Kabar Tanggap

Menata Langkah di Atas Reruntuhan SERUMPUN: Menelusuri Babak Baru dengan KATARSIS

Oleh: Khansa Tafidah Khairunnisa, Muthia Zainnajwa Zahra

Pagi hari di Jalan Humanika Universitas Islam Indonesia, ramai suara langkah kaki para generasi baru Fakultas Psikologi yang menyusuri jalanan kampus bersama dengan suara arak-arakan selamat datang. Tepat 10 September 2026 menjadi langkah nyata bagi mahasiswa baru serta sejarah baru bagi fakultas psikologi.

Jika tahun sebelumnya pekan taaruf mahasiswa baru melebur dibawah payung SERUMPUN, kini lahirlah KATARSIS (Kala Ta’aruf Humanis dan Sinergis), yang tidak hanya hadir untuk menggugurkan kewajiban orientasi, tetapi juga menjadi langkah dini untuk menanamkan identitas psikologi bagi calon-calon psikolog masa depan.

“KATARSIS ini menjadi sebuah ospek fakultas baru untuk Fakultas Psikologi setelah berpisahnya dengan Fakultas Ilmu Sosial Budaya kemarin. Jadi, ini cukup bermakna karena menjadi awal sebuah langkah perjalanan baru bahwasanya di Fakultas Psikologi sudah bisa berdiri sendiri secara mandiri dalam menjalankan segala roda, entah roda keorganisasian ataupun kepanitiaannya,” ungkap Mahesa selaku Ketua DPM Fakultas Psikologi (11/09).

Sebagai wajah baru yang lahir dari pemekaran fakultas, penamaan KATARSIS dipilih bukan tanpa makna yang mendalam. Istilah ini dipilih karena lekat dengan dunia psikologi dan menjelaskan bagaimana peluapan emosi secara konstruktif dapat dibebaskan secara positif.

Di samping itu, fondasi utama pada KATARSIS 2026 turut berkaca pada konsep tabula rasa.

“Maba dan miba ini ibarat kertas putih yang masih kosong. Katarsis menjadi wadah atau langkah pertama mahasiswa untuk bisa mengisi kertas kosong tersebut yang kemudian hari akan terus terisi sampai nanti bersemai kembali waktu teman-teman maba-miba 2026 ini lulus,” jelas Rafael Septiano, selaku Ketua Umum Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Psikologi (11/09).

Lebih lanjut, permainan kata pada nama tersebut turut mempertegas nilai yang ingin dibawakan. “Ketika kita bedah lagi per suku katanya, KATARSIS itu Kala Ta’aruf Humanis dan Sinergis. Dengan begitu, ospek Fakultas Psikologi diharapkan dapat menjadi ospek yang humanis, yang tidak terlalu banyak memarahi maba, tidak juga terlalu kaderisasi, dan tidak ada maba yang dikacung-kacungi.” Ujar Syafira Aulia, selaku Komisi A KATARSIS 2026 (12/09).

Semangat humanis dan sinergis semakin diperjelas melalui tema yang diangkat, yaitu “Mulai langkah, Tumbuhkan Makna, Wujudkan Asa”. Tema ini memiliki makna tersendiri didalamnya. “Mulai langkah” yang memiliki arti sebuah langkah pertama bagi maba miba untuk memulai lembaran barunya, “Tumbuhkan Makna” yang berarti setiap proses mereka diiringi dengan kegiatan yang bermakna, serta “Wujudkan Asa” yang artinya mereka dapat mewujudkan asa, harapan serta impiannya setelah lulus.

“Ketika mereka lulus, mereka harus mewujudkan asa, harapan, dan impian mereka, tidak hanya kepada diri sendiri, tetapi juga harus berdampak kepada masyarakat dan juga mengabdi pada negeri,” tambah Syafira.

Membuat langkah baru tanpa “patokan”
Membentuk ospek mandiri tanpa “patokan” tentu bukanlah perkara yang mudah. Selama 2 bulan membentuk konsep, panitia berhasil menitikberatkan tiga nilai utama, yaitu nilai sosial, nilai ulil albab dan nilai psikologi keprofesian.

Ketiga nilai tersebut tersirat pada berbagai mata acara yang dilaksanakan, mulai dari nilai sosial dan kebersamaan melalui kegiatan arak-arakan, nilai ulil albab melalui Forum Group Discussion, serta nilai psikologi keprofesian melalui pemaparan fakultas psikologi oleh dosen.

Tidak hanya itu, nilai psikologi keprofesian juga dituangkan ke berbagai mata acara lainnya. Mata acara pertama adalah psychology tour, yaitu kegiatan menjelajah tempat pembelajaran kuliah. Mata acara selanjutnya adalah Tunas Asa Ruang Untaian, yaitu kegiatan menggambar pohon harapan bagi para maba-miba. Mata acara terakhir adalah Cakrawala Psikologi yang merupakan sesi talkshow santai dengan para dosen psikologi. Ketiga rangkaian mata acara ini merupakan perwujudan dari nilai psikologi keprofesian serta menjadi parameter pembeda dari orientasi periode lalu.

“Jujur saja sebagai maba saat pertama kali masuk psikologi, aku masih belum bisa membedakan antara psikolog dan psikiater. Proyeksi kami, kenapa ingin menanamkan nilai keprofesian di awal agar teman-teman maba tidak merasa kehilangan arah untuk karier kedepannya,” tambah Widya Pratama, selaku Ketua Organizing Committee KATARSIS 2026 (11/09)

Dari GEMA hingga Gemerlap Simfoni Karsa
Hari pertama masa orientasi atau disebut dengan Pra-KATARSIS, maba miba disambut meriah dengan kegiatan GEMA (Gerak Mahasiswa Arak-arakan) yang diramaikan oleh mahasiswa angkatan atas dan para panitia. Kegiatan tersebut berlangsung dari Jalan Humanika menuju Hall FP dan FISB.

Gerak Mahasiswa Arak-arakan

Selain itu, terdapat sesi bermain games atau disebut dengan GERABAK (Gerak Bersama Raih Sinergi) yang dilaksanakan dengan antusias. Setiap jamaah mengirimkan perwakilan 3-8 orang yang berbeda untuk bermain, mulai dari permainan corong koin, estafet balon, hingga piramida cup.

Permainan Piramida Cup pada GERABAK

Hari kedua dibuka dengan penampilan tari oleh UKM Xaviera serta sambutan dekan Fakultas Psikologi Dr. H. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog. Kegiatan terus berlangsung hingga siang hari. Setelah makan siang terdapat mata acara GEMA KARYA yang di mana setiap jamaah menampilkan pentas seni yang beragam, mulai dari dance modern, drama musikal, hingga tari tradisional.

Penampilan Dance Modern pada GEMA KARYA

Beralih ke mata acara selanjutnya, yaitu Jelajah UKM, Lembaga, dan UMKM. Beragam stand UKM dan lembaga disajikan di sekitar parkiran utara Masjid Ulil Albab, mulai dari Pop Culture Psychology (PCP), Psychology Sport Community, Jafana, IMAMUPSI, LEM Psikologi, LPM Kognisia, dan Adarma Society. Tidak hanya itu, terdapat berbagai stand UMKM yang disajikan pula.

Jelajah Stand UKM Fakultas Psikologi

Pada hari terakhir sekaligus puncak kegiatan KATARSIS 2026 terdapat sesi Talkshow atau yang disebut Cakrawala Psikologi bersama salah satu dosen Psikologi UII, yaitu Libbie Annatagia, S.Psi., M.Psi., Psikolog. serta ketua HIMPSI Wilayah DIY, Miftahun Ni’mah Suseno, S.Psi., M.A., Psikolog. sesi ini berlangsung dengan komunikatif, terutama saat sesi tanya jawab yang disambut dengan semarak maba miba yang ingin bertanya.

Cakrawala Psikologi Sesi Talkshow

Bergeser tempat setelah ISHOMA (Istirahat, Sholat, dan Makan), panitia melakukan pengkondisian maba miba menuju gedung Fakultas Psikologi untuk melaksanakan kegiatan Psychology Tour, mulai dari lantai satu hingga lantai empat yang juga dipandu oleh marketing dan communication Fakultas Psikologi.

“Psychology Tour itu akan memperkenalkan ruangan-ruangan yang akan kita pakai di kemudian hari dan nanti juga dari pihak panitia bekerja sama dengan marketing dan communication dari fakultas yang nanti menjelaskan setiap ruangan-ruangan yang ada.” Ujar Raffael Septiano selaku ketua umum LEM Fakultas Psikologi (12/09).

Sesi Psychology Tour di Gedung Fakultas Psikologi

Kegiatan terus berlanjut dan bergeser ke parkiran FP dan FISB. Dibawah rindangnya pohon, kegiatan TARUKA (Tunas Asa Ruang Untaian KATARSIS) dimulai. Maba miba di setiap jamaah diminta untuk menggambar pohon impian, di mana mereka diminta menulis impian dan harapan pada sticky note yang nantinya akan ditempel di pohon yang telah digambar. Kegiatan ini disambut antusias oleh para maba miba.

Kegiatan TARUKA Menggambar Pohon Impian

Simfoni Karsa sebagai puncak acara KATARSIS 2026 pun berlangsung dengan penampilan guest star, yaitu The Lantis. Penonton terdengar ramai bernyanyi bersama saat The Lantis membawakan lagu “Lampu Merah” dan “Bunga Maaf”. Dilanjut dengan sesi pemberian penghargaan kepada maba miba sekaligus menutup kegiatan KATARSIS 2026.

Penampilan The Lantis

Catatan Kritis: Penatnya Fisik dan Sempitnya Waktu Eksplorasi
Di sela kemeriahan KATARSIS, terselip catatan kritis yang tidak luput dari kekhawatiran bersama. Keluhan fisik secara repetitif terdengar dari para peserta akibat kenyamanan ruangan yang minim. Selama berjam-jam, para peserta mengikuti pemaparan dalam keadaan duduk di lantai tanpa alas.

“Kendala pribadi pegel-pegel aja karena duduk terlalu lama di lantai dari pagi sampai siang,” ujar Jundi, salah satu Maba peserta KATARSIS 2026.

Lebih lanjut, catatan evaluasi juga mengarah pada teknis mata acara, yaitu pada saat jelajah UKM, lembaga, dan UMKM. Sesi yang seharusnya menjadi ruang eksplorasi esensial bagi mahasiswa baru justru seakan diburu-burui. Sangat disayangkan, waktu yang seharusnya telah dialokasikan selama 40 menit dipersempit menjadi 25 menit untuk 446 peserta.

Akibat pemangkasan waktu tersebut, para peserta kehilangan kesempatan untuk melakukan eksplorasi lebih jauh. Meskipun pihak panitia sempat memberikan instruksi susulan agar para peserta bisa kembali mendatangi stand UKM, lembaga dan UMKM yang diinginkan, mobilitas yang bolak-balik ini dinilai kurang efisien dan tidak maksimal bagi pengenalan lembaga secara menyeluruh.

Kendati demikian, di atas segala riuh gemuruh yang terjadi, KATARSIS telah berhasil menanamkan percikan pertamanya sebagai orientasi yang bukan hanya sekadar pengenalan, tetapi juga sebagai fondasi bagi langkah panjang para mahasiswa baru di dunia psikologi.


Penyunting: Nuraini Whidi Astuti

Grafis:  Andara Azzahra