Kabar Tanggap

Resmi: Pameran Arsip Museum Pers Yogyakarta dan Peluncuran Buku

Oleh: M. F. Prima Sakti

Pers merupakan bagian fundamental sejarah di Indonesia. Begitupula Yogyakarta, kota pelajar yang tentunya memiliki nilai historis sendiri. Kedua hal tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Namun, museum pers yang mana seharusnya menjadi tempat mengumpulkan bukti sejarah pers di Jogja, justru tidak ada. Hal itulah yang menginisiasi Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si, Anang Saptoto, dan Sinta Maharani untuk membuat suatu pameran sejarah pers.

  Acara ini berjudul “Pameran Arsip Moeseoem Pers Jogjakarta” yang dibuka secara resmi pada 25 Juni 2024. Acara ini juga dibarengi dengan peluncuran buku karya Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si yang berjudul Negara, Media, dan Jurnalisme Indonesia pasca-Orde Baru serta bertepatan dengan pengukuhannya menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Media dan Jurnalisme Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) UII.

Pameran Arsip Museum Pers Yogyakarta (Edisi Kedaulatan Rakyat)

Pameran yang akan berlangsung dari tanggal 25 Juni-16 Juli 2024 ini mengangkat tema “Transisi”. Menurut sang kurator Anang Saptoto, pameran ini melihat transisi dari era revolusi, orde lama-orde baru, reformasi, dan pencetusan Undang Undang (UU) nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY. Pameran ini merupakan bagian kerjasama dengan Koran Kedaulatan Rakyat (KR) yang mana sumber pameran ini berasal dari arsip semua Koran terbitan KR dari tahun 1945 hingga 2012. 

Arsip Berita Kedaulatan Rakyat

Pameran ini menggunakan berbagai media sebagai alat display-nya, seperti foto-foto, arsip salinan dari koran berita, hingga kamera yang pernah dibawa jurnalis KR ketika meliput kerusuhan 98. Pameran yang diselenggarakan di Perpustakaan Kampus Terpadu UII  ini bertujuan untuk mempertahankan pengetahuan hasil produksi kerja jurnalisme dengan bekerja sama dengan salah satu media pers setiap tahunnya. 

“Kalau tujuan pameran ini, sebenarnya itu untuk melestarikan pengetahuan-pengetahuan yang diproduksi dari kerja-kerja jurnalisme. Itu tujuan awal. Nah, metodenya dengan bekerja sama dengan satu entitas pers, setiap tahun,” ujar Anang Saptoto (25/6).

Pameran ini memang rencananya akan dilakukan setiap tahunnya dengan berkolaborasi dengan berbagai entitas pers yang ada. Bahkan menurut Anang tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan institusi Radio maupun televisi. Tahun ini bekerja sama dengan Kedaulatan Rakyat karena menurutnya KR merupakan koran tertua dan tetap eksis sampai saat ini.

”Ya, atau mungkin bukan hanya media cetak, bisa jadi radio, bisa jadi televisi atau media komunitas,” terang Anang (25/6).

Peluncuran Buku Negara, Media, dan Jurnalisme Indonesia pasca-Orde Baru

Selain pembukaan pameran arsip pers, dilaksanakan juga peluncuran buku yang berjudul Negara, Media, dan Jurnalisme Indonesia pasca-Orde Baru karya Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. Buku tersebut merupakan kompilasi tulisan 20 tahun terakhir yang berisi seputar media dan jurnalisme, antara lain mengenai program tv yang tidak berkualitas, catatan kelam jurnalisme di Indonesia, pelanggaran etik jurnalistik, hingga evaluasi terhadap Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Menurut Prof. Masduki latar belakang ditulisnya buku ini adalah karena jurnalisme di Indonesia perlu memiliki proteksi dari pemerintah. Menurutnya, posisi negara di dalam jurnalisme itu sangat penting karena ia memiliki otoritas untuk menentukan nasib pers. Permasalahan yang dihadapi dunia pers bukanlah hanya mengenai bisnis, tapi disrupsi digital hingga kematian pers. Pemerintah bisa mengambil peran agar pers di Indonesia kembali memiliki kualitas.

“Bukan berarti intervensi, tapi mereka melakukan namanya produksi kebijakan agar jurnalisme berkualitas itu, mengalami proteksi. Ada model-model yang ada di Jerman, di Eropa yang bisa kita kembangkan. Nah, di buku itu ada dijelaskan,” jelas Prof. Masduki (25/6).

Prof. Masduki berharap agar pembaca buku dapat memiliki konteks sejarah yang baik. Apa yang terjadi hari ini itu dipengaruhi sepuluh dua puluh tahun yang lalu. Maka, adanya peristiwa atau masalah yang terjadi dahulu, kembali terjadi hari ini, berarti harus ada yang dibenahi dalam sejarah. Ia juga berharap agar jurnalis muda dapat terus merawat dan menjaga jurnalisme yang baik, yaitu jurnalisme yang benar-benar memihak publik bukan karena mengikuti algoritma semata.


Penyunting: Paramitha Maharani

Grafis: Dhiya Shofia