berbagai suplai medis lain. 

Sejatinya, WHO melarang keras limbah medis untuk dibuang ke lingkungan karena dikhawatirkan memiliki potensi menularkan penyakit, sehingga regulasi pembuangannya harus diperhatikan oleh lembaga kesehatan. Ironisnya, yang menjadi penyumbang utama dari limbah tersebut adalah fasilitas medis itu sendiri seperti rumah sakit, laboratorium, dan klinik. WHO berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran tentang bahaya kesehatan yang terkait dengan limbah layanan kesehatan, pelatihan yang tidak memadai dalam pengelolaan limbah yang tepat, tidak adanya sistem pengelolaan dan pembuangan limbah, sumber daya keuangan dan manusia yang tidak mencukupi, dan rendahnya prioritas yang diberikan pada bahasan tersebut adalah masalah yang paling umum terkait dengan limbah kesehatan. 

Ditambah pula dengan banyak negara tidak memiliki peraturan yang sesuai, atau tidak menegakan regulasi yang sudah ada secara optimal. Merujuk dari Healthcare without Harm (HCWC) dan Global Green and Healthy Hospitals (GGHH), manajemen limbah medis yang tepat haruslah diimplementasikan dikala situasi genting saat ini. Hal yang perlu diperhatikan adalah pentingnya insinerator sebagai tempat utama dalam membakar limbah medis. Selain itu, HCWC dan GGHH juga merekomendasikan autoklaf sebagai alat lain untuk menunjang penguraian limbah medis. Namun, semua ini hanyalah wacana semata yang belum bisa direalisasikan secara optimal oleh banyak negara karena minimnya informasi yang tepat terkait masalah ini. Ditambah lagi situasi pandemi yang akhirnya membuat masyarakat panik dan tidak memperdulikan hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas. Ketidakpedulian dan ketidaktahuan ini akhirnya membawa pada satu ‘solusi’ praktis dalam membuang limbah, yaitu secara sembarang membuang ke sungai dan kemudian berakhir di laut. 

Menurut WHO (2018) di seluruh dunia diperkirakan 16 miliar suntikan diberikan setiap tahun. Tetapi tidak semua jarum suntik dibuang dengan aman, sehingga menimbulkan resiko kontaminasi dan infeksi. Kemana perginya jarum suntik itu? Ada kemungkinan bahwa jarum suntik itu terdampar di laut. WHO memaparkan berbagai ancaman dan dampak dari pembuangan limbah medis secara sembarang ini, terutama pada ekosistem laut diantaranya: kontaminasi biota laut yang menjadi sumber makanan manusia, terancamnya ekosistem laut akibat radiasi atau zat kimia berbahaya, dan material beracun yang dapat mencemari siklus lingkungan. 

Ancaman limbah medis ini kian bertambah dengan hadirnya situasi pandemi covid-19 yang saat ini melanda dunia dan memungkinkan adanya pertambahan limbah medis di lautan semakin tinggi karena diimbangi dengan pemakaiannya yang masif. Sedangkan pada 2020 WHO memperkirakan setidaknya dibutuhkan 89 juta masker medis plastik dan 1,6 juta kacamata pelindung setiap bulannya yang terbuat dari polipropilen dan mungkin membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk terurai sempurna. 

Tentu saja hal ini menambah resiko pencemaran lingkungan yang lebih buruk dan juga ancaman terhadap biota laut serta ekosistem bumi secara keseluruhan di masa mendatang. Mungkin angka dan ancaman ini masih sulit untuk dibayangkan, tetapi menurut studi terbaru menunjukan adanya lonjakan sampah medis di China sebanyak 350% dan Spanyol sebanyak 370% (Klemeš et al., 2020). 

Kebijakan pemakaian masker sekali pakai juga menjadi perhatian karena hal ini bisa memicu peningkatan jumlah sampah masker secara drastis. Studi di Inggris mengungkapkan bahwa jika seluruh warga inggris (66.7 juta jiwa) memakai masker setiap hari, maka akan ada sekitar 60 ribu ton sampah plastik yang terkontaminasi (University College London, 2020). Bahkan, limbah medis sudah ditemukan di laut berdasarkan temuan Aawahan Foundation di India, mereka telah membersihkan 10.000 masker, 1050 sarung tangan medis, dan perlengkapan APD dibuang di sepanjang bibir pantai Mumbai selama periode mei – agustus 2020 (Mongabay, 2020). Tidak menutup kemungkinan bahwa di belahan dunia lain limbah medis sudah berlayar melintasi samudra. 

**

Oleh sebab itu, penanganan pembuangan sampah yang tepat menjadi penting untuk dieksekusi agar pencemaran lingkungan yang disebabkan limbah medis dapat diminimalisir. Diperlukan adanya sistem pembuangan limbah yang terorganisir secara rinci, mulai dari pengumpulan sampah hingga cara mengolah sampah. Kemudian, perlu adanya pengawasan dari pihak berwajib untuk menangani pembuangan limbah medis. Terakhir, adanya sosialisasi tentang cara membuang limbah medis secara tepat kepada masyarakat, agar dikala pandemi saat ini masyarakat dapat berperan langsung dalam mendukung lingkungan yang sehat. Harapan besarnya adalah limbah medis dapat diolah secara maksimal, sehingga polusi terhadap laut dapat dihilangkan untuk menjamin keberlangsungan ekosistem bumi. 

**

Penyunting: Duratul Karimah.

**

Rujukan Pustaka:

  1. Klemeš J.J., Fan Y.V., Tan R.R., Jiang P. Minimising the present and future plastic waste, energy and environmental footprints related to COVID-19. Ren. Sustain. En. Rev. 2020;127 doi: 10.1016/j.rser.2020.109883
  2. Ravichandran, N. (2020, October 29). Discarded single-use plastic masks and gloves are choking ocean beds. Diakses 25 Januari 2021 dari Mongabay-India. https://india.mongabay.com/2020/10/discarded-single-use-plastic-masks-and-gloves-are-choking-ocean-beds/
  3. Allison, A. L., Ambrose-Dempster, E., Domenech Aparsi, T., Bawn, M., Casas Arredondo, M., Chau, C., Chandler, K., Dobrijevic, D., Hailes, H., Lettieri, P., Liu, C., Medda, F., Michie, S., Miodownik, M., Purkiss, D., & Ward, J. (2020). The environmental dangers of employing single-use face masks as part of a COVID-19 exit strategy. Journal of Environment, 10. https://doi.org/10.14324/111.444/000031.v1
  4. Health-care waste. (2018, February 8). Diakses 25 Januari 2021 dari WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/health-care-waste
  5. Shortage of personal protective equipment endangering health workers worldwide. (2020, March 3). Diakses 25 Januari 2021 dari WHO. https://www.who.int/news/item/03-03-2020-shortage-of-personal-protective-equipment-endangering-health-workers-worldwide

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *