Kabar Kabar Estetik

Mendorong Literasi Masyarakat, Ruang Literasi Kaliurang Gelar Laman Cerita #15 Bertema Psikologi

Oleh : Aisha Dalta Lena Fereda, Marcha Tiara, Admira Naira Ramadhani

Komunitas Ruang Literasi Kaliurang sukses menggelar Laman Cerita #15 bertema psikologi di Pendopo Wahidin, Sleman. Mengusung konsep read & discuss, gerakan mandiri berbasis masyarakat ini hadir secara gratis sebagai ruang belajar alternatif untuk menumbuhkan minat baca dan mengasah berpikir kritis. 

SLEMAN – Komunitas Ruang Literasi Kaliurang menyelenggarakan Laman Cerita #15 bertema psikologi di Pendopo Wahidin pada Minggu (20/09). Kegiatan tersebut menghadirkan ruang baca dan diskusi bagi masyarakat untuk membaca buku pilihan serta berbagi cerita, pengetahuan, dan perspektif secara langsung.

Pemilihan pendopo sebagai ruang diskusi didukung oleh suasana yang tenang, sejuk, dan asri karena dikelilingi oleh persawahan. Suasana lesehan di pendopo menciptakan ruang diskusi yang lebih santai dan nyaman, sehingga peserta dapat berinteraksi, bertukar pikiran, serta menyampaikan pendapat dengan lebih leluasa.

Gerakan mandiri berbasis masyarakat ini diselenggarakan secara terbuka dan gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun bagi siapapun yang ingin bergabung. Inisiatif ini difungsikan sebagai ruang belajar alternatif di luar pendidikan formal. 

Fokus utama kegiatan adalah menumbuhkan minat baca sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis (critical thinking) masyarakat serta generasi muda secara inklusif. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan serta membangun sikap saling menghargai terhadap keputusan dan pandangan satu sama lain.

Laman Cerita merupakan kegiatan yang sejak awal ditujukan untuk meningkatkan literasi dan pengetahuan masyarakat. Konsep kegiatan dilakukan dengan peserta membawa buku pilihan, membaca selama kurang lebih 45 menit, kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Penyelenggara menyebut konsep tersebut tidak banyak mengalami perubahan sejak edisi awal, sementara tema yang dibahas terus mengalami variasi, mulai dari novel, tema bebas, politik, hingga psikologi pada edisi ke-15.

Tema psikologi sendiri menjadi salah satu tema yang diusung karena psikologi merupakan hal  yang saat itu terlintas dalam benak penyelenggara ketika pemilik Ruang Literasi menanyakan tema apa yang akan dibawa selanjutnya. Menurut penyelenggara, tema psikologi dipilih karena tema bebas, politik, dan novel sudah cukup sering diangkat sebelumnya. 

“Selain untuk meningkatkan literasi, kita juga ingin menambah teman. Ketika seseorang membaca satu buku, belum tentu ia membaca buku yang lain. Melalui kegiatan ini, kita bisa mendapatkan buku sekaligus pengetahuan lain,” ungkap penyelenggara.

Salah satu peserta mengatakan ketertarikannya mengikuti Laman Cerita #15 karena tema psikologi memungkinkan buku dibahas dari sudut pandang yang berkaitan dengan kehidupan manusia. “Psikologi itu nggak ada habis-habis. Kita bisa bertukar cerita, informasi, atau hal-hal yang perlu dibaca dan juga bisa menambah wawasan,” ungkapnya.

Peserta lainnya tertarik mengikuti kegiatan karena ingin menemukan lingkungan positif dan teman yang memiliki kebiasaan membaca. Ia juga menilai kegiatan tersebut menjadi tempat untuk berbagi cerita dan bertukar pikiran. “Tempat untuk cerita, tempat yang bagus untuk bicara dan bagi pikirannya. Ini tempat yang menarik dan bagus sebenarnya,” ungkap salah satu peserta.

Selain menjadi ruang membaca, peserta menilai Laman Cerita memberikan kesempatan untuk memperoleh perspektif baru. Salah satu peserta menyebut kegiatan tersebut membuatnya mengetahui berbagai buku dan mendapatkan pandangan dari orang lain. Ia juga menilai diskusi membantu peserta untuk menghargai pendapat serta membuka perspektif yang lebih luas.

“Tempat untuk cerita, tempat yang bagus untuk bicara dan bagi pikirannya. Ini tempat yang menarik dan bagus sebenarnya,” ungkap salah satu peserta.

Sepanjang perjalanannya, tema yang diusung Laman Cerita mengalami sejumlah perubahan. Pada edisi-edisi awal, tema yang diangkat berupa novel. Setelahnya, komunitas komunitas pernah membuka tema secara bebas, termasuk pernah membahas isu politik, sebelum akhirnya beralih ke tema psikologi pada edisi ke-15 ini.

“Awalnya itu novel, terus bebas, habis itu psikologi. Karena novel udah sering, banyak orang bawa novel. Terus bebas, bebas politik,” ungkap penyelenggara, menambahkan bahwa pemilihan tema psikologi kali ini muncul secara spontan dalam waktu singkat.

Laman Ceria #15 tidak membatasi peserta berdasarkan usia maupun latar belakang tertentu. Berdasarkan pemaparan penyelenggara, peserta yang hadir terdiri atas mahasiswa dan  masyarakat sekitar. Keterbukaan ini sejalan dengan alasan komunitas menggratiskan seluruh rangkaian kegiatan. Penyelenggara menegaskan bahwa mencari ilmu semestinya dapat dilakukan seluas dan sebanyak mungkin, tanpa terhalang biaya.

“Yang saya tahu dari pemilik ruang ini, mencari ilmu itu harus sebanyak mungkin. Karena dari sini kita meningkatkan literasi, juga meningkatkan pengetahuan,” jelas penyelenggara, sembari menyebut bahwa Ruang Literasi Kaliurang memang secara khusus disediakan sebagai wadah bagi masyarakat umum untuk melakukan berbagai aktivitas positif, termasuk mendukung gerakan literasi nasional yang lebih luas.

Meski dinilai berjalan lancar dan mendapat respons positif, penyelenggara mengakui adanya kendala dalam upaya memperluas jangkauan peserta. Menurutnya, pengunjung yang datang ke Laman Cerita masih didominasi oleh wajah-wajah yang sama dari edisi ke edisi, sehingga dibutuhkan strategi penyebaran informasi yang lebih masif untuk menjangkau peserta baru.

“Orang-orang yang datang cenderung masih orang yang sama. Kita butuh orang baru untuk ikut berpartisipasi,” ungkap penyelenggara, sembari menduga bahwa penyebaran informasi mengenai kegiatan ini masih perlu ditingkatkan.

Menyambut keberlanjutan Laman Cerita, penyelenggara mengungkapkan sejumlah rencana pengembangan, “Stay tune, ada gebrakan yang mau kita siapkan,” ujar penyelenggara tanpa merinci lebih lanjut bentuk pengembangan yang dimaksud.

Sementara itu, di sisi peserta, harapan yang muncul umumnya seragam, yaitu agar kegiatan Laman Cerita dapat terus berlangsung secara konsisten, menjaring lebih banyak peserta baru, serta menghadirkan variasi tema yang lebih beragam di luar psikologi dan novel yang sudah pernah diangkat.

“Semoga kegiatannya bisa berjalan lebih lama, supaya meningkatkan minat baca untuk anak-anak sekarang,” ujar salah satu peserta menutup sesi wawancara.

Dengan konsistensi yang telah dijaga hingga edisi ke-15, Laman Cerita diharapkan dapat terus menjadi ruang belajar informal yang menumbuhkan minat baca, memperkuat kemampuan berpikir kritis, serta membangun relasi sosial masyarakat Kaliurang secara inklusif tanpa dipungut biaya.