Oleh: Feroza Fahira & Najwa Ayu Difani
Langkah kaki ratusan mahasiswa baru memenuhi area kampus sejak pagi. Sorak-sorai yel-yel menggema, diiringi arak-arakan penuh warna yang meramaikan suasana. Serumpun sebagai agenda tahunan yang menjadi rangkaian masa orientasi pengenalan Fakultas Psikologi & Fakultas Ilmu Sosial Budaya kembali digelar dengan konsep baru. Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tagline “Kita Bertemu, Bersama Bertumbuh, Bermakna Selamanya.”
Meski pelaksanaannya sempat diguyur hujan, agenda Serumpun 2025 tetap berjalan lancar. Panitia dengan semangat mengarahkan peserta ke auditorium Kahar untuk melanjutkan acara. “Alhamdulillah, mobilisasinya berjalan lancar. Hujan memang tidak bisa dihindari, tapi kami sudah siapkan mitigasi,” ujar Rayan, Ketua Steering Committee Serumpun 2025 (11/09).
Serumpun tahun ini disebut-sebut sebagai “generasi terakhir” sebelum Fakultas Psikologi (FP) dan Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISB) berpisah dan menjalani identitasnya masing-masing. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FISB, Nizamuddin Sadiq, menyebutkan mulai tahun depan kedua fakultas tersebut akan memiliki kegiatan orientasi pengenalan fakultasnya secara terpisah. Belum ada konfirmasi apakah penggunaan nama “Serumpun” akan dipertahankan kedepannya. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan akan adanya nama kegiatan baru bagi masing-masing fakultas.
Serumpun 2025 diikuti 883 mahasiswa baru dari dua fakultas. Sejak pra-Serumpun, para maba miba diajak mengenal lingkungan kampus lewat arak-arakan, di hari pertama dengan adanya penjelasan kedua fakultas, permainan interaktif, hingga jelajah UKM dan UMKM, hingga di hari terakhir yang dilengkapi sesi hiburan konser “The Overtunes” yang meriah.
Penggunaan Toilet Pass menjadi sorotan dalam aturan baru Serumpun 2025. Toilet Pass yang berupa kartu ini digunakan agar mempermudah mobilisasi peserta ke toilet agar lebih tertib. Rayan menjelaskan ide ini bermula dari inisiasi panitia saat melakukan training Wali Jama’ah.
Tidak hanya itu, keterlibatan UMKM sekitar kampus juga memberi warna tersendiri. Tercatat ada tujuh tenant yang dikelola dengan sistem pesanan melalui Wali Jama’ah. Skema ini bukan hal baru, namun tetap memberi pengalaman berbeda bagi maba yang bisa menikmati jajanan sambil mengikuti rangkaian acara Serumpun.
Jauh sebelum hari-H, panitia sudah merancang kegiatan sejak Juni. Komisi A mengkonsep acara, Komisi B menyusun regulasi dan venue, sementara Komisi C mengatur anggaran. Kerja keras ini berpuncak pada tiga hari pelaksanaan yang padat.
Kerja keras mereka tidak selalu mulus. Kasus makanan basi pada pra-Serumpun sempat menjadi sorotan, tepatnya pada menu sosis solo dari salah satu vendor. Namun panitia sigap mengkonfirmasi kepada vendor dan bernegosiasi sesuai kesepakatan. “Ada 16 laporan yang masuk terkait makanan basi. Tapi, Alhamdulillah, tidak ada yang sakit. Kami langsung mitigasi,” tegas Rayan (11/09).
Selain itu, penumpukan sampah di depan gelanggang juga menjadi catatan evaluasi. Meski sudah ada himbauan, padatnya aktivitas panitia membuat sampah cepat menumpuk. Hal ini perlu menjadi catatan untuk distribusi pembuangan sampah lebih merata maupun koordinasi bersama petugas kebersihan agar sampah tidak menumpuk di satu titik.
Bagi mahasiswa baru, Serumpun menjadi agenda yang meninggalkan kesan tersendiri. Hal ini ini ditunjukan dengan mahasiswa baru yang menikmati setiap agenda dari Serumpun, seperti permainan yang interaktif, penayangan MV, dan ketika yel-yel. Keramahan yang ditawarkan oleh panitia menjadi poin lain yang membuat Serumpun menjadi kenangan berkesan bagi mahasiswa baru. Meski ada rasa lelah karena jadwal padat sejak pagi, semangat peserta tidak luntur. Justru, intensitas kegiatan memperkuat kebersamaan antar-angkatan dan memperkenalkan kultur kampus dengan cara yang menyenangkan.
Hal yang sama dirasakan oleh para panitia yang bekerja keras di balik kesuksesan Serumpun 2025. Mereka mengakui persiapan Serumpun terutama acara ini merupakan yang terakhir membutuhkan banyak tenaga dan pikiran. Namun, semua terbayar dengan antusiasme peserta. “Serumpun 2025 menurut saya amazing,” ujar Rayan. (11/09)
Harapan terbesar panitia adalah agar Serumpun kali ini benar-benar menjadi yang terakhir, memberi ruang bagi FP dan FISB untuk tumbuh dengan identitas baru. Meski begitu, jejak kebersamaan yang terjalin tidak akan hilang. Serumpun telah menjadi wadah bagi mahasiswa baru untuk berkenalan, berjejaring, sekaligus merasakan denyut kehidupan kampus.
Logika tanpa logistik sama dengan anarkis. Jadi jangan lupa makan. Tutup Rayan (11/09). Sebuah pengingat sederhana, bahwa di balik euforia orientasi, ada kerja nyata panitia dan energi kolektif yang menjadikan Serumpun 2025 tidak berakhir sekadar menjadi masa orientasi, melainkan sejarah terakhir kedua fakultas yang manis untuk dikenang.



