Thrift Shop: Pakaian Bekas yang Amat Berharga (I.II)

Oleh Wahyu W. Syifa

Respon positif atas kehadiran thrift shop sebagai alternatif dan solusi pasar mode yang mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan boleh jadi bertolak belakang jika dikaji dari perspektif ekonomi. Lantas seiring dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan sosial media, disambut baik oleh para penjual thrift shop yang menjadikan sosial media sebagai salah satu medium pemasaran untuk menjajakan barang mereka.

Salah satu sosial media yang banyak digunakan sebagai medium pemasaran adalah Instagram, hal ini juga dibuktikan melalui jumlah tagar postingan mengenai thrift shop. Setidaknya ada tujuh juta postingan bertagar #thrift, empat juta postingan bertagar #thriftshop pada Maret 2021, 845 ribu postingan bertagar #thriftshopping dan 529 ribu postingan bertagar #thriftshopindo. 

Setali tiga uang dengan perkembangan teknologi dan sosial media, menurut laporan penjualan yang diterbitkan ThredUp pada tahun 2019 sebesar 74% masyarakat dengan rentang usia 18 tahun hingga 29 tahun lebih memilih untuk membeli pakaian dari merek yang berkelanjutan (Sustainable).

Selain itu ThredUp juga melaporkan bahwa lebih dari satu dari tiga generasi Z akan membeli pakaian bekas dan 51% dari seluruh konsumen akan berencana untuk membeli lebih banyak pakaian bekas dalam rentang waktu lima tahun ke depan. Dengan begitu, pasar barang bekas akan mengalami peningkatan yang signifikan dari $24 miliar pada 2018 menjadi $51 miliar pada tahun 2023, hal ini dijelaskan oleh Kiera Rilley di dalam tulisannya bertajuk The thrift economy yang diterbitkan oleh statepress.com pada 17/03/20.

Pergeseran Nilai Thifting

Apa yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya menunjukkan bahwa kemunculan awal thrift shop ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah dewasa ini malah berbalik jadi lahan konsumsi bagi masyarakat menengah ke atas. Pakaian bekas menjadi lahan bisnis yang menjanjikan bagi masyarakat kelas menengah ke atas. 

Ihwal itu juga tercermin dalam hasil angket kami terkait thrift shop.  Dari data yang kami himpun tersebut, sekiranya ada tiga alasan teratas individu menjadi seorang penjual thrift shop. Pertama, 100% responden kami menyatakan bahwa menjual pakaian bekas bisa menambah penghasilan mereka. Kedua, 62,5% mendaku peduli lingkungan lantas memutuskan untuk menjual pakaian bekas. Ketiga, 37,5% persen responden kami juga beralasan bahwa menjual pakaian bekas dapat memperpanjang umur pakaian.    

Satu diantara mereka adalah Ziyad Padlillah, mahasiswa jurusan Ilmu Hukum juga penjual pakaian bekas yang merasakan adanya dampak positif berupa keuntungan yang tinggi dari hasil penjualan thrift shop. “Karena profit dari menjual pakaian bisa sampai 70% , lumayan menggiurkan.” Ujar Ziyad Padlillah.

Tak hanya Ziyad, seorang mahasiswa bernama Zaki juga merasakan hal serupa. Berawal dari hobi membeli pakaian bekas, kemudian berlanjut menjadi seorang penjual karena tergiur akan keuntungan yang bisa didapatkan dari hasil penjualan pakaian bekas tersebut. “Karena berawal dari hobi membeli pakaian bekas brand untuk dipakai sendiri lambat laun saya pikir hal ini bisa menguntungkan bagi saya dan akhirnya saya membuat thrift shop di 2017 lalu.” ujar Zaki. 

***

Esensi dari pakaian bekas lambat laun pun berubah menjadi koleksi juga identitas dalam berpakaian. Oleh karena itu secara tidak langsung, kehadiran thrift shop juga berdampak pada pergeseran nilai dari pakaian. Salah satu contohnya terdapat sebuah toko yang menjual kaos brand ternama dengan kondisi yang bagus dan dibanderol dengan harga 760 ribu rupiah, harga tersebut sangat jauh dengan modal pasaran yang hanya berkisar di angka 100 ribu rupiah, salah satu contoh tersebut dilansir dari tulisan yang bertajuk Ironi Thrift Store di Indonesia yang dituliskan oleh Muhammad Farhan Aulia dan diterbitkan oleh Mojok.co pada 21/11/20. 

Dampak dari pergeseran pakaian itu setidaknya dapat mengurangi alternatif pilihan yang sudah terbatas dalam hal pakaian yang disebabkan oleh rendahnya tingkat daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Selain itu, ketika masyarakat kelas menengah ke atas membeli pakaian bekas, bukan lagi karena nilai guna sebagai tujuan utamanya tetapi hanya sekadar mementingkan keunikan dan barang brand yang dijual dengan harga miring terlebih 75% konsumen yang berpartisipasi di angket kami menjadikan harga pakaian bekas yang relatif murah sebagai alasan untuk membeli pakaian di thrift shop. 

Berdasarkan persentase tersebut, harga yang murah menjadi alasan terkuat konsumen dalam membeli pakaian di thrift shop. Sedangkan mengurangi limbah pakaian menduduki posisi kelima sebesar 40% dan peduli lingkungan menduduki posisi keenam sebesar 25%. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pergeseran nilai dari esensi kehadiran thrift shop. 

Seraya dengan harga yang murah itu, pertimbangan brand terkenal dari sebuah pakaian bekas yang dijual. Ihwal itu tercermin dalam angket kami, setidaknya 40, 62% responden menjadikan brand  terkenal sebagai alasan untuk berbelanja pakaian bekas. Satu diantara mereka adalah Asyraf, mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi yang menjatuhkan pilihannya pada thrift shop dengan berusaha untuk mencari pakaian yang masih dalam kondisi baik dan  mempertimbangan sebuah brand terkenal  “Pilihlah kondisi yg sedikit minus, kalau bisa memilih brand dengan harga normalnya pakaian bekas” Ujar Asyraf. 

Fenomena tersebut seakan melunturkan konsep thrifting untuk menjaga lingkungan dengan mengurangi limbah tekstil, dan berdasarkan perbandingan dua sisi (tulisan satu dan dua) atas kemunculan thrift shop, maka perlu adanya pemutusan rantai sistematis berbentuk akomodasi keuntungan agar, iktikad baik untuk memelihara lingkungan tidak berakibat menguntungkan segelintir orang saja.

*Sebelumnya…


Daftar Rujukan:

  1. Aulia, M. (2020, 21 November). Ironi Thrift Store di Indonesia. https://mojok.co/terminal/ironi-thrift-store-di-indonesia/. Diakses pada 25 Februari 2021.
  2. Badan Pusat Statistik (2019). Pengeluaran Untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Per  Provinsi. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
  3. Cnbcindonesia.com. (2018, 11 April 2018) Citarum Terkotor di Dunia, Satu Pabrik Pencemar Ditindak. https://www.cnbcindonesia.com/news/20180411161149-4-10603/citarum-terkotor-di-dunia-satu-pabrik-pencemar-ditindak. Diakses pada 15 Februari 2021.
  4. Gafara, G. (2019) A Brief History of Thrifting. https://www.ussfeed.com/a-brief-history-of-thrifting/.  Diakses pada 18 Februari 2020.
  5. Prabaswari, dkk. (2020). Produksi Risiko Industri Fast Fashion Dalam Fenomena Thrifting di Kota Denpasar. Jurnal Ilmiah Sosiologi (SOROT). 1(1).
  6. Putri, V. (2019, 13 September) “Fast Fashion”, Budaya Konsumtif, dan Kerusakan Lingkungan. https://news.detik.com/kolom/d-4705049/fast-fashion-budaya-konsumtif-dan-kerusakan-lingkungan. Diakses pada 10 Februari 2021.
  7. Rao, P. (2019, 24 Desember) Battling the damaging effect of ‘fast fashion’. https://www.un.org/africarenewal/magazine/december-2019-march-2020/battling-damaging-effects-%E2%80%98fast-fashion%E2%80%99. Diakses pada 11 Februari 2021.
  8. Rilley,K .(2020, 17 Maret) The Thrift Economy. https://www.statepress.com/article/2020/03/spmagazine-the-thrift-economy#. Diakses pada 25 Februari 2021.
  9. Septalisa, L. (2020, 5 Desember) Thrifting, Antara Tren dan Kepedulian terhadap Isu Lingkungan. https://www.kompasiana.com/lunaseptalisa/5fc428bed541df5f4e3456b4/thrifting-antara-tren-dan-kepedulian-terhadap-isu-lingkungan?page=all. Diakses pada 18 Februari 2020.
  10. Sofiani, S. dan Saefuloh, D, Penggerak Niat Perilaku Pembelian Produk Fesyen Ramah Lingkungan dengan Teori Perilaku yang DIrencanakan. Industrial Research Workshop and National Seminar. Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *