My sister’s keeper (2009) : Ketika menyelamatkan bermakna melepaskan

Oleh Fadhlina B.

Sutradara : Nick Cassavetes

Produser : Stephen Furst, Scott Goldman, Mark Johnson, Chuck Pacheco, Mendel Tropper

Adaptasi novel :My Sister’s Keeper  karya Jodi Picoult

Pemeran : Cameron Diaz, Abigail Breslin, Alec Baldwin, Jason Patric, Sofia Vassilieva, Joan Cusack

Durasi : 109 Menit

**

Novel Jody Picoult bertajuk “My sister keeper” diterjemahkan dengan lebih ringan menjadi sebuah film drama keluarga pada musim panas 2009. Disutradarai oleh Nick Cassavetes, film ini berhasil mendulang sukses dengan rating 7.4/10 imbd dan meraih predikat Choice Summer Movie Drama pada ajang Teen Choice Awards di tahun peluncurannya.   

Dalam film berdurasi  109 menit ini, Nick Cassavetes menggandeng pelakon kondang Cameron Diaz dan Abigail Breslin serta sineas kawakan Alec Baldwin dan Joan Cusack yang kuat merasuk dalam hayat antologi yang dibawakan. Film ini disajikan dengan alur maju-mundur, setiap segmennya dihiasi interaksi sederhana khas keluarga dan jauh dari kesan membosankan. Layaknya seperti menonton dokumenter dengan sentuhan dramatis.

Berkisah tentang seorang savior sibling,  Anna Fitzgerald (Abigail Breslin) lahir dari proses pembuahan yang dirancang membentuk gen spesifik semata-mata bertujuan untuk menyelamatkan saudarinya, Kate (Sofia Vassilieva). Sejak usia 4 tahun, Kate divonis Acute Promyelocytic Leukemia (APL) atau kanker yang menyerang jaringan darah putih. Sulitnya mendapat donor sumsum tulang yang cocok, Sara Fitzgerald (Cameron Diaz) dan suaminya Brian (Jason Patric) memutuskan melahirkan seorang anak lagi yang secara saintifik dibuat genetiknya cocok dengan Kate. Maka sejak lahir, Anna hidup ditujukan untuk menyelamatkan kakaknya.

Titik balik cerita dimulai ketika Kate remaja terserang gagal ginjal akibat komplikasi, dan Anna diminta untuk memberi satu ginjalnya pada Kate. Bermodal gadaian kalung dan anting miliknya, Anna yang masih 11 tahun dengan langkah tegas mendatangi seorang pengacara kondang, Alexander Campbell (Alec Baldwin) untuk dimintai bantuan hukum atas tuntutan emansipasi medis terhadap tubuhnya sendiri. 

Puncak konflik berkobar di pengadilan, dimana tiap yang hadir punya sentimen  masing-masing. Anna ditemani pengacara Alex menghadirkan Sara Fitzgerald sebagai pihak tergugat. Alex tegak berjuang untuk Anna terlepas dari kerugian atas kasus ini, dikarenakan epilepsi yang diderita membuatnya tahu rasanya tidak punya otoritas atas tubuh sendiri. Sidang dipimpin oleh Jaksa De Salvo (Joan Cusack), yang lama hengkang setelah anak perempuannya tewas dalam kecelakaan, ia tahu betul rasanya kehilangan. Dan Sara, seorang ibu yang harus menyelamatkan anaknya. 

“Hanya melihat dari sisi Anna, ya itu brutal. Maksudnya, siapa yang mau ditusuk jarum sedemikian rupa. Mungkin kau melihatku buruk melakukan ini pada anakku sendiri. Ya, itu buruk, namun tidak seburuk kau mengantarkan anakmu ke pemakamannya.” –Sara 

Film ini menyajikan kompleksitas situasi hidup dalam sebuah keluarga dengan anak penyintas kanker. Sara yang dahulu adalah pengacara, memutuskan berhenti kerja. Jesse (Evan Ellingson) kakak tertua yang merelakan perhatian orang tuanya ketika dia sendiri berjuang dengan disleksia. Dan tentu saja Anna yang hidup sebagai penopang nyawa kakaknya. Sedangkan Kate sendiri tidak dapat berbuat banyak, berkawan dengan sakit dan menanti waktu yang dapat berhenti kapan saja. Tipikal sebuah keluarga, mereka semua hidup kasih-mengasihi. Kontras dengan perkara tuntutan pengadilan, Anna sesungguhnya menikmati peran sebagai care giver untuk Kate. 

Duet Cameron Diaz dan Abigail Breslin sukses menjahit film ini terasa begitu nyata dengan interaksi harian ibu dan anak yang jauh dari kesan dualisme hitam-putih ala opera sabun. Tiap karakter kuat bersinergi menghidupkan dialog sehingga penonton dapat memahami dinamika emosi yang bergerak; antara berjuang dan melepaskan. Sebagai Ibu yang berjuang demi anaknya tetap hidup, Sara tak pernah gentar juga Anna, bukan demi dirinya yang ingin merdeka, melainkan demi Kate yang ingin keluarganya rela atas kepergiannya. Plot Twist, dalang dibalik gugatan hukum itu adalah Kate.

“Ibu ingat saat aku akan pergi berkemah? Aku bilang aku takut kehilangan kalian. Lalu ibu bilang agar aku ambil kursi paling kiri sehingga aku bisa lihat ke belakang dan ibu masih ada di sana… Aku ambil kursi yang sama itu sekarang. Semua akan baik-baik saja.” –Kate

Menikmati film ini tidak hanya akan menggugah empati, tetapi juga kita diajak untuk ikut memahami bagaimana cinta punya banyak interpretasi. Pengorbanan tidak dikalkulasi dalam kasih yang tercipta. Perjuangan keras adalah cinta, tapi sering orang lupa bahwa merelakan juga bagian darinya. Tidak ada yang siap dengan kehilangan, namun dari film ini kita bisa belajar bahwa ketika itu terjadi, pada akhirnya semua akan baik-baik saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *