Oleh : Nadia Qurratu’Aini Mumtazah Ibnu, Tri Cahyantari, Davit Pratama
Perkembangan teknologi informasi saat ini memberikan kemudahan dan kecepatan akses informasi yang belum pernah ada sebelumnya. Masyarakat modern tidak lagi kekurangan informasi, melainkan berhadapan dengan banjir arus data setiap harinya.
Namun, kemudahan akses teknologi ini ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan minat membaca. Data literasi di Indonesia masih menunjukkan angka yang memprihatinkan. Menurut data UNESCO, Indonesia berada di peringkat bawah dalam literasi dunia dengan tingkat minat baca yang sangat rendah, yaitu 0,001%.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah masifnya digitalisasi yang seharusnya mempermudah akses terhadap bahan bacaan. Fenomena tersebut memicu pertanyaan kritis, terutama di kalangan mahasiswa.
Apakah rendahnya ketertarikan membaca pada mahasiswa semata-mata karena malas, atau mungkin ada faktor ekonomi mendasar seperti mahalnya harga buku yang membentang sebagai tembok penghalang?
Menurunnya minat baca di tingkat perguruan tinggi sejatinya tidak tumbuh dalam ruang hampa. Faktor lingkungan kampus, tekanan akademik, relasi pertemanan, hingga sejauh mana tenaga pengajar mendorong penggunaan literatur memiliki andil besar.
Namun, di luar aspek sosiologis tersebut, masalah nyata yang kerap luput dari perhatian adalah hambatan distribusi bacaan yang tidak merata serta beban biaya produksi yang melonjak tinggi. Pada akhirnya memicu tingginya harga buku di pasaran hingga batas yang sulit dijangkau oleh kantong mahasiswa.
Jean, mahasiswa statistika, merasa bahwa harga buku yang mahal dapat menghambat pendistribusian buku menjadi tidak maksimal.
“Kalau misalnya aku adalah orang yang mampu sehingga tidak perlu memikirkan harga buku, pasti aku akan membeli buku tidak terbatas hanya pada terbitan dalam negeri, melainkan juga akan membeli buku-buku yang diterbitkan dari luar negri entah itu dari Amazon atau bahkan dari Alibaba.” ujar Jean (27/09).
Kemudahan Akses Bacaan Di Era Digital
Kemudahan akses digital memberikan fleksibilitas tanpa batas bagi pencari ilmu. Perguruan tinggi pada umumnya telah menyediakan fasilitas perpustakaan fisik yang memuat berbagai koleksi buku, jurnal, dan literatur pendukung tugas akhir maupun riset harian.
Tak hanya itu, kehadiran buku elektronik atau e-book yang dapat diakses melalui gawai hingga perangkat khusus seperti Kindle menjadi angin segar bagi dunia literasi. Jean turut mendukung kemajuan digital ini, ia menyebutkan bahwa dirinya sangat terbantu dengan adanya platform digital untuk mengakses buku secara online.
“Jadi, Z Library tuh kayak open source yang dibuat dari satu organisasi filantropis lah kayak gitu. Terus bisa dibilang mereka mempublikasikan banyak buku.” Ujar Jean (27/09).
Akan tetapi, kepraktisan teknologi ini bak pisau bermata dua. Bagi Generasi Z yang tumbuh dalam iklim serba cepat, keberadaan perangkat digital seringkali memicu perubahan pola konsumsi bacaan yang amat drastis. Kebiasaan mengonsumsi konten singkat membuat beberapa mahasiswa cenderung menyukai hal-hal yang instan dan simpel.
Miftah, mahasiswa Ilmu Komunikasi, menyoroti bagaimana karakteristik generasinya memengaruhi cara mengakses informasi.
“Gen Z pasti mau yang simpel dan murah.”Ungkap Miftah (27/09).
Miftah menambahkan, perubahan pola konsumsi ini bahkan memicu ide untuk menghadirkan terobosan media baca yang serba instan, seperti platform digital yang mampu meringkas isi buku ke dalam format yang lebih ringkas dan interaktif.
Namun, proses membaca yang seharusnya menjadi media perenungan mendalam kini perlahan bergeser menjadi sekadar perburuan fakta secara praktis dan terburu-buru. Kehadiran platform yang menyajikan ringkasan buku atau tayangan video penjelasan kerap diposisikan sebagai pengganti aktivitas membaca buku secara utuh.
Kecenderungan tersebut juga dirasakan oleh Aisyah, mahasiswa Fakultas Hukum, dalam kesehariannya. Ia memandang bahwa media sosial kini telah menyediakan informasi yang lebih ringkas sehingga mahasiswa dapat memperoleh inti suatu informasi tanpa perlu membaca panjang.
“Sekarang di media sosial sudah ada platform seperti Folkative yang menyajikan informasi dengan lebih ringkas. Jadi, kita bisa langsung tahu inti pembahasannya. Menurutku, itu yang bikin mahasiswa lebih tertarik membaca informasi di media sosial daripada di buku, karena informasinya lebih singkat dan kita ngga perlu membaca terlalu banyak.” Ujar Aisyah (27/09).
Masalah Finansial yang Menjadi Penghambat Utama Literasi
Bagi sebagian besar mahasiswa, hambatan terbesar dalam memelihara kebiasaan membaca buku fisik bermuara pada suatu persoalan klasik, yaitu masalah finansial. Lonjakan harga buku cetak di pasaran dalam beberapa tahun terakhir dirasakan kian tidak ramah bagi anggaran bulanan.
Situasi menjadi kian berat ketika membicarakan literatur akademik wajib atau buku-buku referensi utama kuliah. Pengalaman para mahasiswa menunjukkan betapa mahalnya harga akses terhadap pengetahuan. Gina, teman satu jurusan Ilmu Komunikasi dengan Miftah, mengingat pengalaman mereka saat berhadapan dengan referensi mata kuliah Public Speaking yang harganya melambung tinggi di luar jangkauan mahasiswa.
“Kalau aku yang suka beli buku, sekarang itu lebih mahal dan tidak terjangkau. Dulu paling seratus ribu udah dapat dua buku, sekarang dua ratus ribu cuma dapat satu buku. Jadi kalau sekarang mikir-mikir mau beli buku karena harganya makin naik.” Tutur Gina (27/09).
“Pas kelas Public Speaking itu harga bukunya mahal banget, ada yang tiga jutaan. Terus pas dicari yang paling murah di Indonesia itu sekitar 300 sampai 500 ribu. Jadi gak ada yang baca padahal disuruh,” timpal Miftah (27/09).
Gina menambahkan “Setelah dosen bilang harga bukunya aslinya 3 juta, kita langsung kaget. Karena harganya membludak, kita berdua dan temen-temen gak ada yang mau beli untuk harga segitu,” (27/09).
Angka-angka spektakuler ini secara psikologis dan finansial langsung meruntuhkan niat mahasiswa untuk membeli. Pada akhirnya, mahasiswa berada dalam posisi dilematis, memprioritaskan alokasi uang saku untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan harian, atau mengorbankannya demi satu jilid buku.
Persoalan minat membaca mahasiswa tidak sesederhana anggapan bahwa mahasiswa tidak memiliki minat untuk membaca. Di tengah kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat, akses terhadap bacaan juga menjadi lebih mudah. Hadirnya e-book hingga berbagai platform informasi membuat seseorang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada buku fisik untuk mendapatkan pengetahuan. Namun, kemudahan akses tersebut tidak serta-merta menyelesaikan persoalan literasi.
Di satu sisi, harga buku yang semakin melonjak menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa dalam memperoleh bacaan. Pengalaman mahasiswa yang harus berhadapan dengan harga buku hingga jutaan rupiah menunjukkan bahwa akses terhadap pengetahuan juga berkaitan dengan kemampuan ekonomi seseorang.
Lalu, persoalan membaca juga hadir dari perubahan cara mahasiswa memperoleh informasi. Hadirnya berbagai digital membuat informasi semakin singkat, praktis, singkat dan mudah ditemukan. Media sosial bahkan mampu menyajikan inti dari suatu informasi tanpa mengharuskan seseorang membaca panjang. Hal tersebut perlahan dapat mempengaruhi pola konsumsi bacaan mahasiswa yang semakin terbiasa dengan sesuatu yang instan.
Dengan demikian, persoalan literasi tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi. Kemudahan akses, mahalnya harga buku, kondisi ekonomi, serta perubahan pola konsumsi informasi di era digital saat ini menjadi bagian yang saling berkaitan dalam melihat kebiasaan membaca mahasiswa. Ketika buku semakin mudah ditemukan tetapi tidak selalu mudah dijangkau, sementara informasi semakin cepat diperoleh tetapi tidak selalu dibaca secara mendalam, persoalan literasi menjadi semakin kompleks.
Pada akhirnya, rendahnya minat membaca bukan hanya tentang ada atau tidaknya keinginan untuk membaca, tetapi juga tentang seberapa mudah seseorang memperoleh bacaan, seberapa mampu ia menjangkaunya, dan bagaimana perkembangan zaman mengubah cara seseorang dalam mengonsumsi informasi.
Penyunting : Muthia Zainnajwa Zahra
Grafis : Muhammad Husain Al Jawad