Kabar Kabar Estetik

Narasi x BBDF x Artjog 2025: Kolaborasi Hidupkan Budaya Kebaya Melalui KitaBerkebaya

Ditulis oleh: Najwa Ayu Difani & Nuraini Whidi Astuti

 

Warisan budaya tidak lekang oleh waktu. Semangat itulah yang ingin dipertahankan oleh tim Narasi dan Bakti Budaya Djarum Foundation melalui kolaborasi bersama Artjog dengan menggelar acara bertajuk KitaBerkebaya pada Kamis (07/08) lalu dalam festival pameran Artjog 2025, di Yogyakarta. Acara ini mengangkat kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia yang tidak hanya menjadi warisan dengan penggunaan formal semata, tetapi sebagai busana yang dapat digunakan keseharian. 

Kolaborasi lintas disiplin antara Narasi sebagai media, Bakti Budaya Djarum Foundation, dan Artjog yang merupakan ruang seni, bertujuan menghadirkan ruang bagi anak muda untuk menghidupkan kembali budaya berkebaya. KitaBerkebaya juga menjadi bagian dari perayaan Hari Kebaya Nasional yang jatuh pada 24 Juli, dilaksanakan pertama kali pada (26/07) di Bandung dan ditutup pada acara Artjog Yogyakarta 2025. Acara diramaikan dengan pengunjung perempuan yang menggunakan kebaya warna-warni dan laki-laki memadupadankan kain batik dengan kreatif.

Kegiatan berlangsung pada sore hari setelah pengunjung berkeliling pameran Artjog, dimulai dengan penayangan film pendek KitaBerkebaya dan mengikuti diskusi proses pembuatannya bersama BBDF. Film berdurasi singkat tersebut menayangkan para perempuan dengan berbagai profesi menggunakan kebaya di perkotaan. Program Director BBDF, Renitasari, memaparkan pesan dari film ini sebagai persuasi agar perempuan Indonesia mau mengenakan kebaya. Menurutnya, melalui gerakan ini juga dapat mendorong perekonomian melalui UMKM butik kebaya lokal, sehingga menjadi pergerakan yang hidup dan menghidupi. 

Ayesha sebagai Assistant Director turut menambahkan bahwa kebaya tidak sekadar busana, namun, warisan Indonesia yang harus dijaga bersama. “Kebaya bukan punya orang jawa, tapi punya orang Indonesia. Kita bisa memberikan kontribusi yang nyata dengan mengenakan busana kebaya,” tuturnya (07/08).

Meski acara berlangsung hingga malam, pengunjung tetap antusias berkat sesi interaktif seperti ajakan untuk berpose dengan kebaya yang dikenakan di atas panggung. Penampilan istimewa dance performance beksan balet, yang memadukan balet dengan tari jawa, juga berhasil menarik minat para pengunjung. 

Acara dilanjut dengan sesi talkshow bertema Berdaya Lewat Kebaya: Warisan Budaya Sebagai Ruang Ekspresi bersama budayawan Gusti Sura dan content creator Mbakyu Berkebaya. Diskusi interaktif berlangsung membahas pentingnya melestarikan budaya berkebaya agar tidak punah dan tetap relevan di kalangan anak muda. 

Seiring berkembangnya zaman, kebaya cenderung dikaitkan dengan busana acara formal. Dalam talkshow, Gusti Sura menjelaskan penggunaan kebaya keseharian di masa lalu yang bahkan digunakan perempuan Indonesia pada masa peperangan. Ia juga membahas pergeseran visual kebaya yang semakin variatif seiring berjalannya waktu.

Mbakyu Berkebaya, sebagai content creator yang mempromosikan penggunaan kebaya di sosial media, menyadari persepsi terhadap kebaya yang jauh dinormalisasikan sebagai busana keseharian. Menurutnya, hal ini didasari pada pikiran yang khawatir akan tanggapan orang lain, seperti dianggap aneh atau dijadikan ejekan. Mbakyu menegaskan ketakutan semacam itu perlu dihilangkan karena belum tentu sesuai kenyataannya. 

“Ketika mencoba menggunakan kebaya sehari-hari, respon orang nggak seperti itu. Paling dapet celetukan iseng seperti ’habis pawai dari mana kak?’ atau ‘habis menari di mana kak?’,” ungkap Mbakyu (07/08).

Hal tersebut juga merupakan respon yang sangat wajar terjadi, mengingat saat ini kita sedang berada di zaman yang belum menormalisasikan penggunaan kebaya dalam busana sehari-hari yang dimana sangat jauh berbeda dari masa lalu. 

Padahal dengan terjadinya pergeseran zaman dan value, kita tetap bisa menghidupkan kembali budaya berkebaya dengan cara memadupadankan dengan model yang dapat disesuaikan. Mengingat kebaya saat ini memiliki aneka ragam model dan jenis kain yang beragam. Sehingga, dapat disesuaikan kembali sesuai dengan style yang diinginkan tanpa takut merasa tidak nyaman maupun ribet. 

Dalam acara ini juga menampilkan bagaimana cara memadupadankan kebaya yang dipandu langsung oleh mbakyu. Pada sesi ini, Mbakyu menghadirkan dua model wanita yang menggunakan hijab dan yang tidak menggunakan hijab.  Hal ini merupakan salah satu upaya yang tepat untuk memberikan gambaran sekaligus membekali pengetahuan bagi para penonton, untuk mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk memadupadankan kebaya, sesuai dengan fungsi hingga aturan dasarnya. Sehingga, kebaya bisa tetap relevan sekaligus tetap mempertahankan nilai kenyaman, estetika dan budayanya. 

Acara ini menuai respon positif dari para pengunjung dan pelaku UMKM kebaya lokal. Nadia selaku pelaku UMKM kebaya lokal mengapresiasi acara ini yang dapat membuat anak muda percaya diri mengenakan kebaya. “Ini juga sekaligus dapat memberi kesempatan buat calon pembeli untuk mencoba langsung sebelum membeli sehingga ukuran dan kecocokan lebih pasti,” ujarnya (07/08). Nadia juga menambahkan bahwa acara ini memudahkan interaksi antara penjual dengan pembeli yang masih awam mengenai kebaya, sehingga mereka dapat berkonsultasi mengenai pemilihan kebaya yang sesuai.

Michelle dan Dea selaku pengunjung yang antusias mengikuti acara ini terpukau melihat banyak sekali anak muda yang turut mengenakan kebaya, sehingga mereka tidak merasa sendiri. Mereka berharap acara seperti ini diperbanyak karena dapat menubuhkan rasa cinta terhadap budaya Indonesia. Sehingga, penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari dapat dinormalisasikan kembali. 

Tentu acara ini tidak hanya dihadiri oleh generasi muda saja. Beberapa orang tua tampak antusias mengikuti acara ini, salah satunya adalah Ibu Sri yang sangat mengapresiasi gerakan berkebaya. Ia merasa bahwa seiring perkembangan zaman, semuanya telah berubah, dahulu berkebaya itu wajib. Namun, sekarang kebaya tidak lagi dinormalisasikan, padahal menurutnya kebaya sangat fleksibel untuk digunakan. Sehingga, dengan hadirnya acara ini diharapkan dapat mengembalikan budaya berkebaya. Narasi sebagai penyelenggara memanfaatkan momen ini untuk merangkul generasi muda sebagai penerus yang melestarikan warisan budaya Indonesia.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi kesadaran bagi teman-teman. Kebaya tidak hanya berhenti di lemari atau acara seperti kondangan saja, tapi menjadi warisan budaya yang kita hidupkan filosofinya dalam kesadaran kita sehari-hari,” Ujar Cita dari Narasi Academy (07/08).


Penyunting : Nazhifah Aulia Anwar

Grafis : Tara Saffanah Hernadi