Apakah Ada Manusia di Dalam Sistem Pendidikan Saat ini?

Oleh Rayhana Arfa A.

Membahas pendidikan memang tak akan ada habisnya. Apalagi, saat proses belajar mengajar – perkuliahan dilaksanakan dalam jaringan seperti saat ini. Kami mencoba untuk membahas ihwal tersebut melalui wawancara dalam jaringan (Daring) pada (12/03) dengan Ben K. C. Laksana. Seorang pemerhati pendidikan juga penulis yang beberapa waktu silam menuliskan serial esai tentang pendidikan di salah satu laman web. 

Saat itu wawancara dimulai dengan membahas perihal banking education yang mana menurut Ben, banking education tak jauh berbeda seperti memberi uang di bank. Ketika kita memasukkan uang tersebut, pihak bank hanya menerima tanpa mengajukan pertanyaan seperti, ‘Loh kok cuma masukin 100 perak?’ atau ‘loh kok cuma 1000?’. Saat banking seperti ini, bank hanya akan mengatakan pada dirinya sendiri, ‘udah terima aja’. Sekiranya itulah yang sering terjadi dalam proses pembelajaran di dalam kelas hingga saat ini.

Menjawab Pertanyaan: Mengapa Hal – Hal Seperti Ini Terus Terjadi? 

Lantas poin inilah yang seringkali luput oleh banyak orang karena menurut Ben, banyak di antara kita terlalu termakan perspektif tujuan pendidikan yang telah terbentuk (Banking). Padahal dalam pendidikan haruslah terdapat proses berpikir dan mempertimbangkan awal mula adanya-sebuah-konsep. 

Misalkan Dulu saat diajarkan materi tentang demokrasi, guru di sekolah hanya memberitahu pengertian, penemu, dan lain sebagainya yang kemudian siswa diminta untuk menghafalkannya lantas hafalan itu akan diuji saat ujian.

Sedangkan, guru seharusnya dapat membuat siswa bertanya atau tahu tentang bagaimana kemudian kita sebagai manusia yang demokratis punya kegelisahan terhadap sesuatu misal; terhadap masyarakat, negara atau pemerintah.

Proses belajar seperti di atas hanya bisa terjadi jika guru atau dosen sebagai ujung tombak dari sistem pendidikan sudah bisa membedakan mana pengetahuan dan informasi adalah dua hal yang berbeda. Sebab pengetahuan merupakan gabungan informasi yang lebih konseptual sedangkan, informasi adalah potongan dari fakta-fakta. Singkatnya pengetahuan adalah kumpulan dari fakta-fakta tersebut yang, bertujuan agar siswa, mahasiswa dapat memikirkan dan mempertimbangkan munculnya sebuah konsep.

***

Tujuan pendidikan yang seharusnya dipahami oleh masyarakat luas menurut Ben ialah pendidikan yang memanusiakan-manusia. “Ki Hajar Dewantara, dari Nadiem Makarim sampai presiden Jokowi, siapapun pasti pake kata kata tersebut untuk mendorong satu konsep tentang pendidikan gitu ya,” tambah Ben.

Namun jika dilihat kembali dalam proses pendidikan saat ini yang, cenderung mengadopsi sistem banking education justru akan menghilangkan nilai kemanusiaan itu sendiri, misalkan saja ketika siswa atau mahasiswa merasa dirinya bodoh di kelas, mereka justru-hanya akan diam dan menerima.

Jika hal seperti itu terjadi terus menerus menjadikan siswa atau mahasiswa akan menjadi anti kemanusiaan. “Pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang suka bertanya,” tambah Ben.

Tak hanya itu. Menurut Ben terdapat beberapa hal yang tidak diajarkan di kelas dan hal-ihwal tersebut saling berkelindan dengan alasan – alasan dibalik mengapa kita sebagai manusia harus melakukan ini dan itu. Contohnya ‘Kenapa kerja harus 8 jam perhari?’ ‘kenapa kerja harus kayak gini?’ ‘kenapa jatah cuti dikurangi atau dihilangkan?,’ ihwal seperti itu yang seharusnya diajarkan di dalam kelas sehingga tujuan memanusiakan-manusia itu dapat tercapai dan siswa, mahasiswa bisa menjadi lebih kritis serta berani untuk membicarakan kegelisahannya di ruang lingkup yang lebih luas.

“Menurut saya sebagai manusia gitu ya, justru kita ingin juga memiliki kebebasan, bukan hanya sekedar mendefinisikan hidup tetapi, juga kebebasan untuk tidak memikirkan dan untuk tidak bekerja. Itu kenapa misalnya hari sabtu minggu itu libur gitu. Itu tujuannya bukan kayak ‘oh iya kamu bisa mengerjakan sisa sisa kerjaan yang kamu tidak beres dari senin sampai jumat’ enggak. Tujuannya yaitu agar kita berhenti bekerja dan tidak memikirkan kerja di dua hari tersebut,” jelas Ben.

Jika tujuan pendidikan hanya menjadikan hidup kita di dunia hanya untuk bekerja, maka pendidikan itu akan mematikan diri kita sebagai manusia sebab; manusia adalah makhluk yang sangat unik dan tidak bisa di sama ratakan satu dengan lainnya

“Bayangin aja sih, bayangin dirimu, tujuan hidupmu, tujuanmu lahir di dunia ini hanyalah kerja dari jam 9 sampai jam 5 pagi gitu kan ya. Bayangkan kamu selama berpuluh puluh tahun gitu dicekokin pengetahuan kayak gitu dan kamu percaya akan hal itu. Bayangkan bahwa semua hal yang kamu lakukan, bahkan bermain sama teman lagi di cafe atau nongkrong bareng temen atau bahkan leha leha di taman itu dibilang, ‘itu kamu cuma habisin waktu hidupmu’ karena kamu tidak bekerja atau tidak melakukan kegiatan kegiatan yang tujuannya agar bisa mendapatkan pekerjaan itu,” tutur Ben.

Tidak adanya kebebasan seperti ini kemudian akan berpengaruh terhadap kesehatan mental masing-masing individu. Hal ini karena tujuan pendidikan yang membuat kita hidup seakan haus dengan pekerjaan. Tidak lagi mengenal istirahat, liburan dan lain sebagainya karena dalam setahun pun jatah waktu per harinya lebih banyak dihabiskan untuk bekerja.

“Tau gak yang sering muncul di twitter? Misal; kok hidup gini gini banget ya? kok hidup cuma kayak gini gini banget. Kok hidup cuma kayak .. motor mobil atau naik kereta ke tempat kerja habis itu pulang jam 5, jam 6 sore, besok ulang lagi, besok ulang lagi, kayak nunggu cuti atau nunggu hari libur, atau nunggu hari apa gitu. Kok capek ya dunia? Dan itu mungkin alasannya juga kenapa kita punya banyak permasalahan mental,” ungkap Ben.

Pengaruh yang paling berdampak bagi pendidikan itu sendiri adalah akan ada berbagai macam pengetahuan yang tidak diajarkan di hidup ini karena manusia terlalu sibuk dengan tujuan akhir dari pendidikan, yaitu pekerjaan.

“Dan itu yang saya khawatirkan bahwa di dalam pendidikan kita, kalau kita hanya diajarkan untuk hal tersebut, kita akan sangat gagap untuk hidup,” ujar Ben.

Alternatif Untuk Sekolah, Kembali Kepada Komunitas Belajar

Melihat banyaknya dampak buruk dari tujuan pendidikan yang berorientasi pada pekerjaan sedangkan masih ada tujuan lain yang seharusnya menjadi sorotan utama, sudah seharusnya perubahan dimulai. Akan tetapi sangat sulit untuk mengubah persepsi yang sudah tertanam di setiap individu, pergerakan perubahan ini harus dilakukan dari hal yang paling kecil, yaitu lingkungan sekitar kita.

Melihat ada banyaknya ilmu yang tidak didapatkan di institusi pendidikan, dari lingkungan sekitar kita ini kemudian bisa membentuk kelompok belajar kecil. Selain itu, adanya komunitas-komunitas seperti sekolah alternatif itu juga membantu dalam hal mengembangkan pengetahuan dan cara pedagogi yang berbeda.

Ben sendiri sedari awal mengatakan ini adalah cara yang sangat kecil, sangat sulit dan bahkan keefektifannya pun tidak diketahui akan tetapi, usaha sekecil apapun itu haruslah dilakukan hingga perlahan menjadi kebiasaan bagi masing-masing individu. 

“Kita gak bisa bertumpu terhadap satu orang atau satu komunitas aja. Butuh komunitas komunitas lain, butuh individu individu lain agar bisa membawa ini agar menjadi suatu hal yang lumrah, yang keseharian, ketimbang hanya sekedar kegiatan kegiatan minoritas doang gitu,” jelas Ben.

Namun dengan adanya komunitas ini tidak lantas membuat kita diam dan membiarkan komunitas-komunitas itu untuk berusaha sendiri mengubah persepsi pendidikan yang sudah ada, karena persepsi ini sudah sangat kuat. Tidak akan mampu jika hanya diserahkan kepada komunitas saja.

Setali tiga uang dengan apa yang disampaikan Ben terkait komunitas, Syaikhu Usman dalam artikelnya menjelaskan konsep komunitas pembelajaran, sebab komunitas sedikit banyaknya selaras untuk pengembangan karakter karena orang-orang yang ada di dalamnya disatukan oleh tata nilai moral yang menjadi pilar dari kekuatan karakter. Anggota komunitas itu adalah guru, siswa, dan orang tua. Seluruh dari anggota komunitas harus menjalankan peran dan tanggung jawab yang dimilikinya. Tidak hanya itu, hubungan antar anggota pun harus saling percaya, menghormati, berbagi, serta aspirasi bersama dianggap sangat penting.

Lantas komunitas belajar dan sekolah alternatif seperti apa yang dikatakan di atas sejatinya sudah lama hadir dan lambat laun akan berkembang seiring perkembangan zaman. Sebut saja Sekolah Pamong yang tidak memiliki gedung dan membebaskan muridnya untuk belajar kapan saja dimana saja dan memungkinkan siswa untuk belajar secara kontekstual. Lantas Sekolah Wina yang dirintis Alfred Adler guna menghimpun pakar-pakar psikoanalisis. Tak luput Sasame Street School di New York, lokasinya pun berpindah-pindah dari satu daerah kumuh ke daerah kumuh lainnya dan hadir memberikan ruang bagi anak-anak jalanan di New York City (Sekolah Itu Candu. Hlm 14-17)


Reporter: Rayhana Arfa Amalia, Citra Mediant
Penyunting: Citra Mediant

Rujukan: 

  1. Topatimasang, Roem. 2020. Sekolah Itu Candu. Yogyakarta: INSISTPress.
  2. Diana, Lani. 2020. “Pandemi dan Lika-Liku Pembelajaran Jarak Jauh”. https://kognisia.co/lika-liku-pembelajaran-jarak-jauh/. Diakses 28/03/2021.
  3. Syifa, Wahidatu. 2020. “Jenus, Stress, Burnout: Implikasi Penerapan PJJ”. https://kognisia.co/sambat-sambat-pjj/.  Diakses 28/03/2021.
  4. Usman, Syaikhu. 2018. “Evolusi konsep pengajaran menjadi pendidikan di Indonesia”. https://theconversation.com/evolusi-konsep-pengajaran-menjadi-pendidikan-di-indonesia-103646. Diakses 29/03/2021. 
  5.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *