Oleh: Nabila Natasha E.P & Pingkan Riza Sefianna
Pesona Ta’aruf atau PESTA 2025 pada Rabu (3/9) bukan hanya sekedar kegiatan orientasi semata, kegiatan ini merupakan gerbang awal pengenalan mahasiswa baru pada jantung kehidupan di dalam Universitas Islam Indonesia (UII). PESTA hadir sebagai ruang pertemuan dan simbolik dari langkah awal menuju fase kehidupan dewasa awal bagi para mahasiswa baru.
PESTA kali ini yang menggelar panggung utama di GOR Ki Bagoes Hadikusumo menampilkan talkshow dijelaskan langsung oleh pemateri, Anies Rasyid Baswedan. Talkshow kali ini mengangkat tema kepemimpinan, bagaimana diperlukannya kepemimpinan yang mengedepankan integritas. Anies juga menegaskan di dalam pembicaraannya bahwa kepemimpinan sejati tidak lepas dari adanya kepercayaan yang hadir dan diibaratkan sebagai imam dan makmum yang menjalin rasa kepercayaan dan rasa saling menghormati antara satu sama lain. “Sifat dasar pemimpin yang harus ada yaitu Amanah, kepercayaan itu nomor satu,” Anies menambahkan.
Seorang pemimpin dapat menegaskan bagaimana transparansi menjadi kunci utama dalam setiap tahapan pengambilan keputusan. Transparansi tentu memungkinkan proses tersebut dapat diakses dan dipantau oleh pihak lain sehingga keputusan yang diambil dapat diketahui, dipantau, dan dievaluasi secara terbuka. Anies memperkenalkan rumusan kebijakan yang dirumuskannya, yaitu: K (kepercayaan) = K1 (kompeten) + I (integritas) + K2 (kedekatan) – KP (kepentingan pribadi). Rumus tersebut menjelaskan bahwa kepemimpinan dibangun atas dasar kompetensi, integritas, dan hubungan kedekatan, tetapi semua hal tersebut bisa saja runtuh bila adanya menyangkut kepentingan pribadi.
Masih berkaitan dengan berbagai polemik yang terjadi, terdapat pertanyaan yang ditujukan ke Anies Baswedan mengenai bagaimana cara seorang pemimpin menjamin transparansi dalam setiap pengambilan keputusan sehingga dapat terorganisir.
“Transparansi itu adalah proses yang bisa diakses oleh orang lain dan proses pengambilan keputusan dan eksekusi keputusan. Ada transparansi ini bisa mencegah penyimpangan, ketika ada penyimpangan maka ada yang mengawasi dan mengawasi akan bersuara serta mengoreksi. Itu sebabnya transparansi itu penting dan transparansi menjadi salah satu kunci untuk bisa menghadirkan hal-hal yang lebih baik.” ujar Anies.
Adanya kepemimpinan juga mengedepankan rasa percaya dari pengikutnya. Dengan menjadikan kepemimpinan yang didasari oleh amanah, rasa tanggung jawab, dan kesetaraan. Terdapat pertanyaan kepada Anies Baswedan mengenai tentang sejarah dinamika demokrasi, di Indonesia sendiri mempunyai sejarah dinamika demokrasi yang kuat dari zaman demokrasi terpimpin sampai demokrasi pasca reformasi hingga sekarang, dengan berbagai polemik yang terjadi saat ini. Anies diberi pertanyaan mengenai bagaimana pandangan beliau tentang cara seorang pemimpin dapat menangani perbedaan pendapat dari pengikutnya.
“Ketika ada perbedaan pendapat, bisa ditangani karena perbedaan pendapat itu suatu hal yang wajar, bukan sebagai masalah. Kalau masalah, maka dia akan ditiadakan. Tapi ini sebagai sesuatu yang wajar ketika ada kesetaraan untuk berdialog, ada tukar pikiran. Karena dialog, tukar pikiran itu akan menimbulkan pertukaran dari masing-masing pandangan, dan harapannya akan kemudian dipasifkan supaya bisa dapat titik temu. Kalau tidak dapat titik temu, maka harus ambil keputusan. Harus ambil keputusan yang menjelaskan. Yang penting, ambil mana, ambil prioritas, ada satu ambilan, ada satu keputusan untuk menjelaskan.” jawab Anies.
Ditanyai mengenai PESTA, Anies menilai kegiatan orientasi penting untuk membentuk pola pikir mahasiswa sejak awal, karena orientasi menjadi suatu ajang penyesuaian yang membuat mahasiswa baru yang efektif menjalani perkuliahan sehingga energi tidak terbuang sia-sia. Tidak ketinggalan, beliau memberi wejangan untuk para mahasiswa baru bahwa keikutsertaan di luar kelas akan menjadi bekal berharga selama perkuliahan.
Selain itu, adaptasi mahasiswa adalah topik perhatian yang paling penting untuk disampaikan kepada mahasiswa baru. Memasuki dunia kampus berarti memasuki lingkungan baru, seperti dosen, teman sebaya, hingga kakak tingkat yang membutuhkan sikap terbuka. “Adaptasi itu menuntut kemandirian, berbeda dengan SMA yang semuanya terjadwal, di perguruan tinggi dituntut untuk mengatur sendiri. Karena itu, bekali diri dengan keterampilan mengelola waktu dan sumber daya,” tambahnya.
Sebagai penutup talkshow, mahasiswa dituntut harus memiliki peran aktif dalam menyikapi keadaan adalah pesan beliau terkait fenomena gagalnya pemerintah menangani permasalahan yang ada.
“Mahasiswa bukan hanya warga kampus, tetapi juga warga negara yang memiliki tanggung jawab kebangsaan. Bergeraklah, jangan hanya hadir di kelas.” jelasnya.
Generasi muda harus menjadikan suatu kepercayaan, integritas, dan transparansi sebagai bekal dalam kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang sempurna, janji publik adalah tolak ukur integritas dari pemimpin. Oleh karena itu, sudah selayaknya masyarakat untuk merekam, mengawasi, dan menagih janji.
Penyunting : Alia Al Hasna
Reporter : Nadilla Putri/Aisha Dalta Lena/Kanaya Aulia Rachmadiena/Indah Damayanti
Grafis : Tara Saffanah Hernadi