Gagas Ulasan

Kupu-Kupu Kertas : Menyingkap Luka Sejarah dalam Balutan Cinta Terlarang

Penulis : Aisha Dalta Lena

Film Kupu-Kupu Kertas merupakan salah satu karya sinema yang berani mengangkat kembali lembaran kelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Disutradarai oleh Emil Heradi dan diproduseri oleh Denny Siregar, film yang diadaptasi dari novel karya Deny Wijaya ini tayang perdana di bioskop pada 7 Februari 2024, film ini sempat mengalami penarikan peredaran setelah hanya tiga hari penayangan. Disebut sebagai tayangan yang memicu kontroversi di tengah suasana pemilu, Kupu-Kupu Kertas akhirnya kembali hadir dan dapat disaksikan melalui platform Netflix. Keberanian film ini dalam menyuarakan sisi sensitif sejarah menjadi nilai penting yang tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga membuka ruang refleksi bagi generasi masa kini.

Didukung visualisasi yang memukau serta pendalaman karakter yang apik, film ini berhasil menarik perhatian penonton hingga menempati posisi dua teratas dalam daftar film terpopuler di platform Netflix Indonesia. Berlatar pada era 1960-an, Kupu-Kupu Kertas mengisahkan ketegangan antara dua kekuatan besar pada masa itu, yakni perebutan tanah antara PKI dan NU yang dibalut dalam cerita cinta terlarang dan penuh dilema antara Ning (diperankan oleh Amanda Manopo), putri dari seorang simpatisan PKI dan Ihsan (diperankan oleh Chicco Kurniawan), pemuda dari lingkungan organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU). Pertemuan keduanya yang terjadi secara tak sengaja berkembang menjadi hubungan cinta, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda pada awalnya mereka tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan tersebut.

Kupu-Kupu Kertas menampilkan narasi yang cukup terfokus pada konflik ideologis antara PKI dan NU, menghadirkan gambaran yang tajam mengenai ketegangan sosial dan politik pada era 1960-an. Kupu-Kupu Kertas menyajikan rangkaian adegan dramatis yang sarat kekerasan, mulai dari pembantaian hingga pengkhianatan yang divisualisasikan dengan detail dan mampu menggugah emosi penonton hingga sesekali membasuh air mata. Setiap adegan konflik tidak hanya menciptakan ketegangan, tetapi juga mengajak penonton merenung tentang bagaimana membela ideologi secara membabi buta dapat menggerus kemanusiaan. Film ini menjadi pengingat bahwa ketika manusia dikuasai oleh ego dan fanatisme yang tersisa hanyalah luka dan kehancuran yang tak tersisa.

Meskipun alur romansa yang diselipkan dalam cerita terasa kurang berkembang secara menyeluruh dan mendalam, Kupu-Kupu Kertas tetap berhasil menghadirkan chemistry yang menyentuh antara Ning dan Ihsan. Kehangatan hubungan mereka tergambar bukan dari dialog manis yang berlebihan, melainkan melalui serangkaian perjuangan sunyi yang dilakukan Ihsan, menembus sekat-sekat yang dibangun oleh keluarga dan perbedaan ideologi. Ia tetap teguh melangkah meskipun mendapat penolakan keras antarkeluarga yang saat itu berada di tengah pusaran konflik.

Perjalanan cinta mereka menjadi pelipur dalam kerasnya realitas yang mereka hadapi. Sosok Ihsan hadir sebagai cahaya dalam hidup Ning yang selama ini terkungkung oleh tekanan dan kendali orang tuanya. Di dalam satu adegan yang menggugah, Ihsan membawa Ning menjauh sejenak dari dunia yang kelam dan memperlihatkan padanya sisi dunia yang lebih damai.

Sambil menatap langit bersama, Ihsan menjawab pertanyaan Ning dengan nada pelan namun penuh makna :  “Tempat apa ini?” tanya Ning dengan memandang sekeliling dengan penuh keheranan Ihsan menjawab sembari tersenyum hangat, “Aku menyebutnya langit-langit surga.”

Kalimat itu bukan hanya menjadi simbol harapan bagi Ning, tetapi juga bagi penonton bahwa di tengah konflik dan luka sejarah masih ada ruang untuk cinta, kebebasan, dan keindahan yang sederhana.

Kegigihan Ihsan semakin menguat kala pada suatu malam, Rasjid kakak Ihsan yang merupakan pemimpin anggota Ansor di desa bersama puluhan Ansor lainnya diserang dan dibunuh oleh simpatisan PKI yang dipimpin oleh Rekoso, ayah Ning dan para pengikutnya. Serangan tersebut berujung pada pembantaian yang menghanguskan harapan dan memicu kebencian di tengah masyarakat sehingga situasi pun semakin memanas dan tak terkendali. Di tengah kondisi yang kian mencekam, Ihsan sadar bahwa keselamatan Ning berada dalam bahaya. Ia pun berusaha membawa Ning pergi menjauh dari amukan balas dendam yang bisa merenggut nyawa gadis yang dicintainya. Meskipun mendapatkan penolakan keras dari ibunya yang tak rela melihat anaknya mempertaruhkan nyawa demi putri dari pihak “lawan”, Ihsan tetap teguh pada pendiriannya.

Pada menit-menit akhir film Kupu-Kupu Kertas, cerita ditutup dengan nuansa yang melankolis dan menggugah perasaan. Tidak ada kemenangan mutlak dalam konflik yang merenggut manusia hanya luka, kehilangan, dan kenangan yang tertinggal. Film ini menunjukkan bahwa dalam setiap pertentangan selalu ada pihak yang menjadi korban dan sosok-sosok yang harus menanggung duka karena ditinggalkan, seperti yang tergambar dalam salah satu dialog menyentuh dalam film :

“Dalam setiap konflik ada yang meninggal dan ada yang ditinggalkan.”

Kupu-Kupu Kertas menutup kisahnya dengan sunyi yang dalam, mengingatkan kita bahwa cinta meski tak selalu berujung bahagia tetap bisa menjadi bentuk perlawanan paling manusiawi di tengah dunia yang penuh kebencian. Penonton diajak menyadari bahwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi juga tentang mereka yang terjebak di tengah konflik yang kehilangan orang-orang tercinta bahkan sebelum sempat merayakan cinta maupun harapan. Kupu-Kupu Kertas menarasikan sebuah keheningan yang menyuarakan luka, kehilangan, dan cinta yang tertahan.

Di tengah situasi bangsa yang kembali dipenuhi hiruk pikuk dan perbedaan pandangan, Kupu-Kupu Kertas hadir sebagai tayangan yang relevan dengan kondisi masa kini. Film ini tidak sekadar menampilkan potret sejarah kelam, tetapi juga menjadi cermin sosial yang menyuguhkan banyak pelajaran berharga. Dari perpecahan hingga pengorbanan, dari cinta hingga kehilangan, semuanya dirangkai untuk mengajak penonton merenungi nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan pentingnya menjaga akal sehat dalam menghadapi perbedaan. Film ini seolah menjadi pengingat bahwa luka masa lalu tidak seharusnya terulang, justru menjadi pelajaran untuk menata masa depan yang lebih bijak dan berperikemanusiaan.


Grafis : Indah Damayanti