Thrift Shop: Solusi Untuk Peduli Pada Lingkungan atau Gentrifikasi Pakaian? (I.I)

Oleh Wahyu W. Syifa

Pakaian merupakan satu dari tiga kebutuhan primer manusia, pakaian juga menjelma sebagai sebuah identitas untuk berekspresi atau yang jamak disebut fesyen. Tak heran jika fesyen menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat individualistik, hal tersebut dibuktikan dengan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2019 mengenai pertumbuhan-pengeluaran penduduk Indonesia yang dialokasikan untuk konsumsi pakaian, alas kaki, dan penutup kepala per kapita per bulan di Indonesia.

Berdasarkan grafik tersebut, terjadi peningkatan per-kapita setiap bulannya di dalam pengeluaran rata-rata penduduk Indonesia untuk produk fesyen. Badan Pusat Statistik juga menambahkan pada sub kelompok pengeluaran pakaian, alas kaki, dan tutup kepala yang lantas menjadikan Provinsi DKI Jakarta berada di puncak klasemen dengan angka 59.439 rupiah per kapita dalam sebulan. Sementara itu, Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi dengan pengeluaran terendah yaitu sebesar 19.123 rupiah per kapita sebulan. 

Tingginya pengeluaran masyarakat di bidang fesyen menjadi salah satu pemicu pesatnya pertumbuhan produk fesyen yang juga didukung oleh industrialisasi dan produksi massal yang lebih dikenal sebagai fast fashion, istilah itu akrab digunakan untuk mempresentasikan sebuah fenomena industri fesyen pada masa ini dan menjadikannya sebagai salah satu sektor paling dinamis dalam industri kreatif. Hal ini dikarenakan perubahan tren yang sangat cepat dan tingkat konsumsi pasar yang tinggi sehingga berdampak pada laju roda produksi guna memenuhi permintaan pasar dalam kurun waktu yang relatif singkat dan mengeksploitasi berbagai sumber daya yang tersedia.

Salah satunya adalah kelebihan produksi akibat tingginya permintaan pasar, sehingga berdampak pada pembakaran stok pakaian yang tidak terjual. Dilansir dari tulisan bertajuk “Fast Fashion,” Budaya Konsumtif, dan Kerusakan Lingkungan yang dituliskan oleh Veronica Kadista Putri dan diterbitkan oleh detiknews.com pada 13/09/19 bahwa pada tahun 2017, H&M sebagai pelaku ritel telah membakar 9 ton atau setara dengan 50.000 jeans dan pada tahun 2018 Burberry juga melakukan hal serupa senilai 38 juta dollar AS.

Setali tiga uang dengan kelebihan produksi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa Industri fesyen adalah industri yang paling banyak menghasilkan polusi, tidak hanya menghasilkan 10 persen emisi karbon global tetapi juga menyumbang 20 persen produksi air limbah. Berdasarkan perhitungan Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai perubahan iklim, Industri fesyen mengkonsumsi lebih banyak energi-bahkan jika dibandingkan dengan penggabungan industri penerbangan dan juga perkapalan. Apabila  di dalam praktik produksi tidak membaik, maka diperkirakan emisi gas rumah kaca dari industri fesyen akan meningkat sebesar 50% pada tahun 2030. Pernyataan PBB tersebut dijelaskan oleh Pavithra Rao di dalam tulisannya bertajuk Battling the damaging effects of ‘fast fashion’ yang diterbitkan oleh pada 24/12/19.

Kelebihan jumlah proses produksi juga memicu penumpukan limbah tekstil, namun kemunculan limbah bukanlah tanggung jawab konsumen sepenuhnya sebab rente industri fesyen mulai dari proses perancangan, produksi, distribusi, konsumsi dan berakhir sebagai limbah di tempat pembuangan akhir seperti potongan pola-pola kain atau yang dikenal sebagai kain perca menjadi tanggung jawab produsen pula. Selain itu, menurut O’Connor,M.C (dalam Sofiani dan Saefuloh),  penggunaan bahan kimia yang berbahaya dalam produksi serat kain juga menjadi salah satu kontributor plastik-mikro terbesar di lautan.

Salah satu contoh pencemaran oleh bahan kimia dari proses produksi kain pernah menjangkit salah satu sungai di Indonesia yaitu Sungai Citarum pada tahun 2007. Sungai terbesar dan terpanjang di Jawa barat itu justru menjadi sungai terkotor di dunia sejak kejadian tersebut. Mengutip dari tulisan bertajuk “Citarum Terkotor di Dunia, Satu Pabrik Pencemar Ditindak” yang dirilis oleh CNBC Indonesia pada 11/04/18, sebanyak 349.000 ribu ton limbah cair industri dibuang ke Sungai Citarum setiap harinya. Limbah tersebut berasal dari sekitar 2.000 pabrik yang sebagian besar bergerak di bidang tekstil, dimana 90 persen dari pabrik tersebut tidak memiliki instalasi berupa Pengelolaan Air Limbah (IPAL) dan IPAL yang tidak memenuhi standar operasional perusahaan.

Thrifting Sebagai Solusi?

Pencemaran lingkungan dari rente produksi seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya juga menjadi alasan beberapa orang beralih dan tertarik pada thrifting, salah satunya Andhika selaku konsumen thrift shop dalam wawancara melalui Google meet (09/02) bahwa ekologi menjadi alasan logis untuk menjatuhkan pilihannya pada thrift shop sebagai tempat membeli pakaian. Andhika juga menambahkan.

“Menurut gua industri itu sampah nya lumayan besar banget apalagi industri pakaian tekstil, belum lagi dari pewarnaan, sampah-sampah benang, sisa kain, ditambah lagi kalo banyak barang-barang yang sebenernya masih layak pakai tapi dibuang itu sayang banget. Jadi alesan gua untuk membeli thrift shop sih setelah hemat kayaknya itu sih buat ngejaga lingkungan aja.”

Tak hanya Andhika, seorang mahasiswa Psikologi, Safaa juga menjadikan thrift shop sebagai pilihan dalam membeli pakaian. Menurutnya, selain mendapatkan model pakaian yang sesuai dengan keinginannya, ia juga bisa berkontribusi dalam mengurangi limbah tekstil. “Bisa mengurangi limbah juga sih menurut aku, kondisinya juga masih 10/10 jadi ga ada salahnya beli di thrift shop, modelnya juga basic jadi bisa masuk ke semua style.”

Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita membahas sedikit tentang awal mula thrift shop sebagai salah satu alternatif solusi pencemaran lingkungan. Ghesa Gafara berargumen dalam tulisannya yang berjudul ‘A Brief History of Thrifting’ bahwa Thrift Shop dipopulerkan pertama kali pada tahun 90-an saat aliran musik Grunge sedang naik daun. Pasalnya Kurt Cobain yang menjadi frontman band kenamaan Nirvana menjadi panutan mode remaja kala itu sebab gaya berpakaiannya yang nyentrik, celana jeans bolong, kemeja flanel. Apa yang dikenakan Cobain saat itu tidak bisa didapatkan penggemarnya di retail shop namun dengan mudah dan murah didapatkan di awul-awul alias Thrift Shop.   

Ihwal itu lantas diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Zamroni, penelitian tersebut sejalan dengan tulisan bertajuk Thrifting, Antara Tren dan Kepedulian Terhadap Isu Lingkungan yang dituliskan oleh Luna Septalisa dan dipublikasikan melalui kompasiana.com pada 5/12/21. Terdapat tiga peran thrift shop dalam menjaga kelestarian lingkungan. 

Pertama, mengurangi sampah pakaian di tempat pembuangan. Berdasarkan permasalahan lingkungan yang ditimbulkan akibat menjamurnya fast fashion, pegiat lingkungan seperti Zero Waste Indonesia rutin untuk mengkampanyekan risiko dari industri fast fashion yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran di masyarakat mengenai pencemaran lingkungan. Sedikit banyaknya kesadaran tersebut melahirkan sebuah fenomena di tengah masyarakat yaitu thrift shop

Thrift shop yang sebelumnya lebih dikenal dengan ‘pasar loak’ atau ‘penjual barang bekas’ sudah bukan hal yang dianggap asing, terlebih bagi generasi milenial saat ini karena keberadaan thrift shop yang tersebar di beberapa kota, seperti Pasar Gedebage (Bandung), Pasar Senen (Jakarta), Pasar Kodok (Bali), dan lain-lain. 

Pakaian bekas yang erat kaitannya dengan barang usang dan tidak diperlukan kini memiliki nilai yang lebih, terutama bagi pelaku thrifting. Dengan adanya thrift shop, pakaian bekas kembali memiliki nilai guna, karena dapat memperpanjang usia pakaian dengan cara dipindah tangan melalui proses jual beli, sehingga pakaian tersebut dapat digunakan kembali dan mengurangi limbah tekstil. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zamroni, dkk (dalam Prabaswari,dkk) bahwa memperpanjang seperempat umur pakaian dapat menghemat 75% air bersih yang digunakan dalam proses pewarnaan pada pakaian baru. Dalam proses produksi pakaian, sebanyak 60% pakaian menggunakan bahan sintetis yang sulit terurai salah satunya adalah katun. Dengan begitu, membeli pakaian bekas bisa menjadi salah satu langkah pengurangan limbah tekstil.

Peran yang kedua ialah mengurangi penggunaan sumber daya. Dalam proses pembuatan pakaian baru membutuhkan jumlah sumber daya berskala besar, salah satu contohnya adalah proses pembuatan satu celana jeans yang menghabiskan kurang lebih 1.800 galon air. Bahkan dalam proses penanaman kapas yang digunakan di dalam industri tekstil telah menyita sekitar 93 miliar meter kubik air setiap tahunnya. Hal ini berakibat pada munculnya masalah kesulitan air bersih di beberapa daerah. Oleh sebab itu, kehadiran thrift shop bisa pula menghemat sumber daya, wabil khusus air.

Lantas yang ketiga, thrifting sejatinya bisa  mengurangi polusi air dan tanah. Sebanyak 90 persen proses penanaman kapas yang digunakan untuk industri tekstil merupakan hasil dari rekayasa genetika yang sangat bergantung pada penggunaan bahan kimia sehingga berakibat meracuni air tanah, polusi pada danau, sungai dan laut. Selain itu, jangka panjang yang dapat terjadi adalah ketidakseimbangan ekosistem laut. Perairan yang tercemar dan berpolusi dapat masuk kedalam tubuh ikan yang berpotensi untuk dikonsumsi oleh manusia, jika hal tersebut terjadi maka akan berdampak pada peningkatan risiko penyakit seperti kanker, diabetes, dan lain-lain. 

Bersambung…


Reporter & Olah Data: Wahyu W. Syifa, Rayhana Arfa

Penyunting: Citra Mediant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *