Oleh: Paramitha Maharani & Afifah Azzahra
Pemilwa atau pemilihan wakil mahasiswa menjadi kegiatan tahunan mahasiswa UII sebagai proses pemilihan anggota legislatif di tingkat universitas maupun fakultas. Pemilwa menjadi salah satu acara sakral yang menentukan nasib keberlanjutan organisasi kelembagaan seluruh fakultas. Tak lepas dari intrik dan dinamika politik, pemilwa seringkali diselimuti fenomena yang menarik untuk ditelisik, sebagaimana yang terjadi di tahun ini.
Menilik sejarah pemilwa tiga tahun ke belakang, caleg yang berani mencalonkan diri di FPSB dapat dihitung jari. Empat nama hanya terpampang pada pemilwa periode 2018/2019. Tak hanya itu, celakanya kelembagaan FPSB malah dibekukan setahun kemudian buntut dari tidak adanya mahasiswa yang mau untuk mencalonkan diri. Sudah jatuh tertimpa tangga, kasus penyalahgunaan dana lembaga semakin memperkeruh citra lembaga FPSB pada periode pasca pembekuan.
Kemudian pada periode lalu, meskipun rapor merah mulai terkikis, tetapi jumlah calegnya masih saja minim. Lantas, seperti tahun-tahun sebelumya, posisi strategis pun perlu untuk dirangkap. Hal ini jelas membuat kinerja DPM menjadi kurang optimal mengingat jumlah mahasiswa yang nyaris tidak bisa dibandingkan.
Menariknya, tahun ini FPSB tiba-tiba mempunyai tujuh calon anggota legislatif. Empat di antaranya berasal dari prodi Hubungan Internasional, yakni Muhammad Ferdian Allam, Royyan Mujahid Al Faruq, Zidni Ilmannavi, dan Arshy Nur Rachmat Santosa. Selanjutnya ada Rui Mulyandani dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Tita Rizqi Aliefa dari prodi Psikologi, dan Muhammad Adrian Putra Hidayat dari prodi Ilmu Komunikasi. Berkaca pada periode sebelumnya, peningkatan caleg tahun ini patut diapresiasi karena adanya inisiatif dan gebrakan baru untuk membuat perubahan di kelembagaan FPSB, terlebih ketika latar belakang masing-masing caleg ternyata begitu beragam. Setiap posisi strategis pun bisa jadi tak perlu lagi untuk dirangkap, apabila semua caleg lolos ambang batas dalam pemilihan.
“Jadi kalau dari aku pribadi, bisa dibilang ini merupakan pertanda baik dalam artian setahun dan dua tahun lalu, seringkali kita mendengar alasan dari para petinggi sebelumnya, mereka itu menyayangkan kenapa secara SDM, mahasiswa ini dirasa kurang peduli dengan keadaan organisasi kampus. Hal ini membuat kurangnya SDM yang turut serta dalam membangun organisasi di fakultas,” respons Ketua Komisi 1 DPM FPSB, Satrio Ardhi ketika ditemui Selasa lalu (14/03).
Perihal permasalahan ini, DPM dan LEM sejatinya telah memiliki rencana untuk mengantisipasi kurangnya jumlah SDM di kelembagaan periode selanjutnya. Namun, program ini belum berjalan optimal dan efektif. Ketua LEM FPSB Muhammad Fauzi (14/03), berpendapat bahwa spesifikasi program kaderisasi sudah mencapai tahap perencanaan dan sudah siap untuk dieksekusi, tetapi kurangnya waktu dalam pelaksanaan dikhawatirkan akan mengganggu waktu periodisasi.
“Kita dari awal sudah mewanti-wanti untuk jangan sampai kerja baik yang dilakukan di periode ini tidak dilanjutkan. Jadi, temen-temen calon penerus itu kita telusuri, baik dari LEM, DPM, dan himpunan sendiri. Kita juga nggak berhenti di situ untuk nyari calon-calon penerus karena nggak boleh asal-asalan. Rata-rata juga mereka sendiri yang ingin, apa bilangnya kayak ngelapor ke kita ‘bang kita kepengin melanjutkan’ dan kita juga sudah beri arahan-arahan di awal sehingga mereka jadi caleg itu tidak kosong,” sambung Fauzi.
Menilik hal tersebut, kami mencoba mengulik lebih dalam perihal alasan yang mendorong para calon untuk maju nyaleg tahun ini. Kami kemudian menemui Rui (14/03), caleg dari PBI yang ingin turut berkontribusi pada kelembagaan FPSB tahun ini.
“Jadi, dari aku pribadi sih karena pertama ya aku pengen angkat nama PBI. Soalnya tadi kan kalau di kelembagaan itu PBI belum ada yang maju sampai sini gitu lho, apalagi tingkat fakultas,” ujar Rui.
Rui berpendapat bahwa peran mahasiswa sangat penting dalam menjaga stabilitas kelembagaan. Gayung bersambut, caleg dari HI, Arshy mengakui turut merasakan hal serupa.
“Yang pertama yang pasti keminatan orang-orang tentang kelembagaan. Mungkin visi aku tuh terwujudnya lembaga yang menjadi agen perubahan demi kebermanfaatan masyarakat FPSB. Kenapa kebermanfataan? Karena lembaga bisa ngasih (manfaat) yang banyak bagi masyarakat FPSB. Tapi kalau masyarakat FPSBnya masih nggak mau menerima atau tutup mata juga susah,” ujar Arshy (15/03).
Pernyataan Arshy tersebut mengarahkan kami pada akar permasalahan dari kurangnya modal manusia yang terjadi di setiap tahunnya. Arshy sempat menyinggung bahwa kurangnya minat mahasiswa FPSB terhadap kelembagaan didasari dengan alasan, bahwa orientasi mahasiswa sekarang yang hanya fokus kepada akademik. Padahal, tidak bisa dipungkiri ada manfaat lain yang didapatkan ketika berorganisasi.
“…Mungkin orang tuh nggak ada minatnya dalam kelembagaan. Kenapa? Karena yang aku lihat di sekitarku, orang-orang tuh orientasinya selalu bekerja. Bahkan sekarang tuh berlomba-lomba IISMA, kenapa nggak berlomba lomba kelembagaan juga,” sambungnya.
Mengenai keresahan kelembagaan FPSB, Tita selaku caleg dari Psikologi menuturkan bahwasanya ia ingin turut andil dalam mengevaluasi kelembagaan FPSB yang lebih baik ke depannya. Tita menginginkan kelembagaan FPSB ini menjadi lembaga legislatif yang efektif, progresif, dan kolaboratif dengan pihak lain.
Benang merah yang dituai dari mulut ke mulut meruntut fenomena ini ke ringkasan akhir. Sederhananya, para caleg ini berangkat dari alasan yang sama, yakni keresahan yang sama dan upaya kolektif untuk membenahi. Kekurangan-kekurangan pada periode sebelumnya mendorong mereka untuk menjadikan kelembagaan FPSB lebih progresif ke depannya.
Melalui latar belakang para caleg yang sangat beragam, pemilwa tahun ini menjadi sebuah kontestasi politik yang kian menarik untuk disimak. Tidak hanya sekadar memilih siapa anggota legislatif yang pantas, tetapi pemilwa juga membuka mata para mahasiswa FPSB, bahwa lingkungan kelembagaan yang progresif hanya dapat diciptakan melalui kontribusi mahasiswanya itu sendiri.
Penyunting: Haidhar F. Wardoyo
Grafis: Hasan Basri