Oleh: Aufa Niamillah
Yogyakarta adalah salah satu kota yang sangat beruntung. Bukan tanpa alasan, banyak seniman lahir dan datang untuk mengekspresikan diri di kota yang konon katanya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan ini. Salah satu yang dapat mewadahi ekspresi para seniman tersebut adalah dengan adanya festival dan pameran.
Jogja Art+Books Festival kemudian hadir sebagai ruang kolaboratif bagi mereka yang menggeluti dunia seni dan literasi. Dengan proyek literasi buku sebagai titik vokal, seni rupa dihadirkan untuk memperkuat keberadaan budaya dalam perbukuan di Jogja. Serangkaian acara digelar sejak 29 April hingga 16 Mei lalu di The Ratan. Tidak hanya membuka bazar buku dan galeri seni, Jogja Art+Books Festival juga menyediakan panggung bagi para musikus yang lagi-lagi, liriknya dekat dengan dunia literasi.
Jika dalam bayanganmu, seniman hanyalah seseorang yang melukis, maka kamu perlu menilik filosofi hadirnya Jogja Art+Books Festival yang menampilkan seni dan literasi dalam satu wadah ini lebih jauh. Siapa yang menyangka hadirnya pameran seni dan literasi dapat menawarkan kombinasi paling artistik yang menyenangkan untuk dieksplorasi?
Dunia Literasi yang Erat dengan Visual
Direktur Artistik Jogja Art+Book Festival, Agung Kurniawan mengajak para pengunjung berkeliling sembari bercerita dalam sesi Kuratorial Tour pada Selasa sore itu (16/05). Ia menjelaskan bahwa dunia literasi, utamanya di Yogyakarta, sangat berhubungan erat dengan seni visual. Karya-karya yang terpajang apik di galeri Jogja Art+Books Festival telah melalui proses seleksi dengan pertimbangan dapat mewakili karya-karya lainnya. Meskipun sebenarnya, Agung merasa, enam karya saja tidak cukup untuk menampilkan wajah literasi dan seni terkini.
“Kami pilih enam seniman ini, dengan pertimbangan bahwa sebagian besar seniman yang terlibat dalam pameran ini akrab dengan dunia literasi, entah sebagai ilustrator, entah seseorang yang gagasannya sangat terinspirasi oleh buku, atau kemudian mengeksplorasi buku atau literasi sebagai bahan untuk media kerja,” tuturnya.
Maka tidak heran, jika kamu sebagai pegiat literasi, mungkin merasa familiar dengan karya Restu Ratnaningtyas yang terpajang berjajar di tembok sebelah kiri galeri, yang mirip dengan sampul-sampul buku yang kamu miliki di rumah. Ia adalah seorang ilustrator dan juga seniman penting di masa modern ini. Karyanya yang diekspresikan melalui detail-detail surealis mewakili dunianya sebagai single mother, yang membuatnya sulit untuk berekspresi dengan karya besar maskulin.
Lain dengan Agus Suwage dengan karyanya di tembok seberang Restu, yang secara cerdik menggunakan bagian terpenting dari literasi, yaitu buku sebagai pengganti kanvas. Ia mengolah, membeli buku-buku lama, bahkan catatan keuangan, dan membuka halamannya lebar-lebar untuk ditorehkan lukisan-lukisan yang menceritakan banyak hal; dari lumbung tembakau tempatnya lahir dan besar, hingga kerusuhan etnis Tionghoa yang berulang kali terjadi dalam sejarah Indonesia. Salah satu karyanya ia namai dengan Belajar Membaca Sejarah.
Mella Jaarsma, seorang keturunan Indonesia-Belanda menghadirkan karyanya melalui postcard-postcard lama dari tahun ke tahun, yang dicetak di atas gaun-gaun dan pakaian kerja. Kemudian terdapat Jumaldi Alfi dengan karya abstrak di atas kanvas yang menyerupai papan tulis dengan lukisan bertekstur kapur. Ia banyak bekerja dengan teks dalam bentuk huruf sebagai naratifnya.
Di tengah galeri, terdapat karya serupa benteng melingkar yang dibuat dari tumpukan buku dan semen oleh Dedi Sufriyadi. Meskipun mungkin, banyak pembaca yang tidak setuju dengan bagaimana buku seolah “dirusak,” sesungguhnya karya ini berusaha mendialogkan dan merepresentasikan seorang pembaca.
Karya terakhir yang dipajang adalah milik Arwin Hidayat. Berbeda dengan lima karya yang diletakkan di dalam galeri, karyanya ditambatkan dari satu pohon ke pohon lain di luar ruangan. Karyanya berupa lukisan manusia dan monster imajinatif di atas sebuah kain panjang dengan konsep lawe.
Menerima Tantangan Zaman
Di antara tumpah ruah manusia-manusia yang hadir, kami berkesempatan menemui Dodo Hartoko selaku Direktur Program (16/05). Ia menuturkan bahwa Jogja Art+Books Festival mendapat respons publik yang cukup antusias. Bagaimana tidak? Sekitar 400 orang atau lebih berdatangan setiap harinya. Mereka yang datang barangkali tertarik pada sastra dan mengunjungi bazar buku, atau ingin mengabadikan momen paling nyeni di galeri, atau musisi jalanan yang ingin merasakan meriahnya malam bersama para musikus.
Banyaknya seniman yang lahir dan hadir di Yogyakarta menjadikan kota budaya ini unggul dalam seni dan visual. Yogyakarta kaya akan sumber daya manusia yang menggeluti dunia seni buku dan ilustrasi, dimulai dari penulis, editor, ilustrator, dan seniman lainnya. Apabila menurut Agung, cover buku-buku Yogyakarta berbeda dengan sampul-sampul buku di kota lain karena estetikanya, menurut Dodo, lebih jauh dari itu, sampul buku Jogja adalah wajah sampul buku Indonesia.
Daerah ini sangat dominan dalam memberikan pengaruh besar di dunia perbukuan. Sampul-sampul buku yang artistik adalah salah satu ciri khas buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit di Yogyakarta. Hal ini memunculkan tren dalam dunia perbukuan. Seni dan sastra menjadi kombinasi yang selalu dieksplorasi, mengejar dan beriringan dengan tantangan zaman yang terus berkembang.
“Semua itu harus dinamis, semua harus terbuka menerima perubahan, saya pikir harus begitu. Jadi, bisa membaca semangat zamannya, festival itu harus bisa membaca semangat zamannya,” pungkas Dodo perihal keberlanjutan festival ini.
Jogja Art+Books Festival berhasil mengisi ruang-ruang kosong dalam keterbatasan dunia literasi. Pergelaran ini menyuarakan pentingnya membaca kepada publik. Mengingat angka perkembangan literasi DIY yang berada di atas literasi digital nasional, tetapi masih tergolong belum tinggi dibandingkan literasi digital internasional dalam bilangan tahun yang sama. Harapannya, hal ini dapat menghadirkan kesadaran kepada masyarakat ihwal betapa menakjubkan dunia seni dan sastra yang dikemas oleh dunia perbukuan Yogyakarta itu sendiri.
Penyunting: Haidhar F. Wardoyo
Reporter: Yasmeen Mumtaz
Grafis: Aulia Salsabilla