Seaspiracy: Ironi Laut Lepas dan Makanan Laut

Oleh Citra Mediant

Awal tahun 2021, Seaspiracy hadir mewarnai jagat film dokumenter bertema lingkungan wabil khusus laut. Film yang ditayangkan Netflix ini diproduseri oleh Kip Andersen dan disutradarai oleh Ali Tabrizi seorang aktivis kelautan asal Inggris. Selain menjadi sutradara film Seaspiracy, Ali juga berperan dalam film tersebut. Selaku sutradara dan pemeran, Ali agaknya bertukus lumus memeras keringat untuk mengupas problematika kelautan dengan cukup komprehensif menggunakan metode reportase investigasi yang melibatkan organisasi non pemerintah seperti Sea Sharped dan mewawancarai beberapa peneliti seperti Mark Palmer dari International Marine Mammal Project (IMMP). Alhasil Seaspiracy berhasil mendulang 8.3/10 rating imdb dengan durasi 89 menit.

Melalui Seaspiracy pula Ali dapat menyajikan fakta bahwa; eksploitasi sumber daya alam tidak hanya terjadi di daratan saja tapi di laut juga terlebih, tidak ada yang bisa mengontrol laku  eksploitatif tersebut. Ali juga menyuguhkan beberapa scene menarik di dalam film tersebut, diantaranya saat ia menyambangi Pelabuhan ikan di Taiji, Jepang, yang mengepul ikan tuna dan hiu yang sudah dipotong siripnya. Lalu adegan saat ia mewawancarai mantan anak buah kapal (ABK) asal Thailand yang pernah menjadi ABK kapal penangkap ikan berskala besar atau kapal yang menjaring ikan dengan pukat.

Saat mewawancarai ABK, ia mendapati fakta bahwa ABK – ABK itu sering disiksa di tengah laut hingga tidak diberikan makanan dan upah yang layak. Lantas menurut wawancara yang dilakukan Ali dengan beberapa ABK itu beberapa di antara mereka meregang nyawa di laut lepas. Hal itu juga didukung oleh data yang disuguhkan Ali dalam Seaspiracy. Sekiranya ada sekitar 24.000 orang meregang nyawa ketika bekerja di lautan lepas terkhusus penangkap ikan, tiap tahunnya.

Melalui film itu pula Ali berargumen bahwa sedotan plastik hanya menyumbang setidaknya 0,03% sampah di lautan sedangkan sekitar 70% sampah plastik makro di lautan merupakan limbah dari kegiatan penangkapan ikan berskala masif seperti jaring, dan 46% nya berada di wilayah pasifik. Jaring-jaring itu setidaknya sudah meraup 90% ikan di lautan.

Ali juga menyambangi kepulauan Faroe yang memiliki tradisi menangkap paus untuk mereka konsumsi dan sempat mewawancarai salah satu penangkap paus di Faroe. Ia mendapati pengakuan menarik dari salah satu penangkap itu yang menyatakan bahwa, ia hanya ‘menangkap satu paus sedangkan orang membunuh seribu ayam dan telurnya.’

Mendebat Simpul

DI akhir film Ali menyimpulkan bahwa kurangnya pengawasan di lautan lepas menyebabkan tidak adanya kontrol atas penangkapan ikan berskala masif. Ali juga menyimpulkan bahwa kampanye ‘perikanan berkelanjutan’ dari wawancaranya dengan beberapa pihak itu tidak ada.

Dilalahnya kesimpulan dari film yang digarap Ali dengan sungguh itu menuai buah bibir dari beberapa pihak. Sebagaimana bantahan yang disampaikan oleh Mark Palmer bahwa pernyataannya di dalam Seaspiracy sudah di luar konteks sebab, ia hanya menjawab bahwa tidak ada jaminan atas tangkapan kapal di tengah laut dan menurut Mark, setidaknya berkat kampanye perikanan berkelanjutan yang ia dan lembaganya galakkan membuah kan hasil berupa penurunan angka kematian lumba-lumba sebanyak 95%.

Tak hanya Mark, Oceana sebagai salah satu organisasi non pemerintahan yang mengkampanyekan soal perlindungan laut juga menyangkal argumen Ali dengan menyatakan bahwa  apa yang disajikan Ali soal perikanan berkelanjutan tidak ada itu tidak sesuai dengan konteks berkelanjutan itu sendiri. Setali tiga uang dengan Mark dan Oceana, peneliti kelautan dari Universitas Exeter Prof. Callum Roberts juga menyatakan bahwa sajian Ali tidak sesuai dengan kaidah ilmiah.

Kesimpulan Ali di dalam film Seaspiracy seperti yang sudah penulis tulis dalam paragraf ke-8 juga disangkal Zuzy Anna, seorang peneliti kelautan di Universitas Padjadjaran melalui artikelnya yang diterbitkan oleh The Conversation beberapa waktu lalu. Menurutnya kesimpulan Ali adalah tindakan terburu-buru dan tidak mendasar.

Oleh karena itu Anna berargumen bahwa perikanan berkelanjutan adalah pengelolaan penangkapan ikan berbasis hasil tangkapan maksimal dan hanya mengambil kelebihan Ikan. Model hasil tangkapan maksimal itu merupakan bentuk integrasi biologi dan ekonomi. Anna juga tidak sepakat dengan ajakan Ali untuk tidak memakan ikan laut karena menurutnya, protein dari makanan laut adalah sumber protein yang dibutuhkan untuk masyarakat di negara miskin dan berkembang.

Di sisi lain, fakta yang sudah disuguhkan oleh Ali melalui scene di Seaspiracy perihal penangkapan ikan berskala masif, ancaman kerusakan ekosistem hingga limbah plastik yang mengancam ekosistem kelautan sedikit banyaknya diamini oleh Anne sebab, minimnya kontrol di lautan lepas menjadi salah satu penyebabnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *