Pandemi dan UII Adalah Bentuk Nyata Hidup Segan Mati Tak Mau

Oleh Annisa Ramadhani, Nadhifah D. O. 

Dua belas bulan lebih pandemi tampaknya tak merubah apapun di Universitas Islam Indonesia, pembelajaran daring tetap berlangsung dengan sekelebat kendala dan keluhan-keluhannya yang dibuktikan dari tingginya keluhan yang kami himpun melalui angket Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) UII. Dari sekelebat kendala itu kami menyoroti beberapa diantaranya, yaitu praktikum daring wabil khusus untuk mahasiswa jurusan Psikologi dan Kegiatan Pengabdian Masyarakat yang diselenggarakan di luar jaringan.

Meski Rektor UII sudah mengeluarkan Surat Edaran Rektor Nomor 4063/Rek/10/SP/XII/2020, Universitas Islam Indonesia (UII) menetapkan perpanjangan pembelajaran daring pada semester genap 2020/2021 yang dikombinasikan dengan pembelajaran luring terbatas belum terlihat hilal akan diadakannya praktikum luar jaringan (Luring) untuk mahasiswa jurusan Psikologi, terlebih lagi mereka tidak belajar dari keluhan yang sudah terbit melalui artikel PJJ sebelumnya.

Praktikum Jarak Jauh

Pelaksanaan praktikum di lingkup jurusan Psikologi menjadi sawala beberapa mahasiswa yang mengaku tidak merasakan dampak yang efektif dari praktikum jarak jauh tersebut, salah satu penyebabnya adalah alat ukur/ alat tes yang tidak memadai. Terlebih penyelenggara praktikum yaitu pihak laboratorium melalui asisten-asistennya tampak tak siap untuk melaksanakan praktikum jarak jauh tersebut.

“Ya praktikum, tapi jatuhnya kayak ngerjain tugas biasa gitu. Misal kan kita belajar buat tes nih, yang seharusnya belajar di lab pegang alat dll, pas aku cuman dikasih kayak blank case. Misal; ada anak dengan masalah ini, ngitung ini itu,” ungkap Nabila (27/01)

Nabila yang merupakan mahasiswa Psikologi 2018 mengaku bahwa praktikum jarak jauh bukanlah sebuah  praktikum, melainkan tugas tambahan semata. Sebab dilakukan dengan meniadakan properti laboratorium dan menggantikannya dengan alat tes alternatif. Ia juga menyebutkan bahwa selama ia melakukan praktikum jarak jauh, ia dan teman-teman kelompoknya mengeluhkan bahwa informasi yang diterima berbeda dengan informasi yang beredar di kelompok lain. 

Ditambah manuver pihak laboratorium kerap melakukan perubahan jadwal, sistem praktikum juga format susunan laporan sekenanya. Menurut Nabila, ihwal tersebut dinilai merepotkan karena persiapan yang telah dilakukan mahasiswa sebelumnya dapat menguap begitu saja, terutama yang berkaitan dengan testi/subjek praktikum. “Praktikum itu kan melibatkan banyak pihak, bukan satu orang aja. Jadi aku minta tolong buat pihak lab dimatangkan lagi, jangan kasih perubahan yang mendadak karena kita juga perlu menghargai waktu orang lain,” tutur Nabila.

Gayung bersambut dengan pernyataan Nabila, salah satu Asisten Praktikum jurusan Psikologi UII, Nanda. Mengakui adanya kesalahan komunikasi yang dilakukan oleh asisten praktikum, sebab pesan yang beredar di grup WhatsApp mereka sering tertimbun oleh pesan asisten lainnya. Selain itu, Nanda juga menyampaikan bahwa komunikasi jarak jauh menjadi kendala tersendiri baginya. “Online gini jadi lebih mudah miskom, apa yang aku pahami eh ternyata dari pihak lab bukan begitu maksudnya,” ujar Nanda (12/02). 

Tak lupa, kami mencoba untuk mengkonfirmasi pernyataan Nanda ke pengelola Laboratorium jurusan Psikologi, Thobagus pada (16/02) namun selaku kepala laboratorium semester genap kemarin ia lebih memilih untuk tidak memberikan keterangan apapun. Dengan dalih pihaknya masih memperbarui ihwal teknis praktikum daring, namun sampai saat ini Thoba urung memberikan informasi kepada kami. 

Sejatinya ihwal perbedaan informasi  dan perubahan jadwal secara mendadak dapat dianulir sejak awal jika pihak laboratorium dengan sungguh mempersiapkan prosedur pelaksanaan praktikum. “Kita pengennya pihak lab lebih matang lagi persiapannya.” tutur Nabila saat mengakhiri wawancara.  

***

Di sisi lain, sekelebat masalah dan keluhan pelaksanaan kegiataan akademik dalam jaringan di UII dan FPSB hilang bak angin lalu, sebab beberapa pihak malah sibuk mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat saat pandemi, padahal menurut pernyataan Imam Jati, Wakil Rektor Bidang Akademik dalam kajian yang diadakan LEM UII pada (3/10/20) tidak ada kegiatan mahasiswa yang dilakukan di luar jaringan dan semua kegiatan pasti dilakukan dalam jaringan.

Namun hal tersebut tampaknya dipatahkan oleh civitas akademika UII yang memperbolehkan mahasiswa dan melibatkan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat di luar jaringan. Salah satunya  Yeti (bukan nama sebenarnya) mahasiswa Ilmu Komunikasi 2018 melewati program pengabdian masyarakat untuk salah satu mata kuliah yang ia lakukan secara langsung pada semester ganjil lalu. Ia dan beberapa temannya memutuskan untuk langsung ke lapangan guna melaksanakan pengabdian di tengah riskannya kondisi Covid-19 di Yogyakarta. 

“Untukku sendiri beberapa mata kuliah memang mungkin perlu praktek (secara langsung) dan aku rasa kita ga bisa menghindari kebutuhan ini,” tutur Yeti (25/01). Ia menambahkan selama melaksanakan pengabdian secara langsung telah menerapkan protokol kesehatan 3M yakni memastikan peserta kegiatan sejumlah 20 orang, diharuskan menjaga jarak, wajib cuci tangan dengan sabun dan memakai masker.

Pelaksanaan pengabdian masyarakat untuk salah satu mata kuliah tersebut nyatanya diamini oleh Puji Hariyanti, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB. Saat kami wawancarai ia menyatakan bahwa praktikum yang sifatnya tidak dapat digantikan memang diberi wewenang untuk dilaksanakan secara langsung.

Namun saat kami singgung mengenai pertimbangan pelaksanaan program lapangan di tengah pandemi, Puji menyampaikan bahwa program tersebut dapat dilaksanakan apabila telah mendapat izin dari dosen sekaligus mematuhi protokol kesehatan, “Untuk tugas matkul jika harus ke lapangan sesuai dengan izin dan petunjuk dosen” ungkap Puji (23/02).

Mengadakan Kegiatan yang Mengada – Ada

Setali tiga uang dengan pernyataan Yeti yang mau tak mau harus melakukan kegiatan di luar jaringan. Pusat Studi Gender (PSG) UII sudah lebih dulu melibatkan mahasiswa untuk mengikuti  kegiatan pengabdian masyarakat  sebagai pengajar di Dusun Meces yang berjarak tiga kilometer dari kampus terpadu. Kegiatan ini diprakarsai oleh Faraz selaku Koordinator Divisi Pengabdian PSG UII yang berhasil memboyong lebih dari 70 mahasiswa dari Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Agama Islam, Fakultas MIPA, Fakultas Teknik sampai dengan Fakultas Ekonomi.

“Ada anjuran dari satgas Covid UII untuk relawan harus rapid test dan harus ada protokol kesehatan. Kita udah persiapan sebelum pelaksanaan program dengan membuat masker bersimbol UII PSG, beli hand sanitizer, juga thermogun,” ujarnya Faraz saat kami wawancarai.

Tak lupa, kami menyinggung perihal persiapan yang dilakukan perangkat Dusun Meces terkait adanya kegiatan eksternal pengabdian masyarakat ini,  menurut Faraz sebelum mereka terjun ke dusun Meces, di sana sudah ada satgas Covid-19. Namun karena warga berfikir tidak akan ada yang terjangkit, pihaknya memilih untuk membubarkan satgas tersebut. “Sikap acuh tak acuh perangkat dusun menghadapi virus ini bukan hanya membahayakan warga desa namun juga para mahasiswa pengajar, “mereka (warga) juga takut terjangkit tapi mereka juga jarang pada pakai masker.” Tambah Faraz 

Selama periode pengabdian, mahasiswa dibagi menjadi beberapa sesi terhitung sejak pertengahan Oktober sampai dengan Desember. Naasnya dikarenakan pandemi Covid-19 yang bertransmisi begitu cepat dalam kurun waktu tersebut, pelaksanaan program pengabdian oleh PSG UII terpaksa berhenti di tengah jalan ditambah lagi salah satu warga dari desa pengabdian tersebut terpapar virus Covid-19.

Kami juga sempat mewawancarai salah satu calon peserta pengabdian, ia mengaku tertarik dengan kegiatan tersebut sebab ia senang dengan kegiatan belajar mengajar meskipun kegiatan diselenggarakan saat pandemi, “Gak lama kemudian, di Desa itu ada yang kena Covid-19 jadi kegiatannya terhenti.” Ujar Fira saat kami wawancarai (05/12/20).

Di sisi lain, kami mencoba untuk mengkonfirmasi perihal kegiatan yang diadakan di luar jaringan tersebut dengan pihak rektorat UII wabil khusus kepada Wakil Rektor Bidang Riset dan Akademik melalui surat elektronik. Namun surat elektronik kami tak kunjung ditanggapi hingga tulisan ini diterbitkan.


Reporter: Nadhifah D. O, Annisa Ramadhani, Rayhana Arfa, Citra Mediant

Penyunting: Citra Mediant

Grafis: Dimas Surya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *