Oleh: Nazhifah Aulia Anwar & Miftah Laila Nurhaliza
Jumat (26/4) malam telah diselenggarakan pagelaran musik bertajuk Rockataini di pelataran parkiran Ilmu Komunikasi. Awalnya Rockataini dibuat sebagai wadah silaturahmi untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi. Nama Rockataini sebelumnya adalah Rocktober yang berarti Rock Oktober karena sebelumnya akan diadakan pada bulan Oktober 2023. Namun, rencana tersebut tertunda karena ada beberapa hambatan dan mulai dipersiapkan kembali pada bulan Maret hingga April. Hingga tercetuslah nama Rockataini yang sekaligus bertepatan dengan genosida di Palestina.
“Rockataini itu artinya rock dalam musik, kalau ataini intinya tuh musik itu juga. Jadi, musik yang melawan penindasan, seperti jazz, blues, hardcore, pank itukan salah satu dari banyak musik yang menyuarakan perlawanan seperti itu. Rock pun juga dan ya seperti itu,” ungkap Guevara saat di wawancara pada Jumat (26/4).
Dicky dan Guevara sebagai penanggung jawab nampaknya sadar bahwa mereka sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi perlu menyuarakan genosida Israel terhadap rakyat Palestina. Mereka mengaku bahwa acara ini bukan semata-mata hanya untuk menyatukan anak Ilmu Komunikasi tetapi mereka ingin acara ini sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina.
“Awalnya tuh kami cuma ingin membuat acara yang menyatukan Ilkom lah, maksudnya dalam bentuk hiburan, salah satunya musik. Kebetulan saya juga sering menonton dokumenter-dokumenter tentang Palestina. Intinya setelah saya dan Dicky brainstorming itu ya terjadilah Rockataini tersebut ini,” jelas Guevara.
Rangkaian acara ini terdiri dari penampilan 7 band yang berasal dari lingkungan Universitas Islam Indonesia. Lagu-lagu yang dibawakan juga rata-rata bertemakan musik rock sejalan dengan tema acara ini. Rockataini juga mengumandangkan sholawat di awal serta doa bersama untuk rakyat Palestina di penghujung acara.
Selain menampilkan band, Rockataini juga menggalang donasi secara daring dan membuka pesanan kaos dengan desain grafik yang menyatakan dukungan kepada Palestina. Guevara mengaku bahwa panitia tidak mengambil keuntungan sepeserpun dari donasi yang ada. Panitia menggunakan uang donasi hanya untuk biaya produksi kaos dan sisanya dimasukkan kedalam donasi. Terkait alur donasi, panitia akan menampung terlebih dahulu seluruh donasi yang masuk. Kemudian akan langsung dikirim kepada Kedutaan Besar Palestina di Jakarta.
Meskipun hujan deras, acara terbilang sukses karena terlihat dari antusiasme para penonton yang hadir dari awal hingga akhir acara. Tak sedikit dari mereka yang membawa payung agar tetap bisa menikmati acara ini. Idam salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2021, menyebutkan bahwa ia sangat tertarik dengan acara ini karena terbilang unik.
“Jadi aku tertarik sama acara ini karena menurutku acara ini cukup berani dan unik ya. Apalagi pake nama “Rockataini” yang kental banget sama Islam tapi diplesetin jadi rock rock gitu lah. Sejauh ini sih enjoy banget ya, entah itu panitianya, pesertanya, musiknya, band-bandnya itu keren keren semua, asik banget!” ungkap Idam (26/4).
Tak hanya itu, acara ini juga berhasil menggaet penonton dari prodi lain seperti Siti Yofani yang kerap disapa Fani, mahasiswi dari Fakultas Hukum. Ia tertarik menonton karena ingin ikut menyatakan dukungannya kepada Palestina.
“Aku tahu ini dari teman aku anak komunikasi, dia taruh iklan yang poster itu di story Instagram, dan aku memang dari dulu dukung Palestina gitu kan. Nah, di Hukum itu nggak ada acara yang kayak gini nggak ada donasi yang kayak gini juga. Jadi kayak seru aja gitu ikut acara dan bisa donasi bareng,” jelas Fani.
Di samping meriahnya acara tersebut, para penonton yang hadir beserta panitia juga berani menyatakan dukungan untuk Palestina dan mengatakan tidak setuju atas genosida yang terjadi.
“Tanggapan aku pribadi, sebenarnya genosida ini kan awalnya tuh mereka bawa-bawa agama, bawa-bawa sejarah tentang sejarah Nabi Musa gitu, tapi sekarang ini menurut aku ini lebih ke politiknya sih. Lebih ke geopolitik, terus pengaruh Barat di Timur Tengah, lebih ke situ sekarang. Sebenarnya bukan lagi bawa-bawa agama gitu. Menurut aku sih ya jadi kita memang harus peduli sama mereka, bukan karena agama mereka, bukan karna ras mereka, tapi karena manusia aja di sana yang nggak ngerti politik tapi mereka kebawa politik,” ungkap Fani.
Perihal ini Guevara mengaku sedih dan prihatin akan konflik Palestina. Guevara setuju bahwa genosida yang terjadi di Palestina tidaklah lagi tentang agama melainkan sudah melanggar kemanusiaan. Peperangan yang terjadi antara Israel dan Palestina juga semakin menunjukkan normalisasi praktek politik yang kotor dengan cara membunuh sesama manusia.
“Saya memang sedih iya, marah iya, campur aduk lah, semua emosi negatif, emosi sedih intinya kayak kan Israel itu kayak nge-frame Palestina itu sebagai negara teroris, sebagai negara yang hancur kacau balau. Palestina itu bukan cuma selalu tentang teroris bukan tentang hal perang, intinya tentang genosida ya,” tukas Guevara.
Demi melanggengkan acara yang terus menyuarakan isu kemanusiaan, panitia dan penonton kompak ingin acara ini terus diselenggarakan. Rockataini sebagai langkah awal yang baik, harapannya dapat menginspirasi prodi atau komunitas lain untuk membuat acara yang menyatakan dukungan kepada Palestina.
Penyunting: Paramitha Maharani dan Aufa Niamillah
Grafis: Tara Saffanah Hernadi