Laporan Khas Wawancara

Menyemai Potensi, Menuai Prestasi: Upaya UII Menumbuhkan Generasi Kompetitif Lewat PKM Corner dan SAMC

Oleh : Azka Media dan Betania Rifaulamiri

Perlombaan di lingkup kampus merupakan kegiatan yang sangat disorot karena dapat menjadi lahan berkembangnya para mahasiswa baik secara akademik maupun non akademik. Sudah seharusnya pihak kampus memberikan dukungan berupa tempat penyaluran informasi mengenai perlombaan untuk mahasiswanya. Di UII sendiri telah tersedia beberapa sarana penyedia informasi kegiatan perlombaan dari lingkup internal kampus, seperti PKM Corner dan Student Achievement Mobility Center (SAMC), keduanya merupakan unit kerja yang dibentuk oleh Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan (DPK) UII dengan tujuan menyediakan informasi perlombaan nasional dari Kemendikti Saintek RI (Kemendikbudristek).

PKM Corner UII memfasilitasi mahasiswa dalam mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mulai dari tahap pra-pendanaan, pendanaan, hingga tahap final. PKM Corner berperan dalam memberikan pendampingan, mentoring, dan penyebaran informasi melalui media sosial serta jaringan kontak di tiap jurusan.

Sama halnya dengan PKM Corner, SAMC juga memiliki tujuan untuk menyalurkan ide-ide kreatif para mahasiswa melalui ajang perlombaan bergengsi di tingkat nasional. SAMC bergerak pada perlombaan yang diselenggarakan oleh Puspresnas dan Belmawa, lembaga yang berada dibawah naungan Kemendikbudristek. Variasi lomba yang diadakan dapat disesuaikan dengan minat mahasiswa baik itu akademik maupun non-akademik. SAMC hadir di UII sebagai fasilitator pada setiap proses perlombaan, dimulai dari penyebaran informasi lomba hingga pendampingan menuju final.

Mahasiswa UII yang tertarik mengikuti perlombaan atau hanya sekedar penasaran dan ingin mencoba hal baru tidak perlu risau akan ketertinggalan, karena setiap informasi akan diberitahu melalui postingan media sosial PKM Corner, SAMC dan DPK UII. Sosialisasi juga seringkali dilakukan sebagai bentuk penyebaran informasi kepada mahasiswa dengan menghadirkan pakar yang telah mumpuni dan juga para alumni yang telah terjun pada suatu bidang perlombaan, hal ini bertujuan untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan rasa ingin terlibat mahasiswa pada perlombaan yang bergengsi.

SAMC tidak hanya menyediakan informasi perlombaan, namun juga memberikan dukungan penuh pada setiap proses mahasiswa yang terlibat sedari awal dalam mengikuti perlombaan. Dimulai dari bootcamp, disini peserta dipaparkan pengetahuan dasar sebagai bekal dalam pembuatan proposal maupun persiapan lainnya. Selanjutnya pendampingan berupa mentoring dan coaching yang dilakukan secara intens hingga menuju babak final. Dengan adanya mentor ahli, pelatihan terstruktur dan feedback berkala, mahasiswa dapat mengoptimalkan potensi tanpa harus bertarung sendirian.

Meskipun keberadaannya dinilai bermanfaat, tantangan pun tetap dirasakan oleh kedua unit yang dibawahi oleh DPK tersebut, terutama terkait rendahnya minat mahasiswa untuk berpartisipasi.

Sebagai fasilitator, keduanya menghadapi tantangan klasik yang sam a, misalnya SAMC yang mengalami tantangan pada delegasi dan submisi proposal yang tidak memenuhi kuota. Meskipun perlombaan tetap dapat diikuti, sayangnya jumlah peminat tergolong minim, padahal UII sebagai perguruan tinggi klaster 1 memiliki kuota yang melimpah.

Dari beberapa perlombaan yang didampingi oleh SAMC, Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) memiliki peminat dengan kuota paling rendah diantara keterisian kuota di perlombaan lainnya. LIDM ini paling anjlok gitu ya, itu masih banyak kuotanya, karena kita di LIDM juga di klaster 1, kalau di klaster 1 kan lebih banyak ada sekitar 50-100 gitu, kita cuma keisi 3, ungkap Fikar Maulana selaku Ketua SAMC (3/11).

Pada PKM Corner, segi klasterisasi juga mempengaruhi indikator keberhasilan program perlombaan.

Kalau indikator keberhasilan itu kita bisa melihat dari ini ya, jadi di nasional itu kan ada perangkingan klasterisasi untuk setiap kampus, nah itu yang menjadi patokan kita. Jadi patokan kita itu adalah untuk menjaga klaster itu kita harus meningkatkan satu kualitas proposal, yang kedua itu kuantitas dari proposalnya itu, berapa banyak sih proposal yang di-submit, dan seberapa bagus proposal itu dibuat,” ungkap Muhammad Syaifullah Maibara selaku Ketua PKM Corner (2/11).

Kesadaran mahasiswa akan manfaat dari lomba yang belum tersentuh. Banyak mahasiswa belum tahu bahwa pengalaman kompetisi dapat membuka peluang karir, mengasah keterampilan, dan juga memberikan kontribusi terhadap akreditasi kampus.

Adapun tantangan lainnya yaitu tumbuhnya niat mahasiswa untuk mengikuti, namun terbatas dalam aksi yang ingin diberikan. Memang mayoritas yang angkatan 2023, ke angkatan 2024 sama 2025 itu, ya itu tadi, mereka banyak yang ikut, tapi ya itu keterbatasan ide-nya tadi,jelas Syaiful (2/11). Melalui kebingungan tersebut, PKM Corner telah menyediakan program PKM Idea Challenge sebagai bagian solusi dan sarana menjaring ide mahasiswa, yang kemudian dibina bersama mentor berpengalaman seperti dosen.

Dalam menanggulangi permasalahan tersebut, keduanya telah mengambil langkah dengan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa melalui kerja sama dengan tiap fakultas dan DPK UII sebagai bentuk penyebaran informasi yang lebih masif, seperti pembukaan stand, roadshow ke setiap fakultas, serta sosialisasi di beberapa prodi baik secara online maupun offline.Biasanya kita juga melakukan follow-up langsung ke dekan atau ke wakil dekan bidang kemahasiswaan. Jadi contohnya kalau misalkan salah satu dari lima lomba kita rilis, kita langsung ketemu wakil dekan dan mengirim surat untuk biasanya meminta dekan untuk sosialisasikan ke mahasiswanya.” jelas Fikar (3/11).

Tidak hanya itu, mereka juga memiliki harapan untuk diadakannya dukungan dan keterbukaan lebih besar dari pihak lembaga KM UII untuk memberikan ruang temu secara luas untuk kedua unit tersebut dan para mahasiswa, yaitu PESTA. Pelibatan SAMC dan PKM Corner dalam kegiatan orientasi kampus diharapkan dapat menjadi sumber pengenalan secara massal sebagai wadah pengembangan potensi mahasiswa, sehingga para mahasiswa sudah sadar dengan informasi seputar perlombaan nasional sedari masuk ke dunia perkuliahan.

Di balik berbagai dukungan dan fasilitas yang telah tersedia, semangat berkompetisi mahasiswa masih perlu didorong agar potensi tak hanya berhenti di ruang informasi. seperti halnya tantangan yang dilalui PKM Corner dan SAMC yang telah menyediakan tempat untuk mengumpulkan peluang kejuaraan, namun para mahasiswa masih kurang terdorong secara inisiatifnya untuk mencoba menjelajah tempat tersebut. Selain harapan untuk menjadi peserta dalam perlombaan, keinginan utama untuk mahasiswa adalah membawa kemenangan yang bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa. Dengan pencapaian tersebut, mahasiswa berpotensi untuk mendapatkan berbagai apresiasi seperti insentif pendanaan, konversi beberapa mata kuliah seperti program KKN dan juga mendukung akreditasi kampus.

Pada akhirnya, potensi mahasiswa UII bukanlah hal yang kurang, melainkan bara yang menunggu untuk disulut. Di tengah arus kompetisi global dan cepatnya perubahan dunia, keberanian untuk mencoba jauh lebih berharga daripada ketakutan akan gagal. PKM Corner dan SAMC telah membuka jalan, kini giliran mahasiswa yang menentukan langkah. Sebab prestasi tidak lahir dari mereka yang menunggu kesempatan, melainkan dari mereka yang berani menciptakannya. Dengan dukungan kampus yang terus mengalir, semoga semangat berkompetisi di UII bukan hanya menjadi wacana, tetapi menjadi budaya yang mengakar melahirkan generasi yang tak sekadar berilmu, tapi juga berdaya saing dan berdampak.


Penyunting : Alia Al Hasna

Grafis : Tara Saffanah Hernadi